AAP menyarankan anak yang sudah mampu meludah untuk mengeluarkan sisa pasta tanpa langsung membilas mulut dengan air, agar lapisan fluoride tetap berada pada permukaan gigi.
Selain menyikat gigi secara teratur, orang tua perlu memperhatikan kebiasaan sehari-hari yang dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi.
Beberapa kebiasaan yang perlu dihindari antara lain:
Permen, cokelat, biskuit manis, dan makanan yang mengandung gula tambahan dapat meningkatkan risiko karies jika dikonsumsi terlalu sering.
Bukan hanya jumlah gula yang perlu diperhatikan, tetapi juga frekuensi anak mengonsumsinya.
Orang tua sebaiknya membatasi camilan manis dan menyediakan pilihan makanan yang lebih sehat.
Minuman kemasan, teh manis, dan minuman berpemanis dapat meningkatkan paparan gula pada gigi.
Biasakan anak minum air putih sebagai pilihan utama di antara waktu makan.
Membiarkan anak tidur sambil mengisap botol berisi susu atau minuman manis dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi.
AAP menyarankan orang tua menghindari kebiasaan menidurkan anak dengan botol yang berisi minuman manis atau susu setelah gigi dibersihkan.
Menyikat gigi sebelum tidur merupakan kebiasaan yang sangat penting.
Jika sisa makanan dan plak tidak dibersihkan, risiko kerusakan gigi dapat meningkat.
Karena itu, pastikan kegiatan menyikat gigi malam menjadi bagian dari rutinitas sebelum anak tidur.
Orang tua sebaiknya tidak menunggu sampai anak mengeluh sakit gigi untuk melakukan pemeriksaan.
AAP merekomendasikan kunjungan pertama ke dokter gigi paling lambat ketika anak berusia satu tahun atau dalam waktu enam bulan setelah gigi pertama tumbuh.
Pemeriksaan dini membantu mendeteksi masalah kesehatan gigi dan membiasakan anak mengenal lingkungan pelayanan kesehatan gigi.
Segera konsultasikan apabila anak mengalami:
Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan menjelaskan bahwa gusi merah, bengkak, dan mudah berdarah dapat menjadi tanda gingivitis pada anak.
Jika terdapat pembengkakan wajah, demam yang menyertai sakit gigi, atau nyeri berat, segera cari pemeriksaan medis.
Jangan memberikan obat atau mengoleskan bahan tertentu pada gigi dan gusi anak tanpa rekomendasi tenaga kesehatan.
Jika anak terus menolak, orang tua perlu mengevaluasi kembali pendekatan yang digunakan.
Pertama, periksa apakah terdapat rasa sakit atau ketidaknyamanan pada gigi dan gusi.
Kedua, coba ganti sikat gigi apabila ukuran, bentuk, atau teksturnya tidak sesuai.
Ketiga, pilih pasta gigi berfluoride dengan rasa yang lebih dapat diterima anak.
Keempat, lakukan pengenalan secara bertahap, misalnya mulai dengan memperlihatkan sikat gigi, membiarkan anak memegangnya, lalu mendampingi proses menyikat.
Kelima, pertimbangkan konsultasi dengan dokter gigi anak apabila penolakan sangat kuat atau disertai ketakutan yang mengganggu perawatan kesehatan mulut.
Jika anak mempunyai sensitivitas sensorik atau kebutuhan perkembangan tertentu, pendekatan menyikat gigi mungkin perlu disesuaikan dengan rekomendasi tenaga profesional.
Membiasakan anak menyikat gigi bukan hanya tentang mengajarkan teknik membersihkan gigi, tetapi juga membentuk tanggung jawab terhadap kesehatan diri.
Anak membutuhkan contoh, pengulangan, dan pendampingan agar kegiatan tersebut menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Orang tua dapat memulainya dengan menyikat gigi bersama, memilih perlengkapan yang nyaman, memberikan penjelasan sederhana, serta mengapresiasi setiap kemajuan anak.
Selain itu, pola makan yang seimbang, pembatasan konsumsi gula, dan pemeriksaan gigi secara berkala juga perlu diperhatikan.
Jika anak menolak menyikat gigi, jangan langsung memarahinya. Cari tahu penyebabnya dan sesuaikan pendekatan dengan kebutuhan anak.
Pada akhirnya, kebiasaan menjaga kesehatan gigi yang dibangun sejak dini dapat membantu anak mempertahankan kesehatan mulut, merasa nyaman ketika makan, dan tumbuh dengan kebiasaan merawat diri yang lebih baik.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir