Apabila penolakan sekolah berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau mulai mengganggu perkembangan anak, orang tua sebaiknya mencari bantuan profesional.
Psikolog anak, psikiater anak dan remaja, atau tenaga kesehatan yang kompeten dapat membantu melakukan penilaian lebih menyeluruh.
Pendampingan profesional dapat membantu mengidentifikasi apakah penolakan sekolah berkaitan dengan kecemasan, depresi, pengalaman traumatis, kesulitan perkembangan, atau masalah lainnya.
Salah satu pendekatan yang memiliki dukungan penelitian untuk penanganan kecemasan terkait penolakan sekolah adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT).
Pendekatan ini membantu anak mengenali pikiran dan perasaan yang memicu kecemasan, mengembangkan keterampilan menghadapi situasi sulit, serta membangun proses kembali ke sekolah secara terstruktur.
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry menekankan pentingnya kerja sama antara keluarga, sekolah, dan tenaga profesional dalam membantu anak kembali mengikuti pembelajaran.
Tidak semua anak yang sekali atau dua kali menolak sekolah membutuhkan penanganan psikologis.
Namun, orang tua perlu lebih waspada jika penolakan terjadi berulang kali dan mulai memengaruhi kehidupan anak.
Beberapa kondisi yang perlu menjadi perhatian antara lain:
American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org menyarankan orang tua mencari bantuan profesional apabila penolakan sekolah berlangsung lebih dari satu minggu.
Sementara itu, AACAP menekankan perlunya evaluasi ketika ketakutan anak menetap atau mengganggu fungsi kehidupannya.
Orang tua tidak perlu menunggu satu minggu apabila anak menunjukkan kecemasan sangat berat, mengalami kekerasan, atau mengungkapkan keinginan menyakiti diri. Kondisi tersebut memerlukan bantuan segera.
Penanganan penolakan sekolah akan lebih efektif jika tidak hanya dibebankan kepada keluarga.
Orang tua dan sekolah perlu membangun komunikasi agar penyebab masalah dapat diidentifikasi dan solusi dapat disusun secara bersama.
Berikut pembagian peran yang dapat dilakukan.
| Orang Tua | Pihak Sekolah |
|---|---|
| Mendengarkan keluhan anak | Mengamati perubahan perilaku anak |
| Memantau kondisi kesehatan dan emosi | Menyediakan lingkungan belajar yang aman |
| Menjaga rutinitas di rumah | Mengidentifikasi masalah pertemanan dan pembelajaran |
| Berkomunikasi dengan wali kelas | Memberikan pendampingan sesuai kebutuhan |
| Mengikuti rekomendasi profesional | Berkoordinasi dengan keluarga dan tenaga ahli |
Kerja sama tersebut penting karena penyebab penolakan sekolah bisa berasal dari berbagai situasi yang tidak selalu terlihat ketika anak berada di rumah.
Penelitian Leduc dkk. (2024) dalam jurnal Child Psychiatry and Human Development juga menunjukkan bahwa faktor individual, sosial, dan lingkungan mempunyai keterkaitan dengan penolakan sekolah. Karena itu, penanganannya perlu melihat kondisi anak secara menyeluruh, bukan hanya menilai perilaku anak secara terpisah.
Ketika anak menolak berangkat sekolah, orang tua memang perlu memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi tanggung jawab yang harus dijalankan. Namun, tanggung jawab tersebut tidak berarti mengabaikan kondisi emosional anak.
Penolakan sekolah dapat menjadi tanda bahwa ada kebutuhan atau persoalan yang belum terpenuhi, baik dalam lingkungan keluarga, hubungan sosial, maupun proses pembelajaran.
Memarahi anak mungkin dapat membuatnya berangkat pada hari itu, tetapi belum tentu menyelesaikan alasan yang membuatnya takut kembali ke sekolah.
Karena itu, orang tua perlu menggabungkan sikap empati dengan pendampingan yang konsisten. Anak perlu didengarkan, kondisi kesehatannya diperhatikan, dan masalah di sekolah ditelusuri bersama pihak terkait.
Jika diperlukan, bantuan psikolog atau tenaga profesional dapat menjadi bagian dari proses pemulihan.
Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukan sekadar memastikan anak hadir di sekolah setiap pagi, melainkan membantu anak merasa aman, berkembang, dan mampu menjalani proses pendidikan dengan baik.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir