Parenting
M. Panji Maulana

Anak Tiba-Tiba Tidak Mau Berangkat Sekolah? Kenali Penyebab dan Cara Menghadapinya

Anak Tiba-Tiba Tidak Mau Berangkat Sekolah? Kenali Penyebab dan Cara Menghadapinya

08 November 2026 | 09:02

KebonCinta.com – Tidak semua anak bersemangat ketika waktunya berangkat sekolah. Ada anak yang tiba-tiba menangis saat mengenakan seragam, mengeluh sakit perut setiap pagi, meminta izin untuk tidak masuk, bahkan menolak keluar rumah meskipun orang tuanya sudah membujuk berkali-kali.

Situasi seperti ini sering membuat orang tua kebingungan. Sebagian menganggap anak sedang malas, mencari perhatian, atau sengaja menghindari tanggung jawab. Padahal, penolakan untuk berangkat sekolah bisa berkaitan dengan berbagai persoalan, mulai dari kecemasan berpisah dengan orang tua, kesulitan beradaptasi, masalah pertemanan, hingga tekanan akademik.

Dalam psikologi, pola penolakan sekolah yang berkaitan dengan tekanan emosional dikenal sebagai school refusal. Kondisi ini bukan sekadar perilaku membangkang dan bukan pula diagnosis gangguan tersendiri. Penolakan sekolah merupakan pola perilaku yang perlu dipahami berdasarkan penyebab dan kondisi anak.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memarahi atau memberikan hukuman. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencari tahu apa yang membuat anak merasa tidak nyaman ketika harus berangkat sekolah.

Lantas, mengapa anak tiba-tiba tidak mau sekolah? Bagaimana membedakan anak yang sedang malas dengan anak yang mengalami kecemasan sekolah? Berikut penyebab, tanda-tanda, dan cara orang tua membantu anak kembali merasa aman dan nyaman menjalani kegiatan belajar.

Apa Itu School Refusal pada Anak?

School refusal merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku anak yang mengalami kesulitan atau penolakan untuk menghadiri sekolah karena adanya tekanan emosional, kecemasan, atau pengalaman tertentu yang membuatnya merasa tidak nyaman.

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP) menjelaskan bahwa penolakan sekolah dapat berkaitan dengan kecemasan, khususnya kecemasan berpisah dari orang tua, masalah pertemanan, perundungan, depresi, maupun kesulitan belajar.

Kondisi ini dapat terlihat melalui berbagai perilaku, seperti menangis sebelum berangkat, meminta terus-menerus untuk tinggal di rumah, mengalami kepanikan, atau mengeluhkan gangguan fisik ketika waktu sekolah tiba.

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa keluhan fisik anak tidak selalu dibuat-buat. Kecemasan dapat menimbulkan respons tubuh, seperti sakit kepala, sakit perut, mual, pusing, dan jantung berdebar.

Dalam beberapa kasus, keluhan tersebut muncul menjelang keberangkatan sekolah, kemudian berkurang ketika anak diperbolehkan tinggal di rumah.

Namun, orang tua tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa keluhan tersebut hanya disebabkan oleh kecemasan. Pemeriksaan kesehatan tetap diperlukan apabila anak mengalami gejala fisik.

Selain itu, school refusal perlu dibedakan dari kebiasaan membolos atau truancy. Anak yang mengalami school refusal umumnya menunjukkan tekanan emosional ketika harus bersekolah dan orang tua sering mengetahui penolakannya. Sementara itu, membolos dapat dilakukan secara sengaja tanpa sepengetahuan orang tua dan tidak selalu disertai kecemasan.

Perbedaan tersebut penting karena pendekatan penanganannya juga tidak sama.

Mengapa Anak Tiba-Tiba Tidak Mau Berangkat Sekolah?

Tidak ada satu penyebab yang berlaku untuk semua anak. Penolakan sekolah dapat muncul akibat kombinasi faktor psikologis, keluarga, lingkungan sekolah, dan pengalaman belajar.

Penelitian Lestari dan Nursalim (2020) dalam Jurnal BK UNESA mengidentifikasi beberapa faktor yang berkaitan dengan school refusal pada anak sekolah dasar, antara lain kecemasan berpisah, pola asuh orang tua, pengalaman buruk atau traumatis, kesulitan akademik, dan kondisi ekonomi keluarga.

Berikut beberapa penyebab yang perlu diperhatikan orang tua.

1. Anak Mengalami Kecemasan Berpisah dari Orang Tua

Kecemasan berpisah atau separation anxiety merupakan salah satu faktor yang sering berkaitan dengan penolakan sekolah, khususnya pada anak usia dini dan sekolah dasar.

Anak mungkin merasa takut ketika harus meninggalkan rumah, berpisah dengan ibu atau ayah, dan berada di lingkungan yang tidak familiar.

Perilaku tersebut dapat terlihat ketika anak terus memeluk orang tua, menangis saat ditinggalkan, meminta ditemani sampai kelas, atau khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi ketika orang tua tidak berada di dekatnya.

Kondisi ini dapat muncul ketika anak pertama kali masuk sekolah, berpindah sekolah, atau kembali mengikuti pembelajaran setelah libur panjang.

Orang tua perlu memahami bahwa anak sedang belajar menghadapi proses perpisahan dan membangun rasa aman di lingkungan baru.

2. Anak Mengalami Masalah dengan Teman Sebaya

Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga lingkungan sosial tempat anak membangun hubungan dengan teman sebaya.

Pengalaman tidak menyenangkan seperti dikucilkan, diejek, tidak diterima dalam kelompok, atau mengalami konflik pertemanan dapat membuat anak kehilangan kenyamanan untuk datang ke sekolah.

Pada beberapa anak, persoalan tersebut tidak selalu disampaikan secara langsung. Mereka mungkin hanya mengatakan tidak suka sekolah tanpa menjelaskan alasan sebenarnya.

Jika penolakan muncul setelah anak mengalami perubahan dalam hubungan pertemanan, orang tua perlu mencari tahu apakah terdapat konflik sosial yang belum terselesaikan.

3. Anak Mengalami Perundungan atau Bullying

Perundungan dapat menjadi salah satu penyebab serius anak menghindari sekolah.

Anak yang mengalami bullying mungkin merasa takut bertemu dengan pelaku, khawatir dipermalukan di depan teman-temannya, atau tidak merasa aman ketika berada di lingkungan sekolah.

Dampaknya tidak selalu terlihat melalui luka fisik. Perundungan verbal, sosial, dan digital juga dapat menimbulkan tekanan emosional.

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry menjelaskan bahwa pengalaman perundungan, termasuk perundungan daring, mempunyai hubungan dengan perilaku menghindari sekolah serta meningkatnya gejala kecemasan dan depresi.

Karena itu, apabila anak mulai menolak sekolah setelah mengalami perubahan perilaku atau hubungan sosial, orang tua perlu memeriksa kemungkinan adanya perundungan.

4. Anak Takut Gagal atau Mendapat Nilai Buruk

Tekanan akademik juga dapat membuat anak kehilangan keinginan untuk bersekolah.

Sebagian anak merasa harus selalu memperoleh nilai tinggi, menyelesaikan tugas dengan sempurna, atau memenuhi harapan orang tua dan guru.

Ketika mengalami kesulitan memahami pelajaran, mereka dapat merasa malu, takut dimarahi, atau khawatir dianggap tidak pintar.

Kecemasan tersebut bisa membuat anak menghindari situasi yang dianggap mengancam, termasuk ujian, presentasi, atau kegiatan belajar tertentu.

Orang tua perlu memperhatikan apakah penolakan sekolah muncul menjelang ujian, setelah memperoleh nilai rendah, atau ketika anak menghadapi mata pelajaran tertentu.

5.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 4
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting Anak Tidak Mau Sekolah school refusal Psikologi Anak Pola Asuh Pendidikan Anak

Komentar Pengguna