Pendengaran mempunyai peran penting dalam perkembangan bahasa anak.
Bayi dan anak belajar mengenali bunyi, memahami kata, serta meniru ucapan melalui suara yang didengar dari lingkungan sekitarnya.
Jika terdapat gangguan pendengaran, anak mungkin kesulitan menangkap dan memproses informasi verbal sehingga perkembangan bahasa ikut terpengaruh.
Sebagian gangguan pendengaran dapat muncul sejak lahir, sedangkan sebagian lainnya berkembang setelah anak mengalami kondisi kesehatan tertentu.
Karena itu, pemeriksaan pendengaran merupakan salah satu bagian penting dalam evaluasi anak yang mengalami keterlambatan bicara.
Sebagian anak mengalami kesulitan memahami atau menggunakan bahasa meskipun kemampuan pendengarannya tidak mengalami gangguan.
Salah satu kondisi yang dapat berkaitan dengan keterlambatan bahasa adalah Developmental Language Disorder (DLD).
Anak dengan kondisi tersebut dapat mengalami kesulitan mempelajari kosakata, memahami kalimat, menyusun kata, atau menyampaikan gagasan.
Pemeriksaan oleh tenaga profesional diperlukan untuk mengetahui aspek bahasa yang mengalami hambatan.
Keterlambatan bicara terkadang muncul bersama kondisi perkembangan lainnya, termasuk gangguan spektrum autisme atau kondisi perkembangan saraf tertentu.
Pada anak dengan autisme, kesulitan komunikasi dapat melibatkan kemampuan menggunakan bahasa dalam interaksi sosial, memahami isyarat komunikasi, dan berbagi perhatian.
Namun, anak yang terlambat bicara tidak otomatis mengalami autisme.
Diagnosis membutuhkan pemeriksaan menyeluruh terhadap perkembangan komunikasi sosial, perilaku, interaksi, serta aspek perkembangan lainnya.
Kemampuan berbicara membutuhkan koordinasi antara otak, sistem saraf, otot, dan organ yang terlibat dalam produksi suara.
Gangguan pada struktur atau fungsi organ bicara dapat menyebabkan anak kesulitan menghasilkan bunyi atau mengucapkan kata dengan jelas.
Beberapa kondisi yang perlu diperiksa meliputi gangguan gerakan otot bicara, kelainan struktur rongga mulut, atau masalah koordinasi saat menghasilkan suara.
Interaksi langsung dengan orang tua dan lingkungan mempunyai peran penting dalam perkembangan bahasa.
Anak membutuhkan kesempatan untuk mendengarkan percakapan, meniru suara, merespons pertanyaan, dan menggunakan kata dalam situasi sehari-hari.
Jika kesempatan berinteraksi sangat terbatas, stimulasi komunikasi yang diterima anak mungkin tidak optimal.
Namun, kurangnya interaksi bukan satu-satunya penyebab keterlambatan bicara. Orang tua tidak boleh menyalahkan diri sendiri atau menganggap semua kasus terjadi karena pola asuh.
Penggunaan televisi, telepon genggam, atau tablet yang berlebihan dapat mengurangi waktu anak untuk berinteraksi secara langsung apabila layar menggantikan percakapan dan kegiatan bermain bersama orang tua.
Anak belajar bahasa melalui respons dua arah, seperti melihat ekspresi, mendengarkan ucapan, meniru suara, dan memperoleh tanggapan ketika mencoba berkomunikasi.
Karena itu, konten edukatif di layar tidak dapat sepenuhnya menggantikan interaksi langsung dengan orang tua.
Keterlambatan bicara juga dapat berkaitan dengan keterlambatan perkembangan secara umum, kondisi neurologis, atau faktor medis tertentu.
Dalam beberapa kasus, keterlambatan bahasa merupakan bagian dari kondisi yang melibatkan beberapa aspek perkembangan sekaligus.
Karena penyebabnya beragam, pemeriksaan perlu dilakukan agar penanganan tidak hanya berfokus pada kemampuan mengucapkan kata.
Sebagian orang tua khawatir bahwa penggunaan dua bahasa atau lebih di rumah dapat membuat anak terlambat berbicara.
Misalnya, keluarga menggunakan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, penggunaan lebih dari satu bahasa tidak dengan sendirinya menyebabkan gangguan perkembangan bahasa.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan multibahasa dapat mempelajari beberapa bahasa sekaligus. Kosakata yang dikuasai mungkin tersebar pada bahasa yang berbeda, sehingga penilaiannya perlu mempertimbangkan seluruh bahasa yang digunakan anak.
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menyarankan orang tua tetap berbicara kepada anak menggunakan bahasa yang paling nyaman dan dikuasai keluarga.
Orang tua tidak perlu menghentikan penggunaan bahasa daerah atau bahasa keluarga hanya karena khawatir anak akan mengalami keterlambatan bicara.
Apabila terdapat kekhawatiran, sampaikan seluruh bahasa yang digunakan di rumah kepada dokter atau terapis wicara agar evaluasi dilakukan secara tepat.
Orang tua mempunyai peran penting dalam memberikan kesempatan komunikasi setiap hari.
Stimulasi dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana yang menyenangkan dan disesuaikan dengan usia anak.
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan.
Jangan menunggu anak mampu mengucapkan kata terlebih dahulu untuk mulai mengajaknya berbicara.
Orang tua dapat menjelaskan kegiatan yang sedang dilakukan, seperti mandi, makan, berpakaian, atau bermain.
Contohnya:
"Kita mau mandi, ya."
"Ini baju warna biru."
"Sekarang kita makan nasi."
Gunakan kalimat yang sederhana, jelas, dan sesuai dengan aktivitas anak.
Membacakan buku merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan kosakata baru.
Pilih buku bergambar dengan objek yang mudah dikenali anak, seperti hewan, kendaraan, makanan, dan anggota keluarga.
Ajak anak menunjuk gambar, menyebutkan nama benda, atau menirukan suara hewan.
Misalnya, ketika melihat gambar kucing, orang tua dapat mengatakan, "Ini kucing. Kucing bilang meong."
Tidak perlu memaksa anak menyebutkan seluruh kata. Biarkan kegiatan membaca menjadi pengalaman interaksi yang menyenangkan.
Ketika anak menunjuk atau mengeluarkan suara untuk meminta sesuatu, jangan selalu langsung memberikan apa yang diinginkan tanpa interaksi.
Orang tua dapat menyebutkan nama benda dan memberikan kesempatan anak merespons.
Misalnya, ketika anak menunjuk air minum, orang tua dapat mengatakan, "Mau minum?"
Berikan jeda agar anak mempunyai kesempatan menggunakan suara, gestur, atau kata.
Jika anak belum mampu mengucapkan kata, tetap hargai bentuk komunikasi yang sudah dapat dilakukannya.
Anak membutuhkan contoh bahasa yang dapat dipahami dan ditiru.
Gunakan kalimat sesuai kemampuan anak, kemudian tingkatkan panjang kalimat secara bertahap.
Jika anak mengatakan "bola", orang tua dapat mengembangkan menjadi "bola merah" atau "bola besar".
Jika anak mengatakan "mau susu", orang tua dapat merespons, "Kamu mau minum susu."
Cara ini membantu anak mengenal kosakata dan struktur kalimat melalui percakapan alami.
Permainan dapat menjadi sarana belajar bahasa yang menyenangkan.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:
Orang tua sebaiknya mengikuti minat anak dan memberikan kesempatan untuk bergantian dalam bermain.
Batasi penggunaan televisi dan gawai agar tidak menggantikan waktu bermain serta percakapan langsung.
Jika anak menonton konten edukatif, dampingi dengan mengajak berbicara mengenai apa yang dilihat.
Misalnya, ketika muncul gambar buah, orang tua dapat menyebutkan nama buah dan mengajak anak menunjuk atau menirukan katanya.
Untuk anak usia di bawah dua tahun, interaksi langsung lebih diutamakan daripada penggunaan media layar, kecuali komunikasi video bersama keluarga dengan pendampingan.
Ketika anak mencoba mengucapkan kata meskipun belum jelas, berikan respons yang mendukung.
Hindari mengejek, memarahi, atau terus-menerus memaksa anak mengulang kata yang salah.
Jika anak menyebut "cucu" untuk susu, orang tua dapat merespons dengan mengucapkan kata yang benar secara alami:
"Oh, kamu mau susu? Ini susunya."
Dengan demikian, anak mendapatkan contoh pengucapan yang benar tanpa merasa dipermalukan.
Sediakan waktu khusus untuk bermain dan berbicara bersama anak tanpa terganggu oleh telepon genggam, televisi, atau pekerjaan lainnya.
Tidak perlu terlalu lama.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir