Parenting
M. Panji Maulana

Anak Susah Makan dan Suka Pilih-Pilih Makanan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Anak Susah Makan dan Suka Pilih-Pilih Makanan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

08 November 2026 | 10:13

KebonCinta.com – Waktu makan sering menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian orang tua. Ada anak yang hanya mau makan nasi dan telur, menolak sayuran, tidak menyukai makanan dengan tekstur tertentu, atau langsung menutup mulut ketika disajikan menu baru.

Tidak sedikit pula orang tua yang harus menghabiskan waktu cukup lama untuk membujuk anak agar mau makan. Bahkan, sebagian keluarga sampai membuatkan menu berbeda karena anak hanya bersedia mengonsumsi makanan kesukaannya.

Kebiasaan tersebut dikenal dengan istilah picky eating, yaitu perilaku memilih-milih makanan berdasarkan rasa, tekstur, aroma, warna, atau jenis makanan tertentu.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), perilaku pilih-pilih makanan cukup sering ditemukan pada anak usia 1–3 tahun. Pada fase ini, anak mulai mengembangkan preferensi terhadap makanan dan terkadang menolak makanan yang sebelumnya pernah disukai.

Namun, orang tua perlu memahami bahwa tidak semua anak yang susah makan mengalami kondisi yang sama. Ada anak yang masih mempunyai pola makan cukup beragam meskipun sesekali menolak menu tertentu. Ada pula anak yang hanya menerima kelompok makanan sangat terbatas sehingga berisiko mengalami kekurangan zat gizi.

Karena itu, memaksa anak menghabiskan makanan bukanlah solusi yang tepat. Orang tua perlu memahami penyebabnya, membangun rutinitas makan yang baik, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenal berbagai jenis makanan secara bertahap.

Lantas, mengapa anak suka pilih-pilih makanan? Bagaimana cara mengatasinya tanpa membuat waktu makan menjadi pertengkaran? Berikut penjelasan mengenai penyebab, cara mengatasi, serta tanda kesulitan makan yang perlu diperiksakan.

Apa Itu Picky Eating pada Anak?

Picky eating merupakan perilaku memilih-milih makanan berdasarkan preferensi tertentu. Anak mungkin hanya menyukai makanan dengan rasa, warna, aroma, atau tekstur yang sudah dikenalnya.

Contohnya, anak hanya mau makan ayam goreng tetapi menolak ayam yang direbus, menyukai buah pisang tetapi tidak mau mencoba pepaya, atau bersedia makan wortel ketika dicampurkan ke dalam makanan tertentu tetapi menolaknya ketika disajikan secara terpisah.

IDAI menjelaskan bahwa perilaku memilih makanan termasuk dalam kelompok food preference, yaitu kecenderungan anak menyukai atau menolak makanan tertentu.

Salah satu bentuk yang dapat terjadi pada masa perkembangan adalah food neophobia, yaitu ketakutan atau penolakan terhadap makanan yang belum dikenal.

Perilaku tersebut dapat muncul ketika anak mulai mempunyai kemampuan memilih makanan sendiri. Namun, jika penolakan berlangsung terus-menerus dan semakin membatasi variasi makanan, kondisi tersebut perlu diperhatikan.

IDAI juga membedakan antara picky eater dan selective eater.

Picky eater merupakan anak yang memilih makanan tertentu, tetapi masih bersedia mengonsumsi setidaknya satu jenis makanan dari berbagai kelompok, seperti karbohidrat, protein, sayur atau buah, dan susu.

Sementara itu, selective eater merupakan anak yang menolak seluruh jenis makanan dari kelompok tertentu. Misalnya, anak sama sekali tidak mau mengonsumsi sumber karbohidrat, baik nasi, roti, maupun mi.

Perbedaan tersebut penting karena penolakan makanan yang sangat terbatas dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi tertentu.

Dengan demikian, orang tua tidak cukup hanya memperhatikan banyak atau sedikitnya makanan yang dihabiskan. Jenis makanan yang diterima anak dan perkembangan pertumbuhannya juga perlu diperhatikan.

Mengapa Anak Susah Makan dan Suka Pilih-Pilih Makanan?

Kebiasaan memilih makanan dapat dipengaruhi oleh perkembangan anak, pengalaman makan, lingkungan keluarga, hingga kondisi kesehatan tertentu.

Berikut beberapa penyebab yang perlu diketahui orang tua.

1. Anak Sedang Mengembangkan Preferensi terhadap Makanan

Pada usia balita, anak mulai mengenali makanan yang disukai dan tidak disukai.

Mereka dapat menunjukkan ketertarikan pada makanan dengan rasa manis, tekstur lembut, atau bentuk tertentu. Sebaliknya, makanan dengan aroma menyengat atau tekstur yang belum dikenal mungkin langsung ditolak.

Perilaku ini dapat menjadi bagian dari perkembangan kemandirian anak.

Anak mulai ingin menentukan sendiri apa yang akan dimakan dan seberapa banyak makanan yang ingin dikonsumsi.

Orang tua perlu memberikan kesempatan untuk mengenal makanan baru tanpa menghilangkan tanggung jawab menyediakan menu yang bergizi.

2. Anak Belum Terbiasa dengan Rasa dan Tekstur Makanan Baru

Makanan yang belum pernah dicoba dapat terasa asing bagi anak.

Misalnya, anak yang terbiasa mengonsumsi makanan bertekstur lembut mungkin menolak makanan dengan tekstur lebih kasar atau berserat.

Begitu pula dengan sayuran yang mempunyai rasa pahit atau aroma berbeda dari makanan sehari-hari.

Penolakan pertama tidak selalu berarti anak tidak akan menyukai makanan tersebut selamanya.

CDC menjelaskan bahwa anak mungkin membutuhkan paparan berulang sebelum bersedia mencoba makanan baru. Dalam beberapa kasus, diperlukan sekitar 8–10 kali paparan sebelum anak mau mencobanya.

Karena itu, orang tua tidak perlu langsung menyerah ketika anak menolak satu jenis makanan.

3. Orang Tua Terlalu Sering Memaksa Anak Makan

Ketika anak tidak mau makan, sebagian orang tua merespons dengan membujuk berulang kali, mengancam, atau memaksa anak menghabiskan makanan.

Meskipun bertujuan agar kebutuhan gizi terpenuhi, tekanan saat makan justru dapat membuat anak semakin tidak nyaman.

Anak bisa menghubungkan waktu makan dengan pengalaman negatif, seperti dimarahi, dipaksa membuka mulut, atau terus-menerus diingatkan untuk menghabiskan makanan.

IDAI mengingatkan bahwa orang tua sebaiknya tidak memaksa atau memarahi anak yang menolak makanan.

Waktu makan perlu dibangun sebagai pengalaman yang menyenangkan agar anak mempunyai kesempatan mengenal makanan tanpa tekanan.

4. Anak Terlalu Banyak Mengonsumsi Camilan

Kebiasaan memberikan camilan terlalu dekat dengan waktu makan dapat membuat anak tidak merasa lapar ketika makanan utama disajikan.

Misalnya, anak sudah mengonsumsi biskuit, keripik, atau minuman manis sebelum makan siang. Akibatnya, ia hanya makan sedikit atau menolak makanan utama.

Orang tua perlu mengatur jadwal makan dan camilan agar anak mempunyai kesempatan merasakan siklus lapar dan kenyang secara alami.

Camilan tetap boleh diberikan, tetapi jenis dan waktunya perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta usia anak.

5.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 4
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting Anak Susah Makan Picky Eater Pola Makan Anak Gizi Anak Kesehatan Anak

Komentar Pengguna