KebonCinta.com – Anak susah makan merupakan salah satu persoalan yang sering membuat orang tua khawatir.
Ada anak yang hanya mau makan nasi putih, menolak lauk tertentu, atau selalu meminta makanan yang sama.
Sebagian anak juga menolak makanan yang sebelumnya disukai.
Keadaan tersebut dapat membuat waktu makan berubah menjadi situasi yang penuh tekanan.
Orang tua mungkin mencoba membujuk, memberikan hadiah, atau meminta anak menghabiskan makanan dengan berbagai cara.
Namun, memaksa anak makan bukan pendekatan yang dianjurkan untuk mengatasi kebiasaan memilih makanan.
National Health Service (NHS) Inggris menjelaskan bahwa anak yang menolak makanan sebaiknya tidak dipaksa. Orang tua dapat menjaga ketenangan dan menawarkan makanan tersebut kembali pada kesempatan lain.
Ada berbagai alasan yang dapat membuat anak menolak lauk.
Sebagian anak belum terbiasa dengan rasa atau tekstur makanan tertentu.
Misalnya, anak menyukai telur tetapi menolak ikan karena aromanya lebih kuat.
Ada pula anak yang merasa tidak nyaman ketika makanan mempunyai tekstur terlalu keras, lembek, atau berserat.
Selain itu, perubahan selera dan kebutuhan makan dapat terjadi selama masa pertumbuhan.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), perilaku pilih-pilih makanan cukup sering dijumpai pada anak usia dini.
Namun, penolakan makan yang berlangsung berat atau disertai masalah pertumbuhan tidak boleh langsung dianggap sebagai fase biasa.
Ketika anak menolak lauk, orang tua terkadang menganggap perilaku tersebut sebagai bentuk perlawanan.
Padahal, anak mungkin benar-benar belum nyaman dengan makanan yang disajikan.
Misalnya, seorang anak menolak ikan karena tidak menyukai aromanya.
Anak lain mungkin kesulitan mengunyah daging yang terlalu keras.
Karena itu, orang tua perlu mencoba memahami alasan penolakan.
Perhatikan apakah anak menolak semua lauk atau hanya makanan dengan karakteristik tertentu.
Informasi tersebut dapat membantu menentukan pendekatan yang lebih sesuai.
Memaksa anak menghabiskan makanan dapat membuat suasana makan semakin tidak menyenangkan.
Misalnya, orang tua terus menyuapkan makanan ketika anak sudah memalingkan wajah.
Keadaan tersebut berisiko menimbulkan konflik dan membuat anak semakin menolak kegiatan makan.
NHS menyarankan orang tua memberikan porsi kecil dan tidak memaksa ketika anak menolak.
Jika anak sudah kenyang atau menolak, orang tua dapat mengakhiri kegiatan makan dengan tenang sesuai pola makan yang telah disusun.
Namun, pendekatan tersebut tetap perlu disertai pemantauan asupan serta pertumbuhan.
Ketika memperkenalkan lauk yang belum disukai, jangan langsung memberikan satu porsi besar.
Orang tua dapat memulai dengan jumlah kecil yang sesuai usia.
Misalnya, anak yang belum menyukai ikan dapat diperkenalkan dengan satu potongan kecil ikan matang yang telah dipastikan aman dari duri.
Sajikan bersama makanan lain yang sudah dikenalnya.
Tujuannya adalah memberi kesempatan kepada anak mengenal makanan tanpa tekanan untuk langsung menghabiskannya.
Jika anak belum mau mencicipi, kesempatan pengenalan dapat dilakukan kembali pada waktu lain.
Anak mungkin membutuhkan beberapa kali pengalaman sebelum mau menerima suatu makanan.
CDC menjelaskan bahwa sebagian anak membutuhkan sekitar delapan sampai sepuluh kali paparan untuk mulai bersedia mencoba makanan baru.
Namun, angka tersebut bukan batas pasti yang berlaku untuk seluruh anak.
Ada anak yang menerima makanan setelah beberapa kesempatan, sementara lainnya membutuhkan waktu lebih panjang.
Karena itu, jangan menyimpulkan bahwa anak selamanya tidak menyukai suatu lauk hanya karena menolaknya sekali.
Tawarkan kembali dengan suasana yang tenang.
Namun, hindari memaksa anak mencicipi pada setiap kesempatan.
Baca Juga: Anak "Picky Eater" Parah: Jangan Dipaksa! Ini Trik Food Chaining agar Anak Mau Coba Makanan Baru
Anak mungkin menolak lauk bukan karena jenis makanannya, tetapi karena cara penyajiannya.
Misalnya, ayam rebus dengan potongan besar terasa sulit dikunyah.
Orang tua dapat mencoba menyajikannya dalam potongan lebih kecil atau bentuk lain yang sesuai.
Ikan dapat diolah menjadi hidangan yang aman dari duri, sedangkan telur dapat disajikan dengan variasi yang tetap matang dan aman.
Namun, metode pengolahan harus memperhatikan keamanan pangan dan usia anak.
Hindari potongan makanan yang berisiko menyebabkan tersedak.
Bagi anak yang masih kecil, tekstur dan ukuran potongan harus disesuaikan dengan perkembangan kemampuan mengunyah serta menelan.
Sebagian orang tua mencoba mencampurkan lauk ke dalam makanan lain agar anak mau mengonsumsinya.
Cara tersebut mungkin membantu variasi menu dalam situasi tertentu.
Namun, jangan menjadikannya satu-satunya strategi.
Anak tetap perlu memperoleh kesempatan mengenal bentuk, aroma, rasa, dan tekstur makanan secara bertahap.
Jika semua lauk selalu disembunyikan, anak mungkin tidak belajar menerima makanan tersebut ketika disajikan dalam bentuk aslinya.
Orang tua dapat memperkenalkan makanan melalui kegiatan melihat, menyentuh, atau membantu menyiapkannya tanpa tekanan.
Namun, kebutuhan makan dan risiko alergi tetap perlu diperhatikan.
Pola makan yang tidak teratur dapat memengaruhi selera makan anak.
Misalnya, anak sering mendapat camilan menjelang waktu makan utama.
Akibatnya, ketika nasi dan lauk disajikan, anak mungkin belum merasa lapar.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa jadwal makan yang tidak teratur serta jarak camilan yang terlalu dekat dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesulitan makan.
Karena itu, orang tua dapat membuat jadwal makan utama dan camilan yang sesuai usia serta kebutuhan anak.
Namun, jadwal tersebut tidak boleh diterapkan secara kaku pada bayi atau anak dengan kondisi kesehatan khusus.
Kebutuhan ASI, susu, dan makanan pendamping juga harus disesuaikan dengan tahap perkembangan.
Sebagian keluarga terbiasa memberikan ponsel atau video agar anak tetap duduk ketika makan.
Namun, penggunaan layar secara terus-menerus dapat mengurangi kesempatan anak memperhatikan makanan dan mengenali rasa kenyang.
American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren menyarankan kegiatan makan dilakukan secara terstruktur, bersama keluarga apabila memungkinkan, dan tanpa gangguan perangkat.
Orang tua dapat mengajak anak berbicara ringan mengenai kegiatan sehari-hari.
Jangan menjadikan waktu makan sebagai sesi ceramah atau pemeriksaan kesalahan anak.
Tujuannya adalah menciptakan suasana yang nyaman dan memungkinkan anak belajar menikmati makanan.
Anak belajar melalui pengamatan terhadap orang di sekitarnya.
Jika orang tua menikmati makanan yang beragam, anak memperoleh kesempatan melihat bahwa makanan tersebut merupakan bagian dari kebiasaan keluarga.
Misalnya, ketika makan bersama, orang tua dapat menunjukkan cara menikmati ikan atau sayuran tanpa menuntut anak langsung menirunya.
Hindari komentar seperti "Kakak saja bisa makan, masa kamu tidak bisa?"
Membandingkan anak dengan saudara dapat menimbulkan perasaan malu atau tertekan.
Lebih baik berikan contoh secara alami dan konsisten.
Anak dapat diajak berpartisipasi dalam kegiatan sederhana yang sesuai usia.
Misalnya, memilih antara telur dan ikan untuk lauk, mencuci sayuran dengan pendampingan, atau membantu menata piring.
Pilihan sebaiknya tetap berada dalam kelompok makanan yang sesuai kebutuhan gizi.
Jangan memberikan pilihan tanpa batas sehingga anak hanya memilih makanan manis atau camilan.
Kegiatan menyiapkan makanan dapat membantu anak merasa lebih mengenal apa yang akan dimakan.
Namun, penggunaan pisau, kompor, air panas, dan peralatan berbahaya tetap harus dilakukan orang dewasa.
Memberikan makanan manis sebagai hadiah setelah anak menghabiskan lauk dapat membentuk hubungan yang kurang tepat dengan makanan.
Misalnya, orang tua mengatakan bahwa anak baru boleh memperoleh permen setelah menghabiskan sayuran.
NHS dan American Academy of Pediatrics menyarankan agar makanan tidak dijadikan alat tawar-menawar atau hadiah untuk memaksa anak mengonsumsi makanan lain.
Orang tua dapat memberikan perhatian positif terhadap usaha anak mencoba makanan baru.
Namun, jangan menekan anak agar harus menghabiskan makanan untuk memperoleh kasih sayang atau pujian.
Jika anak menolak satu jenis lauk, bukan berarti ia tidak dapat memperoleh protein sama sekali.
Keluarga dapat mengenalkan pilihan lain yang sesuai kebutuhan gizi, seperti telur, ikan, ayam, daging, tahu, tempe, atau bahan makanan lainnya.
Namun, pemilihan menu harus mempertimbangkan usia, alergi, keamanan pengolahan, dan kebutuhan nutrisi.
Anak dengan alergi telur atau susu, misalnya, memerlukan pengaturan makanan tersendiri.
Jangan memberikan bahan yang diketahui menyebabkan reaksi alergi hanya untuk melatih keberanian makan.
Jika pilihan makanan anak sangat terbatas, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.
Berikut contoh kegiatan pengenalan lauk yang dapat dilakukan tanpa memaksa anak.
| Hari | Kegiatan Pengenalan |
|---|---|
| Senin | Menyajikan lauk yang sudah disukai bersama satu lauk baru |
| Selasa | Mengajak anak mengenali warna dan bentuk makanan |
| Rabu | Menawarkan lauk baru dalam porsi kecil |
| Kamis | Mengajak anak membantu menyiapkan hidangan |
| Jumat | Makan bersama dan memberi contoh |
| Sabtu | Mencoba variasi tekstur yang aman |
| Minggu | Mengamati respons dan menyesuaikan menu berikutnya |
Rancangan tersebut merupakan contoh kegiatan keluarga, bukan jadwal terapi medis.
Anak tidak diwajibkan mencoba atau menghabiskan lauk baru pada hari tertentu.
Jika anak menolak, orang tua dapat melakukan pengenalan kembali sesuai kenyamanan dan kondisi kesehatan.
Meskipun pilih-pilih makanan dapat terjadi pada masa kanak-kanak, ada keadaan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Misalnya, anak mengalami penurunan berat badan, pertumbuhan tidak sesuai harapan, atau sangat terbatas dalam menerima makanan.
Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah kesulitan mengunyah atau menelan, sering tersedak, muntah berulang, nyeri ketika makan, dan tampak lemas.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa kesulitan makan dapat mempunyai penyebab yang berbeda, termasuk kondisi kesehatan yang membutuhkan penanganan.
Jika anak menunjukkan tanda dehidrasi, kesulitan bernapas, atau tidak mampu menelan dengan aman, segera cari pertolongan medis.
Jangan memberikan obat penambah nafsu makan atau suplemen tertentu tanpa mempertimbangkan anjuran tenaga kesehatan.
Baca Juga: Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Perlu Dipantau, Kenali Tanda dan Faktor Pendukungnya
Sebagian orang tua menilai keberhasilan makan hanya dari apakah piring anak sudah kosong.
Padahal, kondisi gizi anak perlu dilihat lebih menyeluruh.
Pemantauan berat badan, tinggi atau panjang badan, pola pertumbuhan, dan kondisi kesehatan merupakan bagian penting.
Anak yang sesekali makan lebih sedikit belum tentu mengalami masalah gizi.
Namun, penolakan makanan yang berkepanjangan perlu diperhatikan, terutama jika pertumbuhan mulai terganggu.
Orang tua dapat memanfaatkan pemantauan pertumbuhan di posyandu, puskesmas, atau fasilitas kesehatan sesuai kebutuhan.
Anak membutuhkan kesempatan belajar mengenal makanan tanpa merasa takut dimarahi.
Karena itu, orang tua perlu membangun kebiasaan yang konsisten dan penuh kesabaran.
Jika anak menolak lauk, respons yang tenang dapat membantu mengurangi ketegangan.
Misalnya, orang tua dapat mengatakan, "Hari ini belum mau mencoba ikan, tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi."
Kalimat tersebut tidak berarti kebutuhan gizi boleh diabaikan.
Orang tua tetap bertanggung jawab menyediakan makanan bergizi dan memantau kondisi anak.
Namun, pendampingan sebaiknya dilakukan tanpa ancaman, ejekan, atau paksaan.
Anak yang susah makan memerlukan pendekatan yang mempertimbangkan tahap perkembangan, pengalaman sensoris, kebiasaan keluarga, dan kesehatan.
Memperkenalkan lauk secara bertahap, menyediakan pilihan yang sesuai, serta menjaga jadwal makan dapat membantu membangun kebiasaan makan yang lebih baik.
Yang terpenting, orang tua tidak menjadikan setiap waktu makan sebagai pertengkaran.
Apabila penolakan makanan berlangsung berat atau mengganggu pertumbuhan, pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan agar penyebabnya dapat diketahui dan penanganannya disesuaikan dengan kebutuhan anak.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir