Anak membutuhkan dukungan ketika sedang mempelajari kebiasaan baru. Karena itu, orang tua dapat memberikan pujian ketika anak menunjukkan kemauan untuk melaksanakan shalat.
Misalnya, ucapkan terima kasih karena anak sudah bersedia meninggalkan permainan untuk bersiap beribadah. Apresiasi sederhana seperti ini dapat membuat anak merasa dihargai.
Namun, orang tua perlu berhati-hati agar anak tidak terbiasa shalat hanya demi mendapatkan hadiah. Penghargaan sebaiknya menjadi bentuk dukungan, bukan imbalan utama setiap kali anak beribadah.
Secara perlahan, arahkan anak agar memahami bahwa shalat merupakan kewajiban dan kebutuhan seorang Muslim.
Ketika anak menolak diajak shalat, orang tua sebaiknya tidak langsung membentak atau memberikan hukuman yang berlebihan. Cara tersebut berisiko membuat anak menghubungkan ibadah dengan rasa takut dan tekanan.
Cobalah mencari tahu penyebab penolakannya. Bisa jadi anak sedang asyik bermain, merasa lelah, belum memahami gerakan shalat, atau belum terbiasa mengikuti jadwal ibadah.
Setelah mengetahui penyebabnya, orang tua dapat memberikan arahan yang sesuai. Tegas dalam mengajarkan kewajiban tetap penting, tetapi perlu disertai kesabaran dan kasih sayang.
Baca Juga: Anak Susah Diminta Tolong? Ini 8 Cara Melatihnya agar Lebih Peduli dan Mau Membantu
Mendidik anak agar rajin shalat bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam satu atau dua hari. Orang tua perlu membangun kebiasaan melalui contoh nyata, pendampingan, penjelasan, dan pengingat yang dilakukan secara konsisten.
Setiap anak juga memiliki perkembangan dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, pendekatan pendidikan ibadah perlu disesuaikan dengan usia serta pemahaman mereka.
Hal terpenting adalah menjadikan rumah sebagai lingkungan yang mendukung tumbuhnya kebiasaan beribadah. Dengan bimbingan yang penuh kesabaran, anak diharapkan tidak hanya terbiasa melaksanakan shalat, tetapi juga semakin memahami nilai dan makna ibadah dalam kehidupannya.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir