Anak menunjukkan gejala kurang perhatian sekaligus hiperaktivitas-impulsivitas.
Namun, diagnosis ADHD tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan pengamatan orang tua atau hasil membaca daftar gejala di internet.
CDC menjelaskan bahwa penilaian ADHD membutuhkan beberapa tahap pemeriksaan, termasuk informasi dari orang tua, guru, dan orang dewasa lain yang berinteraksi dengan anak.
Gejala juga harus terlihat dalam lebih dari satu lingkungan, berlangsung setidaknya enam bulan, muncul sejak sebelum usia 12 tahun, dan menimbulkan gangguan yang nyata terhadap aktivitas anak.
Gangguan tidur, kecemasan, depresi, gangguan penglihatan, serta kesulitan belajar juga dapat menunjukkan gejala yang menyerupai ADHD.
Karena itu, pemeriksaan profesional diperlukan sebelum memberikan kesimpulan.
Membantu anak meningkatkan konsentrasi tidak selalu harus dilakukan dengan menambah waktu belajar.
Orang tua dapat memulai dengan memperbaiki kebiasaan sehari-hari dan menciptakan lingkungan yang mendukung proses belajar.
Berikut sepuluh cara yang dapat diterapkan.
Pilih tempat belajar yang relatif tenang, mempunyai pencahayaan cukup, dan nyaman digunakan anak.
Simpan mainan yang tidak diperlukan serta jauhkan televisi dan telepon genggam selama kegiatan belajar.
Pastikan meja belajar tidak dipenuhi barang yang dapat mengalihkan perhatian.
Anak tidak harus mempunyai ruang belajar khusus. Sudut rumah yang nyaman dan konsisten juga dapat digunakan.
Tugas yang terlalu panjang dapat membuat anak merasa kewalahan.
Daripada meminta anak menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah sekaligus, bagi tugas menjadi beberapa bagian.
Contohnya:
Pembagian tersebut membantu anak melihat bahwa tugas dapat diselesaikan secara bertahap.
Durasi belajar dan istirahat perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan, serta kondisi anak.
Anak akan lebih mudah membangun kebiasaan jika mempunyai waktu belajar yang relatif sama setiap hari.
Orang tua dapat menentukan waktu belajar setelah anak makan, beristirahat, atau melakukan aktivitas fisik.
Namun, jadwal sebaiknya tetap fleksibel agar anak tidak merasa seluruh waktunya diatur secara kaku.
Libatkan anak dalam menentukan waktu yang paling nyaman untuk belajar.
Tidur yang cukup membantu mendukung perhatian, memori, dan pengaturan emosi.
AAP merekomendasikan kebutuhan tidur berdasarkan kelompok usia:
| Usia | Kebutuhan Tidur dalam 24 Jam |
|---|---|
| 1–2 tahun | 11–14 jam |
| 3–5 tahun | 10–13 jam |
| 6–12 tahun | 9–12 jam |
| 13–18 tahun | 8–10 jam |
Pastikan anak mempunyai jadwal tidur yang konsisten dan mengurangi aktivitas yang terlalu merangsang menjelang waktu istirahat.
Buat kesepakatan mengenai penggunaan gawai selama kegiatan belajar.
Matikan notifikasi yang tidak diperlukan dan hindari membuka aplikasi hiburan ketika anak sedang mengerjakan tugas.
Jika perangkat digunakan untuk pembelajaran, bantu anak membedakan aplikasi yang digunakan untuk belajar dan aplikasi hiburan.
Orang tua juga perlu memberikan contoh dengan tidak terus-menerus memeriksa telepon genggam ketika mendampingi anak.
Anak membutuhkan aktivitas fisik untuk mendukung kesehatan tubuh dan perkembangan secara menyeluruh.
Ajak anak berjalan kaki, bermain bola, bersepeda, atau melakukan permainan gerak sesuai usianya.
Aktivitas tersebut dapat menjadi jeda yang menyegarkan setelah anak menyelesaikan satu bagian tugas.
Jangan menjadikan seluruh waktu anak hanya untuk duduk belajar karena keseimbangan antara aktivitas fisik, istirahat, dan belajar juga penting.
Tidak semua anak dapat mempertahankan perhatian melalui kegiatan membaca dalam waktu lama.
Orang tua dapat menggunakan variasi metode belajar, seperti:
Pilih metode yang sesuai dengan materi dan kebutuhan anak.
Misalnya, pelajaran sains dapat diperkenalkan melalui percobaan sederhana, sedangkan matematika dapat dilatih menggunakan benda konkret.
Anak dapat kesulitan mengikuti perintah yang terlalu panjang atau terdiri dari banyak tahapan sekaligus.
Gunakan instruksi sederhana dan pastikan anak memahami apa yang harus dilakukan.
Contohnya, daripada mengatakan "Rapikan semua buku, ambil alat tulis, buka halaman 20, lalu kerjakan seluruh soal", orang tua dapat membaginya menjadi beberapa instruksi.
Setelah satu langkah selesai, berikan instruksi berikutnya.
Cara ini membantu anak mengatur perhatian dan memahami urutan pekerjaan.
Jangan hanya memberikan pujian ketika anak memperoleh nilai tinggi.
Hargai juga ketika anak berhasil menyelesaikan tugas, mengikuti instruksi, atau kembali fokus setelah terdistraksi.
Contohnya:
"Tadi kamu berhasil menyelesaikan tugas sampai selesai."
"Ibu senang kamu sudah berusaha membaca sampai halaman terakhir."
Apresiasi yang spesifik dapat membantu anak mengenali perilaku positif yang perlu dipertahankan.
Hindari membandingkan kemampuan konsentrasi anak dengan saudara atau teman sebayanya.
Orang tua perlu mengetahui apakah kesulitan konsentrasi juga terjadi di sekolah.
Bicarakan kondisi anak dengan wali kelas atau guru mata pelajaran.
Tanyakan apakah anak mudah terdistraksi ketika mengikuti pelajaran, kesulitan menyelesaikan tugas, atau membutuhkan instruksi berulang.
Informasi dari sekolah membantu orang tua memahami apakah kesulitan hanya muncul dalam kegiatan tertentu atau terjadi di berbagai lingkungan.
Jika diperlukan, orang tua dan guru dapat menyusun strategi pendampingan yang konsisten.
Berikut contoh jadwal untuk anak sekolah dasar yang dapat disesuaikan dengan waktu pulang sekolah dan kebutuhan keluarga.
| Waktu | Aktivitas |
|---|---|
| 14.00–15.00 | Makan siang dan istirahat |
| 15.00–15.30 | Bermain atau aktivitas fisik |
| 15.30–15.50 | Belajar materi pertama |
| 15.50–16.00 | Istirahat |
| 16.00–16.20 | Mengerjakan tugas berikutnya |
| 16.20–16.30 | Istirahat |
| 16.30–16.45 | Membaca atau mengulang pelajaran |
| Setelahnya | Kegiatan keluarga dan waktu bebas |
Jadwal tersebut hanya contoh. Durasi belajar perlu disesuaikan dengan usia, beban tugas, kemampuan, dan kondisi anak.
Anak yang masih kecil mungkin membutuhkan sesi belajar lebih singkat, sedangkan anak yang lebih besar dapat mengikuti sesi lebih panjang dengan jeda istirahat.
Tujuannya bukan membuat anak belajar selama mungkin, tetapi membantu mereka menyelesaikan kegiatan secara teratur tanpa merasa terbebani.
Label seperti malas, tidak disiplin, atau tidak pintar dapat membuat anak merasa bahwa kesulitan yang dialaminya merupakan kesalahan pribadi.
Padahal, ada kemungkinan anak mengalami hambatan yang belum diketahui.
Misalnya, anak kesulitan memahami instruksi karena gangguan pendengaran, mengalami gangguan penglihatan, atau membutuhkan metode pembelajaran yang berbeda.
IDAI menjelaskan bahwa anak dengan gangguan belajar dapat membutuhkan usaha lebih besar untuk menyelesaikan tugas dan berisiko mengalami kecemasan atau kehilangan kepercayaan diri apabila kesulitannya tidak dikenali.
Karena itu, orang tua sebaiknya mengamati kemampuan anak sebelum memberikan penilaian.
Cobalah bertanya:
Pertanyaan tersebut membantu orang tua menemukan penyebab sebelum menentukan langkah pendampingan.
Kesulitan konsentrasi yang terjadi sesekali merupakan hal yang dapat dialami anak.
Namun, orang tua perlu mempertimbangkan pemeriksaan apabila perilaku tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan meliputi:
Dokter anak dapat melakukan evaluasi kesehatan dan perkembangan. Jika diperlukan, anak dapat dirujuk kepada psikolog, psikiater anak dan remaja, atau tenaga profesional lain sesuai kebutuhan.
Pemeriksaan dapat mencakup:
CDC menegaskan bahwa tidak ada satu tes tunggal yang dapat digunakan untuk mendiagnosis ADHD. Diagnosis membutuhkan penilaian menyeluruh dan harus dilakukan oleh tenaga profesional yang kompeten.
Orang tua sebaiknya tidak memberikan obat peningkat konsentrasi atau suplemen tertentu tanpa rekomendasi tenaga kesehatan.
Kesulitan berkonsentrasi bukan selalu tanda bahwa anak malas atau tidak mempunyai kemauan belajar. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh tidur, lingkungan, kesehatan, tekanan emosional, dan kemampuan memahami materi.
Karena itu, orang tua perlu melihat kebutuhan anak secara menyeluruh sebelum menentukan cara pendampingan.
Membangun lingkungan belajar yang nyaman, mengatur jadwal, membatasi distraksi, memberikan waktu istirahat, dan menggunakan metode belajar yang sesuai merupakan langkah awal yang dapat diterapkan di rumah.
Selain itu, komunikasi dengan guru membantu orang tua mengetahui apakah kesulitan yang sama juga terjadi di sekolah.
Jika masalah berlangsung terus-menerus atau mengganggu perkembangan anak, pemeriksaan profesional perlu dipertimbangkan.
Pada akhirnya, tujuan mendampingi anak bukan membuatnya duduk diam selama berjam-jam, tetapi membantu mereka mengembangkan kemampuan mengarahkan perhatian, menyelesaikan tugas, dan belajar secara bertahap sesuai potensi serta kebutuhannya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir