Parenting
M. Panji Maulana

Anak Sulit Fokus Belajar? Kenali Penyebab dan 10 Cara Membantu Konsentrasinya

Anak Sulit Fokus Belajar? Kenali Penyebab dan 10 Cara Membantu Konsentrasinya

08 November 2026 | 13:21

Combined Presentation

Anak menunjukkan gejala kurang perhatian sekaligus hiperaktivitas-impulsivitas.

Namun, diagnosis ADHD tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan pengamatan orang tua atau hasil membaca daftar gejala di internet.

CDC menjelaskan bahwa penilaian ADHD membutuhkan beberapa tahap pemeriksaan, termasuk informasi dari orang tua, guru, dan orang dewasa lain yang berinteraksi dengan anak.

Gejala juga harus terlihat dalam lebih dari satu lingkungan, berlangsung setidaknya enam bulan, muncul sejak sebelum usia 12 tahun, dan menimbulkan gangguan yang nyata terhadap aktivitas anak.

Gangguan tidur, kecemasan, depresi, gangguan penglihatan, serta kesulitan belajar juga dapat menunjukkan gejala yang menyerupai ADHD.

Karena itu, pemeriksaan profesional diperlukan sebelum memberikan kesimpulan.

10 Cara Membantu Anak Meningkatkan Konsentrasi Belajar

Membantu anak meningkatkan konsentrasi tidak selalu harus dilakukan dengan menambah waktu belajar.

Orang tua dapat memulai dengan memperbaiki kebiasaan sehari-hari dan menciptakan lingkungan yang mendukung proses belajar.

Berikut sepuluh cara yang dapat diterapkan.

1. Ciptakan Tempat Belajar yang Minim Gangguan

Pilih tempat belajar yang relatif tenang, mempunyai pencahayaan cukup, dan nyaman digunakan anak.

Simpan mainan yang tidak diperlukan serta jauhkan televisi dan telepon genggam selama kegiatan belajar.

Pastikan meja belajar tidak dipenuhi barang yang dapat mengalihkan perhatian.

Anak tidak harus mempunyai ruang belajar khusus. Sudut rumah yang nyaman dan konsisten juga dapat digunakan.

2. Bagi Tugas Menjadi Bagian yang Lebih Kecil

Tugas yang terlalu panjang dapat membuat anak merasa kewalahan.

Daripada meminta anak menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah sekaligus, bagi tugas menjadi beberapa bagian.

Contohnya:

  • Membaca dua halaman.
  • Mengerjakan lima soal.
  • Beristirahat sejenak.
  • Melanjutkan lima soal berikutnya.

Pembagian tersebut membantu anak melihat bahwa tugas dapat diselesaikan secara bertahap.

Durasi belajar dan istirahat perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan, serta kondisi anak.

3. Terapkan Jadwal Belajar yang Konsisten

Anak akan lebih mudah membangun kebiasaan jika mempunyai waktu belajar yang relatif sama setiap hari.

Orang tua dapat menentukan waktu belajar setelah anak makan, beristirahat, atau melakukan aktivitas fisik.

Namun, jadwal sebaiknya tetap fleksibel agar anak tidak merasa seluruh waktunya diatur secara kaku.

Libatkan anak dalam menentukan waktu yang paling nyaman untuk belajar.

4. Pastikan Anak Mendapatkan Tidur yang Cukup

Tidur yang cukup membantu mendukung perhatian, memori, dan pengaturan emosi.

AAP merekomendasikan kebutuhan tidur berdasarkan kelompok usia:

UsiaKebutuhan Tidur dalam 24 Jam
1–2 tahun11–14 jam
3–5 tahun10–13 jam
6–12 tahun9–12 jam
13–18 tahun8–10 jam

Pastikan anak mempunyai jadwal tidur yang konsisten dan mengurangi aktivitas yang terlalu merangsang menjelang waktu istirahat.

5. Batasi Penggunaan Gawai saat Belajar

Buat kesepakatan mengenai penggunaan gawai selama kegiatan belajar.

Matikan notifikasi yang tidak diperlukan dan hindari membuka aplikasi hiburan ketika anak sedang mengerjakan tugas.

Jika perangkat digunakan untuk pembelajaran, bantu anak membedakan aplikasi yang digunakan untuk belajar dan aplikasi hiburan.

Orang tua juga perlu memberikan contoh dengan tidak terus-menerus memeriksa telepon genggam ketika mendampingi anak.

6. Berikan Waktu untuk Bergerak dan Bermain

Anak membutuhkan aktivitas fisik untuk mendukung kesehatan tubuh dan perkembangan secara menyeluruh.

Ajak anak berjalan kaki, bermain bola, bersepeda, atau melakukan permainan gerak sesuai usianya.

Aktivitas tersebut dapat menjadi jeda yang menyegarkan setelah anak menyelesaikan satu bagian tugas.

Jangan menjadikan seluruh waktu anak hanya untuk duduk belajar karena keseimbangan antara aktivitas fisik, istirahat, dan belajar juga penting.

7. Gunakan Metode Belajar yang Menarik

Tidak semua anak dapat mempertahankan perhatian melalui kegiatan membaca dalam waktu lama.

Orang tua dapat menggunakan variasi metode belajar, seperti:

  • Kartu bergambar.
  • Permainan edukatif.
  • Video pembelajaran dengan pendampingan.
  • Eksperimen sederhana.
  • Diskusi dan tanya jawab.
  • Praktik langsung.
  • Menggambar atau membuat rangkuman visual.

Pilih metode yang sesuai dengan materi dan kebutuhan anak.

Misalnya, pelajaran sains dapat diperkenalkan melalui percobaan sederhana, sedangkan matematika dapat dilatih menggunakan benda konkret.

8. Berikan Instruksi yang Singkat dan Jelas

Anak dapat kesulitan mengikuti perintah yang terlalu panjang atau terdiri dari banyak tahapan sekaligus.

Gunakan instruksi sederhana dan pastikan anak memahami apa yang harus dilakukan.

Contohnya, daripada mengatakan "Rapikan semua buku, ambil alat tulis, buka halaman 20, lalu kerjakan seluruh soal", orang tua dapat membaginya menjadi beberapa instruksi.

Setelah satu langkah selesai, berikan instruksi berikutnya.

Cara ini membantu anak mengatur perhatian dan memahami urutan pekerjaan.

9. Berikan Apresiasi terhadap Usaha Anak

Jangan hanya memberikan pujian ketika anak memperoleh nilai tinggi.

Hargai juga ketika anak berhasil menyelesaikan tugas, mengikuti instruksi, atau kembali fokus setelah terdistraksi.

Contohnya:

"Tadi kamu berhasil menyelesaikan tugas sampai selesai."

"Ibu senang kamu sudah berusaha membaca sampai halaman terakhir."

Apresiasi yang spesifik dapat membantu anak mengenali perilaku positif yang perlu dipertahankan.

Hindari membandingkan kemampuan konsentrasi anak dengan saudara atau teman sebayanya.

10. Bangun Komunikasi dengan Guru

Orang tua perlu mengetahui apakah kesulitan konsentrasi juga terjadi di sekolah.

Bicarakan kondisi anak dengan wali kelas atau guru mata pelajaran.

Tanyakan apakah anak mudah terdistraksi ketika mengikuti pelajaran, kesulitan menyelesaikan tugas, atau membutuhkan instruksi berulang.

Informasi dari sekolah membantu orang tua memahami apakah kesulitan hanya muncul dalam kegiatan tertentu atau terjadi di berbagai lingkungan.

Jika diperlukan, orang tua dan guru dapat menyusun strategi pendampingan yang konsisten.

Contoh Jadwal Belajar Anak di Rumah

Berikut contoh jadwal untuk anak sekolah dasar yang dapat disesuaikan dengan waktu pulang sekolah dan kebutuhan keluarga.

WaktuAktivitas
14.00–15.00Makan siang dan istirahat
15.00–15.30Bermain atau aktivitas fisik
15.30–15.50Belajar materi pertama
15.50–16.00Istirahat
16.00–16.20Mengerjakan tugas berikutnya
16.20–16.30Istirahat
16.30–16.45Membaca atau mengulang pelajaran
SetelahnyaKegiatan keluarga dan waktu bebas

Jadwal tersebut hanya contoh. Durasi belajar perlu disesuaikan dengan usia, beban tugas, kemampuan, dan kondisi anak.

Anak yang masih kecil mungkin membutuhkan sesi belajar lebih singkat, sedangkan anak yang lebih besar dapat mengikuti sesi lebih panjang dengan jeda istirahat.

Tujuannya bukan membuat anak belajar selama mungkin, tetapi membantu mereka menyelesaikan kegiatan secara teratur tanpa merasa terbebani.

Mengapa Anak yang Sulit Fokus Tidak Boleh Langsung Disebut Malas?

Label seperti malas, tidak disiplin, atau tidak pintar dapat membuat anak merasa bahwa kesulitan yang dialaminya merupakan kesalahan pribadi.

Padahal, ada kemungkinan anak mengalami hambatan yang belum diketahui.

Misalnya, anak kesulitan memahami instruksi karena gangguan pendengaran, mengalami gangguan penglihatan, atau membutuhkan metode pembelajaran yang berbeda.

IDAI menjelaskan bahwa anak dengan gangguan belajar dapat membutuhkan usaha lebih besar untuk menyelesaikan tugas dan berisiko mengalami kecemasan atau kehilangan kepercayaan diri apabila kesulitannya tidak dikenali.

Karena itu, orang tua sebaiknya mengamati kemampuan anak sebelum memberikan penilaian.

Cobalah bertanya:

  • Apakah tugasnya terlalu sulit?
  • Apakah anak sudah cukup tidur?
  • Apakah lingkungan belajar terlalu ramai?
  • Apakah anak memahami instruksi?
  • Apakah ada persoalan yang sedang mengganggu pikirannya?
  • Apakah kesulitan fokus juga muncul di sekolah?

Pertanyaan tersebut membantu orang tua menemukan penyebab sebelum menentukan langkah pendampingan.

Kapan Anak Sulit Fokus Perlu Diperiksa oleh Profesional?

Kesulitan konsentrasi yang terjadi sesekali merupakan hal yang dapat dialami anak.

Namun, orang tua perlu mempertimbangkan pemeriksaan apabila perilaku tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan meliputi:

  1. Anak sangat sulit menyelesaikan tugas meskipun sudah diberikan pendampingan.
  2. Kesulitan perhatian terjadi di rumah dan sekolah.
  3. Anak sering kehilangan barang dan melupakan instruksi dalam berbagai aktivitas.
  4. Perilaku hiperaktif atau impulsif mengganggu hubungan sosial.
  5. Prestasi belajar menurun tanpa penyebab yang jelas.
  6. Anak mengalami kesulitan membaca, menulis, atau berhitung.
  7. Anak sering mengantuk, pucat, lemas, atau mudah lelah.
  8. Kesulitan konsentrasi disertai perubahan emosi atau perilaku yang menetap.

Dokter anak dapat melakukan evaluasi kesehatan dan perkembangan. Jika diperlukan, anak dapat dirujuk kepada psikolog, psikiater anak dan remaja, atau tenaga profesional lain sesuai kebutuhan.

Pemeriksaan dapat mencakup:

  • Riwayat perkembangan anak.
  • Informasi perilaku dari orang tua dan guru.
  • Pemeriksaan kesehatan fisik.
  • Evaluasi pendengaran dan penglihatan.
  • Pemeriksaan kemampuan belajar dan perkembangan.
  • Penilaian kemungkinan ADHD atau kondisi lain.

CDC menegaskan bahwa tidak ada satu tes tunggal yang dapat digunakan untuk mendiagnosis ADHD. Diagnosis membutuhkan penilaian menyeluruh dan harus dilakukan oleh tenaga profesional yang kompeten.

Orang tua sebaiknya tidak memberikan obat peningkat konsentrasi atau suplemen tertentu tanpa rekomendasi tenaga kesehatan.

Membantu Anak Fokus Belajar Dimulai dari Memahami Kebutuhannya

Kesulitan berkonsentrasi bukan selalu tanda bahwa anak malas atau tidak mempunyai kemauan belajar. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh tidur, lingkungan, kesehatan, tekanan emosional, dan kemampuan memahami materi.

Karena itu, orang tua perlu melihat kebutuhan anak secara menyeluruh sebelum menentukan cara pendampingan.

Membangun lingkungan belajar yang nyaman, mengatur jadwal, membatasi distraksi, memberikan waktu istirahat, dan menggunakan metode belajar yang sesuai merupakan langkah awal yang dapat diterapkan di rumah.

Selain itu, komunikasi dengan guru membantu orang tua mengetahui apakah kesulitan yang sama juga terjadi di sekolah.

Jika masalah berlangsung terus-menerus atau mengganggu perkembangan anak, pemeriksaan profesional perlu dipertimbangkan.

Pada akhirnya, tujuan mendampingi anak bukan membuatnya duduk diam selama berjam-jam, tetapi membantu mereka mengembangkan kemampuan mengarahkan perhatian, menyelesaikan tugas, dan belajar secara bertahap sesuai potensi serta kebutuhannya.

Referensi

  1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2013). Kesulitan Belajar. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/kesulitan-belajar
  2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016).
LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 3
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting anak sulit fokus belajar Konsentrasi anak fokus belajar anak ADHD Psikologi Anak Pendidikan Anak

Komentar Pengguna