KebonCinta.com – Meminta anak berhenti bermain gawai terkadang menjadi tantangan bagi orang tua. Ketika waktu yang disepakati sudah habis, anak mungkin mengatakan ingin melanjutkan permainan sebentar lagi.
Namun, beberapa menit kemudian, permintaan tambahan waktu kembali muncul.
Ketika orang tua mulai mengambil perangkat, anak dapat menangis, marah, atau menolak melakukan kegiatan berikutnya.
Keadaan tersebut sering membuat orang tua bingung menentukan respons. Apakah perangkat harus langsung diambil, waktu bermain diperpanjang, atau anak perlu dibiarkan sampai merasa puas?
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), kesulitan berhenti menggunakan layar dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk aktivitas digital yang sangat menarik perhatian serta kemampuan anak yang masih berkembang dalam mengendalikan emosi dan berpindah kegiatan.
Namun, anak yang menangis ketika waktu bermain gawai berakhir tidak otomatis dapat disebut mengalami kecanduan.
Orang tua perlu memahami situasi dan membangun kebiasaan transisi yang lebih terarah.
Gawai menyediakan berbagai aktivitas yang dapat menarik perhatian anak.
Permainan digital, video, musik, dan aplikasi interaktif sering memberikan rangsangan yang membuat pengguna ingin terus melanjutkan kegiatan.
Sebagian permainan mempunyai tahapan atau target yang belum selesai.
Sementara itu, aplikasi video dapat menampilkan konten berikutnya secara otomatis.
Dalam panduan tahun 2026, AAP menyoroti bahwa fitur seperti autoplay dan endless scrolling dapat membuat seseorang menggunakan layanan digital lebih lama daripada yang direncanakan.
Bagi anak, perpindahan dari aktivitas yang menyenangkan menuju kegiatan yang dianggap kurang menarik dapat menimbulkan frustrasi.
Namun, penyebabnya tidak selalu berkaitan dengan desain aplikasi.
Kelelahan, rasa lapar, perubahan rutinitas, dan kesulitan memahami waktu juga dapat berperan.
Salah satu langkah penting adalah menetapkan aturan sebelum anak mulai menggunakan perangkat.
Misalnya, orang tua menyepakati bahwa anak boleh menonton satu episode program tertentu atau bermain sampai waktu yang telah disepakati.
Aturan perlu disampaikan menggunakan bahasa sesuai usia.
Untuk anak yang belum memahami jam, orang tua dapat menjelaskan durasi dengan bantuan timer visual.
Jika menggunakan permainan digital, periksa apakah permainan memungkinkan diselesaikan dalam waktu yang tersedia.
Hindari membuat aturan yang berubah setiap hari tanpa alasan jelas karena dapat membuat anak kesulitan memperkirakan kapan kegiatan akan berakhir.
Meminta anak langsung berhenti ketika sedang sangat fokus dapat menimbulkan penolakan.
Orang tua dapat memberikan pengingat beberapa menit sebelumnya.
Misalnya, "Lima menit lagi waktunya selesai."
Setelah itu, berikan pengingat singkat ketika batas waktu semakin dekat.
Pengingat tidak harus dilakukan berkali-kali hingga justru mengganggu.
Bagi anak kecil, timer dengan tampilan visual dapat membantu menunjukkan bahwa waktu terus berjalan.
Namun, strategi ini bukan jaminan anak akan langsung menerima batas waktu.
Sebagian anak tetap membutuhkan pendampingan dalam menghadapi rasa kecewa.
Dalam permainan digital, anak mungkin kesulitan berhenti ketika sedang berada di tengah pertandingan atau tahap permainan.
Orang tua dapat membantu menentukan titik berhenti yang mudah dipahami.
Misalnya, permainan dihentikan setelah satu ronde yang durasinya sesuai kesepakatan.
Untuk aktivitas menonton, lebih mudah memilih akhir satu episode daripada menghentikan video pada bagian yang sangat menarik.
Namun, jangan selalu menambahkan permainan atau episode baru hanya karena anak meminta.
Titik berhenti perlu disepakati sebelum kegiatan dimulai.
Baca Juga: Anak Sulit Lepas dari Gadget? Ini 7 Cara Orang Tua Mengaturnya Tanpa Drama
Salah satu cara mengurangi kesulitan berhenti adalah mengubah pengaturan aplikasi.
Jika tersedia, orang tua dapat menonaktifkan autoplay agar video berikutnya tidak langsung diputar.
Notifikasi yang tidak diperlukan juga dapat dibatasi.
AAP dalam panduan Family Media Plan menyarankan keluarga mempertimbangkan pengaturan autoplay dan notifikasi karena fitur tersebut dapat mendorong penggunaan perangkat berlangsung lebih lama.
Selain itu, pilih konten yang sesuai usia.
Bagi anak usia kecil, penggunaan perangkat sebaiknya tetap berada dalam pendampingan orang tua.
Menghentikan penggunaan gawai tanpa menawarkan kegiatan berikutnya dapat membuat sebagian anak merasa kehilangan aktivitas yang sedang dinikmati.
Karena itu, orang tua dapat menyiapkan pilihan kegiatan sebelum waktu layar berakhir.
Misalnya, menggambar, membaca buku, menyusun balok, bermain bola, atau membantu menyiapkan makanan ringan.
Pilihan kegiatan perlu disesuaikan dengan minat dan usia anak.
Jika anak sedang kelelahan, aktivitas yang tenang mungkin lebih sesuai daripada langsung mengajaknya bermain fisik.
Orang tua juga dapat memberi pilihan sederhana.
"Setelah HP selesai, mau menggambar atau menyusun balok?"
Dengan demikian, anak tetap mempunyai kesempatan menentukan kegiatan berikutnya, sementara batas waktu gawai tetap dijalankan.
Sebagian keluarga menggunakan gawai ketika anak menangis atau merasa bosan.
Dalam kondisi tertentu, perangkat dapat membantu mengalihkan perhatian.
Namun, apabila selalu digunakan sebagai respons utama terhadap emosi tidak nyaman, anak mungkin mempunyai lebih sedikit kesempatan mempelajari cara menenangkan diri melalui strategi lain.
Orang tua dapat membantu mengenalkan kegiatan sederhana seperti menarik napas perlahan, memeluk boneka, berbicara mengenai perasaan, atau beristirahat.
AAP menekankan pentingnya memperhatikan apakah penggunaan media menjadi satu-satunya cara anak menghadapi emosi.
Tujuannya bukan melarang semua hiburan digital, melainkan membantu anak mempunyai berbagai keterampilan mengelola perasaan.
Ketika anak mulai menangis, orang tua perlu menjaga respons tetap tenang.
Hindari berteriak atau mempermalukan anak.
Orang tua dapat mengatakan, "Kamu masih ingin bermain, ya. Ibu tahu kamu kecewa. Tetapi waktunya sudah selesai."
Kalimat tersebut mengakui perasaan anak sekaligus mempertahankan aturan.
Namun, jika anak mencoba memukul, melempar barang, atau melakukan tindakan berbahaya, orang tua perlu segera memastikan keselamatan.
Batasan perilaku tetap harus diterapkan tanpa menggunakan kekerasan.
Jika anak sedang mengalami ledakan emosi, pembahasan panjang mengenai aturan dapat ditunda sampai ia lebih tenang.
Sebagian orang tua spontan mengancam akan membuang perangkat jika anak tidak segera berhenti.
Ancaman tersebut mungkin menghentikan perilaku sesaat, tetapi tidak selalu membantu anak mempelajari transisi yang baik.
Sebagai alternatif, aturan dan konsekuensi dapat dibuat sejak awal.
Misalnya, perangkat disimpan pada tempat tertentu setelah waktu penggunaan selesai.
Jika anak kesulitan mengikuti aturan, orang tua dapat mengevaluasi apakah durasi, jenis konten, atau waktu penggunaan sudah sesuai.
Konsekuensi yang digunakan perlu bersifat masuk akal, proporsional, dan tidak mempermalukan.
Keluarga dapat menetapkan kegiatan tertentu sebagai waktu tanpa gawai.
Misalnya, ketika makan bersama, menjelang tidur, atau saat melakukan kegiatan keluarga.
Aturan tersebut sebaiknya berlaku secara konsisten bagi seluruh anggota keluarga sesuai kebutuhan.
Jika orang tua meminta anak menyimpan HP ketika makan, orang tua juga perlu memberikan contoh.
AAP menyarankan keluarga menyusun Family Media Plan yang mempertimbangkan kebutuhan setiap anggota.
Rencana tersebut membantu keluarga memutuskan kapan, di mana, dan bagaimana teknologi digunakan.
Namun, aturan sebaiknya tetap fleksibel untuk kebutuhan penting, seperti komunikasi mendesak atau kegiatan pendidikan yang memang membutuhkan perangkat.
Kebutuhan anak usia tiga tahun berbeda dari anak usia sepuluh tahun.
Anak usia dini membutuhkan pendampingan yang lebih dekat dan rutinitas yang lebih sederhana.
Sementara itu, anak yang lebih besar dapat diajak memahami alasan aturan dan berpartisipasi menyusun kesepakatan.
Untuk anak usia sekolah, orang tua dapat berdiskusi mengenai waktu belajar, tidur, olahraga, hiburan digital, serta kegiatan bersama keluarga.
Tidak semua penggunaan layar mempunyai tujuan yang sama.
Misalnya, penggunaan gawai untuk mengerjakan tugas sekolah mempunyai konteks berbeda dari menonton video hiburan tanpa henti.
Karena itu, aturan sebaiknya mempertimbangkan isi dan tujuan penggunaan, bukan hanya jumlah menit.
Berikut contoh untuk anak usia sekolah yang sudah memahami kesepakatan waktu.
| Tahap | Kegiatan |
|---|---|
| Sebelum mulai | Menentukan durasi dan aktivitas setelah bermain |
| Saat bermain | Menggunakan konten yang sesuai usia |
| Menjelang selesai | Memberikan pengingat lima menit |
| Saat waktu habis | Mengakhiri permainan pada titik yang disepakati |
| Sesudahnya | Menyimpan perangkat dan beralih ke kegiatan lain |
| Evaluasi | Membicarakan kendala ketika suasana sudah tenang |
Jadwal tersebut hanya contoh pendekatan keluarga.
Durasi penggunaan harus disesuaikan dengan usia, kebutuhan, dan pedoman yang relevan.
Orang tua tidak harus menggunakan waktu yang sama untuk seluruh anak.
Istilah kecanduan sering digunakan untuk menggambarkan anak yang sulit berhenti bermain HP.
Namun, satu atau dua kali menangis ketika waktu bermain habis tidak cukup untuk menetapkan adanya gangguan.
Orang tua perlu memperhatikan pola yang lebih luas.
Apakah penggunaan gawai mengganggu tidur secara terus-menerus?
Apakah anak meninggalkan kegiatan sosial dan aktivitas penting?
Apakah kesulitan mengatur penggunaan perangkat berlangsung dalam jangka panjang?
Apabila masalah semakin berat dan mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan dokter anak atau psikolog dapat membantu menilai keadaan secara lebih tepat.
Baca Juga: Berapa Lama Anak Boleh Main HP? Ini Cara Membatasi Screen Time dengan Bijak
Jika kesulitan berhenti menggunakan gawai terjadi berulang kali, orang tua perlu meninjau kembali pola penggunaan perangkat.
Misalnya, apakah anak menggunakan gawai saat sudah lelah?
Apakah permainan yang dipilih mempunyai durasi terlalu panjang?
Apakah pengingat diberikan secara konsisten?
Apakah kegiatan pengganti cukup sesuai dengan minat anak?
Pertanyaan tersebut dapat membantu menemukan penyebab kesulitan.
Bagi anak yang lebih besar, ajak mereka terlibat dalam evaluasi.
Orang tua dapat menanyakan strategi apa yang membantu berhenti tepat waktu dan bagian mana yang masih terasa sulit.
Dengan demikian, pengaturan gawai menjadi proses belajar bersama, bukan sekadar pertentangan antara keinginan anak dan perintah orang tua.
Anak membutuhkan waktu untuk belajar menghadapi batasan dan berpindah dari kegiatan yang menyenangkan menuju aktivitas lain.
Proses tersebut tidak selalu berlangsung tanpa tangisan.
Namun, orang tua dapat membantu dengan membuat aturan yang jelas, memberikan pengingat, mempertahankan batasan secara tenang, serta menyediakan kegiatan pengganti.
Ketika anak menunjukkan perkembangan, berikan apresiasi yang sesuai.
Misalnya, "Tadi kamu bisa menyimpan HP setelah waktunya selesai.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir