Keboncinta.com- “Kenapa aku harus nurut terus?” “Ayah juga sering begitu!” atau “Aku kan cuma bilang pendapatku!”
Kalimat seperti ini mungkin pernah terdengar ketika orang tua menasihati anak, meminta mereka menyelesaikan tugas, atau menetapkan aturan di rumah. Bagi sebagian orang tua, jawaban tersebut terasa seperti bentuk perlawanan, apalagi jika disampaikan dengan nada tinggi atau ekspresi kesal.
Tidak sedikit orang tua kemudian merespons dengan kalimat, “Jangan membantah orang tua!” atau “Kalau orang tua bicara, anak harus diam!”
Padahal, tidak semua respons yang berbeda dari keinginan orang tua merupakan perilaku tidak sopan.
Dalam proses perkembangan, anak mulai belajar mengenali keinginannya, mengutarakan pendapat, mempertanyakan alasan suatu aturan, serta memahami hubungan antara hak dan tanggung jawab.
Namun, kemampuan menyampaikan pendapat juga perlu diiringi keterampilan menghargai orang lain.
Di sinilah peran orang tua menjadi penting. Anak perlu mengetahui bahwa berbeda pendapat diperbolehkan, tetapi berteriak, menghina, atau menyakiti orang lain bukan cara yang tepat untuk menyampaikan ketidaksetujuan.
UNICEF Indonesia menganjurkan orang tua untuk mendengarkan pandangan anak, membahas konflik dalam keadaan tenang, dan menghindari perebutan kekuasaan yang justru memperburuk hubungan keluarga.
Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menekankan bahwa arahan yang jelas, konsekuensi yang konsisten, dan hubungan positif dapat membantu anak memahami perilaku yang diharapkan.
Ada beberapa alasan yang dapat membuat anak sering mempertanyakan perintah, menolak nasihat, atau memberikan jawaban yang dianggap kurang sopan.
Seiring bertambahnya usia, anak ingin mempunyai kesempatan menentukan pilihan sendiri.
Pada masa prasekolah, kemandirian dapat terlihat melalui keinginan memilih pakaian, makanan, atau aktivitas bermain.
Ketika memasuki usia sekolah, anak mulai mempunyai pendapat mengenai tugas, pertemanan, dan aturan keluarga.
Sementara pada masa remaja, kebutuhan untuk memperoleh privasi serta mengambil keputusan menjadi semakin kuat.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari perkembangan. Akan tetapi, anak tetap membutuhkan pendampingan untuk memahami batasan dan tanggung jawab.
Bayangkan seorang anak ingin menjelaskan mengapa ia belum mengerjakan tugas sekolah.
Sebelum selesai berbicara, orang tua langsung mengatakan bahwa anak tersebut malas dan tidak bertanggung jawab.
Anak mungkin kemudian menaikkan nada suara karena merasa penjelasannya tidak diberi kesempatan.
Situasi ini tidak berarti setiap bantahan selalu disebabkan oleh kesalahan orang tua. Namun, komunikasi satu arah dapat memperbesar ketegangan.
Mendengarkan penjelasan anak bukan berarti membenarkan semua tindakannya.
Orang tua dapat memahami sudut pandang anak sambil tetap mempertahankan aturan yang diperlukan.
Ketika merasa kecewa, marah, atau frustrasi, sebagian anak belum mempunyai keterampilan untuk menyampaikan perasaan secara tenang.
Akibatnya, ketidaksetujuan dapat muncul dalam bentuk teriakan, membanting pintu, atau menggunakan kata-kata kasar.
Kondisi ini perlu dilihat berdasarkan usia dan kemampuan perkembangan anak.
Orang tua dapat membantu anak mengenali emosinya, kemudian mengajarkan cara mengekspresikannya tanpa menyakiti orang lain.
Anak dapat merasa bingung ketika aturan berubah tanpa penjelasan.
Misalnya, pada suatu hari anak diizinkan menonton televisi setelah makan malam. Namun, keesokan harinya orang tua melarang kegiatan tersebut tanpa menjelaskan alasannya.
Anak mungkin mempertanyakan perubahan tersebut.
Karena itu, aturan yang jelas dan konsisten membantu anak memahami harapan keluarga.
Apabila aturan harus berubah, orang tua dapat menyampaikan alasan sesuai kemampuan anak.
Anak belajar melalui pengamatan terhadap perilaku orang-orang di sekelilingnya.
Jika perbedaan pendapat dalam keluarga sering diselesaikan dengan teriakan, sindiran, atau saling menyalahkan, anak mungkin meniru pola komunikasi serupa.
Sebaliknya, ketika orang dewasa menunjukkan cara berdebat dengan tenang dan saling menghargai, anak memperoleh contoh yang lebih baik.
Hal ini tidak berarti seluruh perilaku anak berasal dari pola komunikasi keluarga. Temperamen, pengalaman sosial, perkembangan, dan kondisi emosional juga dapat berperan.
Cara menghadapi bantahan perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak.
| Usia | Bentuk perilaku yang mungkin muncul | Respons orang tua |
|---|---|---|
| 2–5 tahun | Sering berkata “tidak”, menolak kegiatan, menangis ketika kecewa | Instruksi singkat dan pilihan terbatas |
| 6–9 tahun | Mempertanyakan aturan dan membandingkan perlakuan | Penjelasan sederhana serta aturan konsisten |
| 10–12 tahun | Lebih sering berargumentasi dan meminta kesempatan memilih | Diskusi, kesepakatan, dan tanggung jawab |
| 13–17 tahun | Membutuhkan privasi dan lebih aktif memperdebatkan keputusan | Mendengarkan, bernegosiasi, dan menetapkan batas keselamatan |
Rentang usia tersebut merupakan panduan praktis, bukan ukuran baku bahwa semua anak akan menunjukkan perilaku yang sama.
Perkembangan setiap anak dapat berbeda.
Pada usia balita dan prasekolah, anak masih belajar memahami aturan sekaligus mengembangkan kemampuan mengendalikan diri.
Jika anak menolak mandi, orang tua dapat memberikan pilihan sederhana.
“Kamu mau membawa handuk biru atau handuk kuning saat mandi?”
Pilihan tersebut memberi ruang bagi anak untuk menentukan hal kecil tanpa mengubah kebutuhan utama.
CDC menyarankan pemberian instruksi yang spesifik, sesuai usia, dan disampaikan dengan nada netral.
Daripada mengatakan, “Jangan nakal!”, orang tua dapat menyampaikan perilaku yang diharapkan.
Contohnya, “Letakkan mainannya di lantai dengan pelan.”
Anak juga membutuhkan bantuan untuk memahami dan menjalankan arahan. Jangan mengharapkan kemampuan mengendalikan emosi yang sama seperti orang dewasa.
Anak usia sekolah mulai mampu memahami alasan sederhana mengenai aturan.
Ketika anak bertanya, “Kenapa aku harus membereskan kamar sendiri?”, orang tua dapat menjelaskan bahwa setiap anggota keluarga mempunyai tanggung jawab terhadap barang yang digunakannya.
Penjelasan tidak harus berupa ceramah panjang.
Orang tua dapat mengatakan:
“Karena kamar ini kamu gunakan setiap hari, kita belajar menjaganya bersama. Bunda bisa membantu bagian yang sulit, tetapi mainanmu tetap perlu kamu rapikan.”
Setelah itu, berikan kesempatan anak menyampaikan pendapat.
Apabila anak mempunyai usulan yang masuk akal, orang tua dapat mempertimbangkannya.
Namun, aturan keselamatan dan tanggung jawab dasar tetap perlu diterapkan secara konsisten.
Menjelang masa remaja, anak biasanya semakin ingin terlibat dalam keputusan yang memengaruhi kesehariannya.
Mereka mungkin mulai mempertanyakan jadwal belajar, pembagian pekerjaan rumah, atau alasan pembatasan aktivitas tertentu.
Pada tahap ini, diskusi dan kesepakatan dapat menjadi pendekatan yang lebih sesuai dibandingkan memberikan perintah sepihak untuk semua hal.
Sebagai contoh, anak meminta tambahan waktu bermain setelah pulang sekolah.
Orang tua dapat membahas kebutuhan istirahat, tanggung jawab belajar, dan waktu tidur sebelum menyusun jadwal bersama.
Kesepakatan yang dibuat harus realistis serta dapat ditinjau kembali.
Tujuannya adalah membantu anak mengembangkan kemampuan membuat keputusan dan memahami konsekuensinya.
Pada masa remaja, perbedaan pendapat antara anak dan orang tua dapat semakin sering muncul.
Anak remaja mungkin mempunyai pandangan sendiri mengenai pertemanan, pakaian, penggunaan teknologi, kegiatan sekolah, dan rencana masa depan.
UNICEF Indonesia menyarankan orang tua menghindari perebutan kekuasaan ketika menghadapi konflik dengan remaja.
Orang tua perlu mendengarkan pandangan anak serta mencari penyelesaian ketika suasana sudah cukup tenang.
Sebagai contoh, remaja meminta izin mengikuti kegiatan bersama teman hingga malam hari.
Daripada langsung menganggap permintaan itu sebagai pembangkangan, orang tua dapat menanyakan lokasi kegiatan, pendamping, transportasi, serta waktu pulang.
Jika kondisi tidak aman, orang tua tetap dapat menolak dengan alasan yang jelas.
Menghargai pendapat remaja tidak berarti mengabaikan keselamatannya.
Biarkan anak menyelesaikan penjelasannya ketika kondisi memungkinkan.
Mendengarkan bukan berarti menyetujui semua hal.
Orang tua dapat mengatakan, “Bunda ingin mendengar alasanmu dulu, setelah itu kita bicarakan aturannya.”
Anak mungkin mempunyai alasan yang masuk akal, tetapi menyampaikannya dengan nada tidak sopan.
Dalam keadaan tersebut, orang tua dapat mengakui pendapatnya sambil mengingatkan batas komunikasi.
“Bunda paham kamu tidak setuju. Kamu boleh menjelaskan alasannya, tetapi tidak perlu berteriak.”
Ketika orang tua dan anak sama-sama marah, pembicaraan sering berubah menjadi pertengkaran.
Jika tidak ada bahaya mendesak, percakapan dapat dilanjutkan setelah keduanya lebih tenang.
“Sekarang kita sama-sama kesal. Kita bicarakan lagi setelah suasananya lebih tenang.”
Jangan menggunakan jeda sebagai bentuk pengabaian atau hukuman emosional berkepanjangan.
Aturan lebih mudah dipahami ketika anak mengetahui tujuannya.
Misalnya, batas waktu pulang bukan semata-mata karena orang tua ingin mengendalikan anak, tetapi berkaitan dengan keamanan dan kebutuhan istirahat.
Penjelasan disesuaikan dengan usia dan situasi.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir