KebonCinta.com-- Menghadapi anak yang sering membantah memang bisa menguras kesabaran orang tua. Ketika diberi nasihat, anak justru menjawab dengan nada tinggi, menolak perintah, atau berusaha mempertahankan pendapatnya. Situasi seperti ini terkadang membuat orang tua merasa tidak dihargai.
Namun, kebiasaan membantah tidak selalu berarti anak memiliki perilaku buruk. Ada kalanya anak sedang belajar menyampaikan keinginan, menunjukkan kemandirian, atau menguji batasan yang diterapkan di rumah. Karena itu, respons orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan sikap anak.
Alih-alih langsung memarahi atau membalas dengan suara keras, orang tua perlu memahami alasan di balik perilaku tersebut. Pendekatan yang tepat dapat membantu anak belajar menghormati orang lain sekaligus menyampaikan pendapat dengan cara yang lebih baik.
Lantas, bagaimana cara menghadapi anak yang suka membantah? Berikut lima langkah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Saat anak menolak perintah atau menjawab perkataan orang tua, cobalah untuk tidak langsung memotong pembicaraannya. Berikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan apa yang sebenarnya ia inginkan atau rasakan.
Bisa jadi anak membantah karena merasa tidak dipahami, sedang kecewa, atau memiliki alasan tertentu yang belum sempat disampaikan. Dengan mendengarkan, orang tua dapat mengetahui apakah penolakan tersebut muncul karena emosi sesaat atau memang ada persoalan yang perlu dibicarakan.
Misalnya, ketika anak tidak mau segera berhenti bermain, tanyakan alasan di balik penolakannya. Setelah itu, jelaskan mengapa ia perlu menyelesaikan aktivitas tersebut dan beralih ke kegiatan lain.
Kebiasaan mendengarkan juga mengajarkan anak bahwa pendapatnya dihargai. Dengan demikian, ia tidak harus selalu menggunakan nada tinggi untuk mendapatkan perhatian.
Membalas bantahan anak dengan bentakan justru berpotensi memperburuk keadaan. Anak bisa merasa diserang, kemudian semakin keras mempertahankan pendapatnya.
Orang tua sebaiknya berusaha menjaga nada bicara tetap tenang, meskipun sedang kesal. Jika suasana mulai memanas, tidak ada salahnya menghentikan pembicaraan sementara sampai kedua pihak lebih tenang.
Setelah emosi mereda, orang tua dapat kembali menjelaskan aturan yang berlaku. Sampaikan dengan kalimat sederhana dan tegas agar anak memahami bahwa tidak semua keinginannya bisa dipenuhi.
Sikap tenang bukan berarti orang tua membiarkan perilaku tidak sopan. Justru, cara tersebut menjadi contoh nyata bagi anak tentang bagaimana mengendalikan emosi ketika menghadapi perbedaan pendapat.
Anak perlu mengetahui perilaku apa yang diperbolehkan dan mana yang tidak bisa diterima. Karena itu, orang tua perlu menetapkan aturan sederhana yang mudah dipahami.
Contohnya, anak boleh menyampaikan ketidaksetujuan, tetapi tidak diperbolehkan menghina, berteriak, atau menggunakan kata-kata kasar. Jelaskan bahwa berbeda pendapat merupakan hal yang wajar selama disampaikan dengan sopan.
Aturan tersebut juga harus diterapkan secara konsisten.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir