Situasi kedua: Anak tidak mau berhenti bermain
Respons:
"Kamu masih ingin bermain. Setelah merapikan mainan, kita bersiap makan. Besok kamu bisa bermain lagi."
Situasi ketiga: Anak memukul karena kecewa
Respons:
"Ibu tidak membiarkan kamu memukul. Kita berhenti dulu sampai aman. Setelah tenang, kamu boleh cerita."
Ketiga contoh tersebut tidak perlu dihafalkan secara kaku.
Orang tua dapat menyesuaikan pilihan kata dengan usia dan kemampuan komunikasi anak.
Tantrum dapat menjadi bagian dari perkembangan anak, tetapi ada keadaan yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Misalnya, tantrum sangat sering atau berat hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, disertai cedera berulang, atau anak sulit kembali tenang dalam berbagai situasi.
Orang tua juga dapat berkonsultasi apabila perilaku tersebut disertai keterlambatan komunikasi, masalah tidur berat, atau perubahan perilaku yang mengkhawatirkan.
Dokter anak atau profesional kesehatan mental anak dapat membantu menilai kebutuhan lebih lanjut.
Jangan menetapkan diagnosis tertentu hanya berdasarkan satu atau dua kejadian tantrum.
Baca Juga: Kenapa Anak Sulit Sabar? Ini Kebiasaan yang Bisa Membantu Melatih Kontrol Diri
Tantrum ketika keinginan tidak dituruti merupakan kesempatan bagi anak untuk mempelajari keterampilan menghadapi perasaan yang kuat.
Orang tua dapat membantu melalui respons yang tenang, batasan yang konsisten, perhatian terhadap kebutuhan anak, serta latihan komunikasi setelah situasi mereda.
Keberhasilan pengasuhan tidak selalu berarti anak langsung berhenti menangis.
Yang lebih penting adalah anak secara bertahap belajar bahwa kekecewaan dapat dihadapi tanpa menyakiti diri sendiri atau orang lain.
Dengan pendampingan yang sabar dan sesuai perkembangan, kemampuan mengelola emosi dapat terus dibangun dalam kehidupan sehari-hari.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir