Kesepakatan tersebut sebaiknya realistis.
Jika kegiatan harus segera selesai, orang tua tetap perlu menyampaikan batasan dengan tenang.
Pilihan terbatas dapat membantu anak merasa dilibatkan.
Contohnya:
“Kamu mau mandi setelah menyimpan buku ini, atau kita siapkan handuk sekarang lalu langsung mandi?”
Pilihan harus sesuai keadaan dan usia anak.
Jangan memberikan pilihan palsu apabila sebenarnya anak tidak boleh memilih.
Misalnya, ketika harus segera berangkat ke sekolah, lebih tepat memberikan pilihan antara dua cara bersiap daripada pilihan apakah akan berangkat atau tidak.
Kadang-kadang, bagian yang paling sulit bukan menyelesaikan tugas, melainkan memulainya.
Orang tua dapat memberikan bantuan awal.
Misalnya:
“Bunda bantu memasukkan tiga balok pertama, setelah itu kamu lanjutkan, ya.”
Bantuan ini dapat dikurangi secara bertahap ketika anak sudah mampu melaksanakan tugas secara mandiri.
Tujuannya bukan agar orang tua terus mengerjakan semua pekerjaan anak, melainkan membantu anak mengembangkan keterampilan dan rasa percaya diri.
Ketika anak mulai mengikuti arahan, berikan apresiasi yang jelas.
Daripada hanya mengatakan “Anak pintar!”, orang tua dapat mengatakan:
“Terima kasih, kamu sudah membereskan mainan setelah selesai bermain.”
Apresiasi yang spesifik membantu anak mengetahui perilaku apa yang dihargai.
UNICEF juga mendorong penggunaan pujian yang tepat, aturan yang jelas, dan pendekatan pengasuhan yang tidak menggunakan kekerasan.
Baca Juga: Tiga Kalimat yang Sebaiknya Dihindari Orang Tua dan Guru Saat Berkomunikasi dengan Anak
Pilihan kata dapat memengaruhi suasana komunikasi di rumah.
Berikut beberapa contoh kalimat yang dapat disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
| Situasi | Kalimat yang sebaiknya dihindari | Alternatif yang lebih jelas |
|---|---|---|
| Mainan berserakan | “Berapa kali harus disuruh?” | “Sekarang masukkan balok ke kotak, ya.” |
| Anak menunda mandi | “Kamu susah sekali diatur!” | “Waktunya mandi. Mau siapkan handuk atau baju dulu?” |
| Anak menunda belajar | “Kamu memang malas!” | “Setelah istirahat, kita mulai dari tugas pertama.” |
| Anak tidak merespons | “Kamu dengar tidak?!” | “Sebentar, dengarkan Bunda dulu, ya.” |
| Anak berkata “nanti” | “Tidak ada nanti-nantian!” | “Kapan tepatnya? Kita sepakati waktu yang jelas.” |
Contoh tersebut bukan rumus yang selalu berhasil pada semua anak.
Orang tua tetap perlu melihat kemampuan, suasana hati, kebutuhan, dan kondisi keluarga.
Ada kalanya anak tetap menolak meskipun orang tua sudah memberikan instruksi yang jelas.
Dalam keadaan seperti ini, orang tua tidak perlu langsung berteriak atau mengancam.
Periksa kembali apakah tugas sesuai usia, instruksi dipahami, serta anak mempunyai kemampuan melakukannya.
Jika semuanya sudah jelas, orang tua dapat menerapkan konsekuensi yang masuk akal, proporsional, tidak menyakitkan, dan telah dijelaskan sebelumnya.
Misalnya, mainan perlu dibereskan sebelum anak mengambil permainan lain.
Orang tua dapat mengatakan:
“Mainan yang ini kita rapikan dulu sebelum mengambil permainan berikutnya.”
Kemudian bantu anak menjalankan aturan tersebut secara konsisten.
Hindari hukuman fisik, penghinaan, ancaman menakut-nakuti, maupun penarikan kasih sayang.
UNICEF menekankan bahwa disiplin positif tetap mempunyai aturan dan konsekuensi, tetapi dilaksanakan melalui bimbingan yang menghargai anak, bukan rasa takut.
Jika kegiatan tertentu selalu menimbulkan perdebatan, mungkin masalahnya bukan hanya pada cara memberikan instruksi, tetapi juga pada rutinitas keluarga.
Anak akan lebih mudah memahami harapan ketika kegiatan mempunyai urutan yang relatif konsisten.
Sebagai contoh, setelah pulang sekolah, anak dapat memiliki waktu makan dan istirahat sebelum memulai pekerjaan rumah atau belajar.
Rutinitas tidak harus terlalu kaku. Jadwal perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan istirahat, dan aktivitas keluarga.
KESEPAKATAN KEGIATAN HARIAN — CONTOH
| Kegiatan | Kesepakatan sederhana |
|---|---|
| Setelah bermain | Mainan dikembalikan sebelum mengambil permainan lain |
| Sebelum makan | Cuci tangan |
| Setelah pulang sekolah | Makan dan beristirahat |
| Waktu belajar | Mulai dari tugas yang disepakati |
| Menjelang tidur | Merapikan perlengkapan untuk esok hari |
Orang tua dapat melibatkan anak dalam menyusun kesepakatan tersebut.
Dengan begitu, aturan tidak hanya muncul sebagai perintah mendadak, melainkan bagian dari kebiasaan yang dipahami bersama.
Beberapa kebiasaan komunikasi dapat membuat persoalan kecil menjadi pertengkaran berulang.
Pertama, memberikan instruksi sambil berteriak dari ruangan lain tanpa memastikan anak mendengar.
Kedua, memberikan terlalu banyak perintah sekaligus.
Ketiga, menggunakan kata-kata yang tidak spesifik, seperti “yang rapi!” tanpa menjelaskan tugas yang dimaksud.
Keempat, meminta anak menyelesaikan pekerjaan yang belum sesuai dengan kemampuan usianya.
Kelima, terus mengulangi instruksi tanpa tindak lanjut yang jelas.
Keenam, membuat ancaman yang tidak realistis atau tidak berkaitan dengan tindakan anak.
Ketujuh, memberikan label “malas”, “nakal”, atau “tidak patuh” sebagai penilaian terhadap pribadi anak.
Kedelapan, menuntut kepatuhan segera dalam setiap keadaan tanpa mempertimbangkan kebutuhan istirahat atau situasi anak.
Kesembilan, hanya memperhatikan ketika anak menolak, tetapi jarang mengapresiasi ketika anak bekerja sama.
Kesepuluh, menetapkan aturan yang berubah-ubah tanpa penjelasan.
Perubahan kebiasaan membutuhkan latihan dan konsistensi. Orang tua tidak perlu menuntut hasil sempurna hanya dalam satu atau dua hari.
Menunda sesekali merupakan perilaku yang dapat terjadi dalam proses perkembangan anak.
Namun, apabila anak sangat sering kesulitan memulai atau menyelesaikan berbagai kegiatan, termasuk tugas sederhana yang sesuai usia, orang tua perlu melihat kondisinya lebih menyeluruh.
Perhatikan apakah kesulitan tersebut juga muncul di sekolah, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai persoalan perhatian, tidur, kecemasan, pendengaran, maupun kemampuan memahami instruksi.
Kebiasaan menjawab “nanti” saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya gangguan perkembangan tertentu.
Jika kekhawatiran berlangsung terus-menerus atau memengaruhi fungsi anak, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak, psikolog anak, atau profesional terkait untuk memperoleh penilaian yang sesuai.
Tujuannya adalah memahami kebutuhan anak, bukan mencari label atau menyalahkannya.
Baca Juga: Membangun Komunikasi Dua Arah: Agar Anak Tidak Takut Bercerita pada Orang Tua
Ketika anak menjawab “nanti”, orang tua mungkin langsung merasa bahwa permintaannya tidak dihargai.
Padahal, sebelum menilai perilaku tersebut sebagai pembangkangan, penting untuk memahami apakah anak sedang kesulitan berpindah aktivitas, belum memahami instruksi, membutuhkan bantuan, atau sedang mencoba menyampaikan keinginannya.
Komunikasi yang tenang bukan berarti membiarkan anak mengabaikan aturan.
Orang tua tetap dapat menetapkan batasan, menyampaikan harapan, serta menjalankan konsekuensi yang proporsional.
Perbedaannya terletak pada cara melakukannya.
Daripada mengulang perintah sampai emosi meningkat, orang tua dapat mendekati anak, memberikan instruksi yang spesifik, membuat kesepakatan waktu, dan mendampingi prosesnya.
Ketika anak mulai mampu bekerja sama, apresiasi sederhana juga membantu membangun kebiasaan positif.
Dengan pendekatan yang konsisten dan sesuai perkembangan, orang tua dapat membantu anak belajar bertanggung jawab tanpa menjadikan setiap permintaan sebagai sumber pertengkaran di rumah.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir