KebonCinta.com – Melihat anak memukul, mencubit, mendorong, atau menggigit temannya saat bermain tentu dapat membuat orang tua khawatir. Situasi tersebut terkadang terjadi secara tiba-tiba, misalnya ketika mainan yang diinginkan direbut, anak merasa kesal, atau tidak mendapatkan perhatian dari teman maupun orang dewasa.
Tidak sedikit orang tua yang langsung merasa malu ketika anak melakukan tindakan tersebut di depan umum. Sebagian bahkan menganggap perilaku itu sebagai tanda bahwa anak kurang dididik atau mempunyai sifat agresif.
Padahal, perilaku memukul dan menggigit pada anak usia dini dapat berkaitan dengan kemampuan mengelola emosi, keterampilan berkomunikasi, dan pengendalian impuls yang masih berkembang.
Anak balita belum selalu mampu menjelaskan perasaan marah, kecewa, takut, atau frustrasi menggunakan kata-kata. Dalam situasi tertentu, perasaan tersebut dapat diekspresikan melalui tindakan fisik.
Namun, memahami penyebabnya bukan berarti membenarkan perilaku yang menyakiti orang lain. Anak tetap perlu belajar bahwa memukul dan menggigit dapat menyebabkan rasa sakit serta tidak boleh dijadikan cara untuk menyelesaikan masalah.
Karena itu, orang tua perlu merespons dengan tenang tetapi tegas, menghentikan tindakan yang membahayakan, dan mengajarkan cara lain untuk menyampaikan perasaan.
Lantas, mengapa anak suka memukul atau menggigit temannya? Apakah perilaku tersebut masih termasuk bagian dari perkembangan balita? Bagaimana cara orang tua menghentikannya tanpa membentak atau memberikan hukuman fisik?
Perilaku memukul dan menggigit dapat muncul karena berbagai alasan. Penyebabnya tidak selalu sama pada setiap anak sehingga orang tua perlu memperhatikan situasi sebelum dan sesudah perilaku tersebut terjadi.
ZERO TO THREE, lembaga yang berfokus pada perkembangan anak usia dini, menjelaskan bahwa perilaku menggigit dapat menjadi cara anak menghadapi situasi yang sulit, mengekspresikan perasaan kuat, meminta ruang pribadi, atau memenuhi kebutuhan sensorik.
Berikut beberapa penyebab yang perlu dipahami.
Anak usia dini masih mengembangkan kemampuan bahasa dan komunikasi. Ketika merasa marah atau kecewa, mereka belum tentu mampu menjelaskan apa yang sedang dirasakan.
Misalnya, seorang anak ingin bermain dengan mobil-mobilan milik temannya, tetapi tidak tahu bagaimana cara meminta secara baik. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, ia mungkin langsung memukul atau merebut mainan tersebut.
Dalam situasi ini, tindakan fisik dapat menjadi bentuk komunikasi yang belum tepat.
Orang tua perlu membantu anak mengenali perasaan dan memberikan contoh kalimat sederhana yang dapat digunakan.
Contohnya:
Semakin baik kemampuan komunikasi anak berkembang, semakin banyak pilihan yang dapat digunakan untuk menyampaikan keinginannya tanpa menyakiti orang lain.
Kemampuan mengendalikan impuls atau dorongan untuk langsung bertindak masih berkembang selama masa kanak-kanak.
Anak mungkin mengetahui bahwa memukul tidak diperbolehkan, tetapi belum mampu menghentikan tindakannya ketika sedang sangat marah atau frustrasi.
Sebagai contoh, ketika mainannya direbut, anak langsung mendorong temannya sebelum sempat memikirkan akibatnya.
Kondisi ini dapat terjadi karena kemampuan pengaturan emosi dan fungsi eksekutif otak masih berkembang.
Orang tua perlu mengajarkan pengendalian diri secara bertahap melalui contoh, pengulangan, dan pendampingan ketika anak menghadapi konflik.
Konflik mengenai mainan sering terjadi ketika anak bermain bersama teman atau saudara.
Sebagian anak belum memahami konsep berbagi dan bergiliran secara konsisten. Mereka mungkin menganggap mainan yang sedang digunakan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan.
Ketika teman mengambil benda tersebut, anak dapat merespons dengan memukul, mencubit, atau menggigit.
Orang tua dapat membantu dengan mengajarkan cara meminta kembali mainan, bergiliran, dan menggunakan bantuan orang dewasa ketika terjadi konflik.
Jangan langsung memberi label bahwa anak egois atau nakal. Fokuslah pada perilaku yang perlu diperbaiki dan keterampilan sosial yang perlu dipelajari.
Anak yang lapar, mengantuk, lelah, atau terlalu banyak menerima rangsangan dapat lebih mudah mengalami kesulitan mengendalikan emosi.
Dalam kondisi tersebut, persoalan kecil dapat memicu reaksi yang lebih besar.
Misalnya, anak yang sudah lelah setelah bermain seharian mungkin langsung memukul ketika temannya mengganggu mainannya.
Orang tua perlu memperhatikan pola kemunculan perilaku tersebut.
Apakah anak lebih sering memukul ketika menjelang tidur? Apakah perilaku muncul ketika belum makan? Atau ketika berada di lingkungan yang terlalu ramai?
Mengetahui pemicunya dapat membantu orang tua mencegah tindakan sebelum terjadi.
Sebagian anak mungkin menyadari bahwa tindakan memukul atau menggigit membuat orang dewasa langsung memberikan perhatian.
Walaupun perhatian tersebut berupa teguran, anak tetap memperoleh respons yang cukup besar dari lingkungan.
Hal ini tidak berarti anak selalu sengaja menyakiti orang lain untuk mendapatkan perhatian. Namun, pola respons orang dewasa dapat memengaruhi apakah perilaku tersebut akan berulang.
ZERO TO THREE menyarankan agar perhatian utama setelah kejadian menggigit diberikan terlebih dahulu kepada anak yang terluka.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir