Setiap pesantren mempunyai karakteristik, budaya, sistem pendidikan, dan pola pembinaan yang berbeda.
Ada pesantren yang lebih menekankan pendidikan kitab kuning, tahfiz Al-Qur'an, pendidikan formal, bahasa asing, atau kombinasi berbagai bidang.
Perbedaan tersebut dapat memengaruhi pengalaman belajar dan kenyamanan anak.
Sebagai contoh, anak yang awalnya tertarik pada program tahfiz mungkin merasa kesulitan mengikuti target hafalan. Anak lain mungkin merasa kurang cocok dengan metode pembelajaran atau sistem kedisiplinan yang diterapkan.
Ketidakcocokan tidak selalu berarti pesantren tersebut buruk atau anak tidak mampu mengikuti pendidikan.
Orang tua perlu memeriksa apakah masalah dapat diselesaikan melalui komunikasi, penyesuaian program, pendampingan belajar, atau memang membutuhkan lingkungan pendidikan yang lebih sesuai.
Keputusan memasukkan anak ke pesantren sering kali didasarkan pada harapan orang tua.
Sebagian orang tua ingin anak lebih memahami agama, lebih disiplin, atau mempunyai lingkungan pergaulan yang dianggap lebih baik.
Namun, apabila anak tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, ia mungkin merasa sedang menjalani pilihan yang sepenuhnya ditentukan orang lain.
Perasaan tersebut dapat menimbulkan penolakan, terutama ketika anak menghadapi kesulitan pertama di pesantren.
Orang tua perlu membantu anak memahami tujuan pendidikan yang dipilih tanpa mengabaikan perasaan dan kebutuhannya.
Penting untuk membangun kesepakatan bersama agar anak mempunyai alasan dan motivasi yang lebih kuat dalam menjalani pendidikan.
Tidak setiap permintaan pindah berarti anak harus segera dikeluarkan dari pesantren.
Ada kondisi ketika anak sebenarnya masih mempunyai keinginan untuk melanjutkan pendidikan, tetapi membutuhkan dukungan untuk menghadapi perubahan lingkungan.
Beberapa tanda yang dapat diamati antara lain:
Tanda-tanda tersebut bukan alat diagnosis atau jaminan bahwa anak pasti akan cocok dengan pesantren.
Namun, jika lingkungan aman dan persoalan yang dialami masih berkaitan dengan adaptasi, orang tua dapat mempertimbangkan pendampingan secara bertahap sebelum mengambil keputusan pindah.
Berbeda dengan kesulitan adaptasi biasa, ada kondisi yang menunjukkan bahwa lingkungan pesantren perlu dievaluasi secara serius.
Orang tua tidak boleh hanya berfokus pada kemampuan anak bertahan, tetapi juga harus menilai apakah lingkungan pendidikan tersebut benar-benar aman dan mendukung perkembangannya.
Berikut beberapa kondisi yang perlu menjadi perhatian.
Jika anak menceritakan adanya kekerasan fisik, seksual, ancaman, pemaksaan, atau perlakuan yang merendahkan martabatnya, orang tua perlu segera mengambil langkah perlindungan.
Jangan memaksa anak tetap tinggal di lingkungan yang diduga membahayakan dirinya hanya dengan alasan menghormati pengasuh atau menjaga nama baik pesantren.
Apabila terdapat risiko keselamatan, prioritaskan membawa anak ke tempat aman dan mencari bantuan medis, psikologis, serta hukum sesuai kebutuhan.
Perhatikan apabila anak menunjukkan ketakutan yang sangat kuat setiap kali harus kembali ke pesantren.
Misalnya, anak panik ketika mendengar nama pengasuh tertentu, menolak kembali ke asrama, atau menunjukkan perubahan perilaku yang tidak biasa.
Kondisi tersebut perlu diperiksa lebih lanjut. Orang tua sebaiknya tidak langsung menganggapnya sebagai homesickness atau sikap manja.
Perubahan kesehatan yang berlangsung terus-menerus perlu mendapatkan perhatian.
Beberapa tanda yang dapat diamati meliputi:
Jika kondisi tersebut muncul, orang tua perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau psikolog untuk mengetahui penyebabnya.
Orang tua perlu memperhatikan bagaimana pesantren merespons keluhan yang disampaikan anak maupun keluarga.
Apabila laporan mengenai perundungan, kekerasan, kondisi kesehatan, atau masalah keselamatan tidak ditanggapi dengan serius, hal tersebut merupakan alasan kuat untuk mengevaluasi lingkungan pendidikan.
Pesantren yang baik seharusnya mempunyai mekanisme komunikasi, pendampingan, dan penanganan masalah yang jelas.
Jika anak terus mengalami kesulitan belajar tanpa pendampingan yang memadai, orang tua dapat mengevaluasi kesesuaian program pendidikan.
Pindah pesantren atau sekolah dapat dipertimbangkan apabila kebutuhan pendidikan anak tidak dapat dipenuhi melalui penyesuaian yang realistis.
Namun, keputusan tersebut sebaiknya dilakukan setelah berdiskusi dengan anak, guru, pengasuh, dan pihak terkait.
Agar tidak mengambil keputusan secara terburu-buru, orang tua dapat menggunakan gambaran berikut sebagai bahan evaluasi.
| Kondisi Anak | Langkah yang Dapat Dipertimbangkan |
|---|---|
| Rindu rumah tetapi masih merasa aman | Pendampingan adaptasi dan komunikasi keluarga |
| Belum mempunyai teman dekat | Dukungan pengasuh dan pendampingan sosial |
| Kesulitan mengikuti jadwal kegiatan | Evaluasi rutinitas dan kebutuhan istirahat |
| Kesulitan memahami pelajaran | Pendampingan akademik dan evaluasi program |
| Mengalami konflik pertemanan yang dapat diselesaikan | Mediasi dan pemantauan pihak pesantren |
| Mengalami perundungan atau kekerasan | Perlindungan segera dan evaluasi serius terhadap lingkungan |
| Mengalami gangguan kesehatan atau tekanan psikologis berat | Pemeriksaan profesional dan penyesuaian lingkungan pendidikan |
| Keluhan terus berulang tanpa perbaikan | Evaluasi menyeluruh dan pertimbangan pindah |
Tabel tersebut bukan aturan mutlak. Setiap anak mempunyai kondisi dan kebutuhan berbeda.
Hal yang paling penting adalah membedakan kesulitan yang masih dapat diatasi melalui pendampingan dengan kondisi yang mengharuskan anak segera dilindungi dari lingkungan yang tidak aman.
Ketika anak meminta pindah, orang tua perlu menempatkan diri sebagai pihak yang membantu mencari solusi, bukan langsung menjadi pihak yang menolak atau menyetujui tanpa memahami masalah.
Berikut langkah yang dapat dilakukan.
Langkah pertama adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk bercerita secara terbuka.
Jangan langsung mengatakan bahwa anak kurang bersyukur, tidak mandiri, atau tidak kuat menghadapi tantangan.
Gunakan pertanyaan yang membuat anak merasa aman, seperti:
Jika anak menyampaikan dugaan kekerasan atau pelecehan, jangan menginterogasi secara berulang. Dengarkan dengan tenang, catat informasi yang disampaikan, dan prioritaskan perlindungan anak.
Orang tua perlu memperhatikan kapan permintaan pindah mulai muncul dan bagaimana perkembangannya.
Apakah anak baru meminta pindah setelah beberapa hari masuk pesantren? Apakah keluhan muncul setiap kali kembali dari rumah? Ataukah anak terus mengeluh selama berbulan-bulan meskipun sudah mendapatkan pendampingan?
Informasi tersebut membantu memahami apakah anak sedang mengalami proses adaptasi atau menghadapi masalah yang belum terselesaikan.
Namun, untuk dugaan kekerasan dan ancaman keselamatan, orang tua tidak perlu menunggu sampai keluhan berulang untuk bertindak.
Jika persoalan berkaitan dengan adaptasi, jadwal, atau kegiatan belajar, orang tua dapat menghubungi pengasuh, musyrif, musyrifah, atau wali santri.
Diskusikan kondisi anak secara konkret, bukan hanya menyampaikan bahwa anak tidak betah.
Tanyakan apakah anak menunjukkan perubahan perilaku, bagaimana hubungan sosialnya, serta apakah terdapat kesulitan mengikuti kegiatan.
Pastikan komunikasi dilakukan dengan tetap memperhatikan kenyamanan anak.
Jika keluhan berkaitan dengan dugaan kekerasan oleh seseorang di lingkungan pesantren, jangan mempertemukan anak secara paksa dengan orang yang diduga melakukan kekerasan. Gunakan jalur perlindungan dan pelaporan yang aman.
Orang tua tetap dapat memberikan perhatian dan dukungan meskipun anak tinggal jauh dari rumah.
Komunikasi yang teratur, pesan yang menenangkan, serta perhatian terhadap perkembangan anak dapat membantu membangun rasa aman.
Namun, dukungan tidak berarti orang tua harus selalu menyelesaikan semua masalah anak.
Bantu anak mengembangkan kemampuan mengambil keputusan, mengelola emosi, dan meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan.
Penelitian dalam Qalamuna tahun 2026 menunjukkan bahwa dukungan sosial dan kemampuan penyesuaian diri berkaitan dengan tingkat homesickness santri baru.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir