Parenting
Rahman Abdullah

Anak Sering Bilang Orang Tua Kuno? Ini 5 Tips Parenting Gen Z agar Hubungan Tetap Hangat

Anak Sering Bilang Orang Tua Kuno? Ini 5 Tips Parenting Gen Z agar Hubungan Tetap Hangat

23 Oktober 2026 | 12:46

KebonCinta.com- Pernah mendengar anak berkata bahwa orang tuanya sudah ketinggalan zaman? Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, perbedaan cara pandang antara orang tua dan anak memang kerap memicu kesalahpahaman.

Bagi sebagian orang tua, kebiasaan anak yang sulit lepas dari ponsel atau aktif di media sosial mungkin terasa berlebihan. Sebaliknya, bagi anak yang tumbuh bersama internet, teknologi sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Generasi Z atau Gen Z umumnya merujuk pada mereka yang lahir pada 1997–2012. Mereka tumbuh ketika internet, gadget, dan media sosial semakin mudah diakses. Kondisi ini turut memengaruhi cara mereka berkomunikasi, belajar, membangun pertemanan, hingga mengekspresikan diri.

Karena itu, mendidik anak Gen Z tidak cukup hanya mengandalkan pola asuh yang diterapkan pada generasi sebelumnya. Orang tua perlu menyesuaikan pendekatan tanpa harus kehilangan nilai-nilai penting dalam keluarga.

Lantas, bagaimana cara membangun hubungan yang tetap dekat dengan anak Gen Z? Berikut lima tips parenting yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Ingin Maksimalkan Keutamaan Hari Jumat? Kenali 10 Amalan Sunnah Ini 

1. Bangun Komunikasi Dua Arah, Bukan Sekadar Memberi Perintah

Anak akan lebih mudah menyampaikan isi pikirannya ketika merasa didengarkan. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak selalu menempatkan diri sebagai pihak yang paling benar dalam setiap percakapan.

Berikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pendapat, menjelaskan alasan di balik pilihannya, dan menyampaikan perasaan tanpa langsung dihakimi.

Bukan berarti semua keinginan anak harus dituruti. Orang tua tetap perlu memberikan arahan dan menetapkan batasan yang jelas. Bedanya, aturan disampaikan melalui dialog yang saling menghargai, bukan hanya perintah sepihak.

Ketika komunikasi berjalan lebih terbuka, anak berpeluang lebih nyaman bercerita dan memahami alasan di balik keputusan orang tuanya.

2. Kenali Dunia Digital yang Dekat dengan Anak

Orang tua tidak harus menjadi ahli teknologi untuk memahami kehidupan digital anak. Mengenali platform yang sering mereka gunakan, seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, sudah bisa menjadi langkah awal.

Cobalah bertanya tentang konten yang mereka sukai, kreator yang mereka ikuti, atau tren yang sedang ramai dibicarakan. Cara sederhana ini dapat membuka percakapan sekaligus membantu orang tua memahami minat anak.

Pemahaman teknologi juga penting untuk mendampingi anak menghadapi risiko di internet, mulai dari perundungan daring hingga paparan konten yang tidak sesuai usia.

Pendampingan sebaiknya dilakukan dengan komunikasi yang terbuka dan menghormati privasi anak sesuai usia serta tingkat kedewasaannya. Dengan begitu, pengawasan tidak selalu terasa sebagai bentuk kecurigaan.

Baca Juga: Amalan Setelah Shalat Jumat yang Bisa Diamalkan, Baca 4 Surat Ini Masing-Masing 7 Kali 

3. Buat Aturan Gadget yang Masuk Akal dan Konsisten

Melarang penggunaan gadget sepenuhnya bukan selalu menjadi solusi yang efektif. Ponsel dan internet juga digunakan anak untuk belajar, berkomunikasi, mencari informasi, serta mengembangkan keterampilan.

Daripada menerapkan larangan tanpa penjelasan, orang tua dapat menyusun kesepakatan mengenai waktu penggunaan perangkat. Misalnya, menetapkan waktu khusus untuk belajar, beristirahat, beraktivitas bersama keluarga, dan bermain gim.

Libatkan anak ketika membicarakan aturan tersebut. Jelaskan alasan di balik setiap batasan, termasuk pentingnya tidur yang cukup dan menyediakan waktu untuk aktivitas di luar layar.

Aturan yang disepakati bersama akan lebih mudah dipahami jika diterapkan secara konsisten.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting Gen Z Pola Asuh Anak Generasi Z

Komentar Pengguna