Parenting
M. Panji Maulana

Anak Sering Berkata “Aku Tidak Bisa” sebelum Mencoba? Cara Menumbuhkan Keberanian Belajar

Anak Sering Berkata “Aku Tidak Bisa” sebelum Mencoba? Cara Menumbuhkan Keberanian Belajar

29 Oktober 2026 | 00:59

KebonCinta.com – Ketika diminta mencoba kegiatan baru, sebagian anak langsung menjawab, "Aku tidak bisa." Kalimat tersebut dapat muncul saat anak belajar membaca, mengerjakan soal matematika, menggambar, atau mencoba keterampilan sederhana seperti mengikat tali sepatu.

Padahal, anak mungkin belum benar-benar mencoba kegiatan yang diberikan.

Situasi ini terkadang membuat orang tua khawatir. Ada yang kemudian memberikan dorongan dengan mengatakan bahwa tugas tersebut sangat mudah. Ada pula yang segera mengerjakan tugas untuk anak agar kegiatan cepat selesai.

Namun, kedua respons tersebut belum tentu membantu anak membangun keyakinan terhadap kemampuannya sendiri.

Anak perlu mendapatkan kesempatan mencoba, melakukan kesalahan, memperoleh bantuan yang sesuai, dan melihat bahwa kemampuannya dapat berkembang melalui latihan.

American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa menerima kesalahan dan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar merupakan salah satu unsur penting dalam membangun penghargaan diri yang sehat.

Mengapa Anak Mengatakan “Aku Tidak Bisa”?

Kalimat "Aku tidak bisa" dapat mempunyai arti berbeda bagi setiap anak.

Sebagian anak belum memahami instruksi yang diberikan. Sebagian lainnya merasa takut melakukan kesalahan karena pernah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan.

Ada pula anak yang membandingkan kemampuannya dengan saudara atau teman yang terlihat lebih cepat menguasai keterampilan tertentu.

Misalnya, seorang anak melihat temannya sudah mampu membaca lancar, sedangkan dirinya masih mengeja.

Ketika diminta membaca cerita, ia mungkin mengatakan tidak bisa karena khawatir salah di depan orang lain.

Namun, orang tua tidak sebaiknya langsung menyimpulkan bahwa anak malas atau tidak memiliki motivasi.

Langkah awal yang lebih bermanfaat adalah memahami apa yang membuat anak enggan mencoba.

1. Dengarkan Alasan Anak sebelum Memberikan Nasihat

Ketika anak mengatakan tidak bisa, orang tua dapat bertanya dengan tenang.

"Bagian mana yang menurutmu sulit?"

"Apakah kamu bingung harus mulai dari mana?"

"Apakah kamu takut salah?"

Pertanyaan tersebut membantu membedakan kesulitan memahami tugas dengan kekhawatiran terhadap hasil.

Jika anak menjelaskan bahwa soalnya terlalu panjang, orang tua dapat membantunya membaca instruksi.

Jika anak takut diejek, perasaan tersebut perlu didengarkan terlebih dahulu.

Hindari respons seperti "Begitu saja tidak bisa?" karena kalimat tersebut tidak menjelaskan cara menyelesaikan masalah.

2. Ubah Fokus dari Hasil Menjadi Proses

Anak yang hanya memperoleh pujian ketika mendapatkan nilai tinggi dapat menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang memalukan.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan usaha dan strategi yang digunakan.

Misalnya, ketika anak berusaha menyelesaikan soal sulit, katakan:

"Tadi kamu mencoba dua cara sebelum menemukan jawabannya."

Pujian seperti ini lebih spesifik daripada sekadar mengatakan anak sangat pintar.

AAP juga menjelaskan bahwa umpan balik yang memperhatikan usaha dan perkembangan dapat membantu anak menghadapi tantangan.

Namun, pujian sebaiknya tetap jujur. Jangan menyebut hasil yang salah sebagai benar hanya demi menjaga perasaan anak.

3. Kenalkan Kata “Belum” secara Tepat

Salah satu cara yang dapat dicoba adalah membantu anak mengubah kalimat "Aku tidak bisa" menjadi "Aku belum bisa."

Perubahan tersebut mengingatkan bahwa kemampuan dapat berkembang.

Misalnya:

"Aku belum bisa membaca kata ini dengan lancar."

"Aku belum bisa mengerjakan soal ini sendiri."

Namun, kata "belum" bukan jaminan bahwa semua keterampilan pasti dapat dikuasai dalam waktu singkat.

Anak tetap membutuhkan latihan, bantuan, dan strategi yang sesuai.

Jika tugas ternyata terlalu sulit, orang tua perlu menyesuaikan tingkat kesulitannya.

4. Bagi Tugas Menjadi Langkah Kecil

Tugas yang terlihat besar dapat membuat anak merasa kewalahan.

Misalnya, anak diminta mengerjakan sepuluh soal pembagian sekaligus.

Orang tua dapat memulainya dengan satu soal sederhana.

Setelah anak memahami langkahnya, lanjutkan ke soal berikutnya.

Cara yang sama dapat digunakan ketika belajar membaca.

Daripada langsung meminta anak membaca satu halaman, ajak ia membaca satu kalimat atau beberapa kata.

Ketika berhasil menyelesaikan bagian kecil, anak memperoleh pengalaman konkret bahwa dirinya mampu membuat kemajuan.

Baca Juga: Anak Sulit Belajar Bukan Berarti Tidak Pintar, Ini 7 Cara Orang Tua Membantunya Berkembang

5. Jangan Langsung Mengambil Alih Pekerjaan Anak

Orang tua terkadang ingin membantu dengan menyelesaikan seluruh tugas.

Misalnya, ketika anak kesulitan memasang kancing baju, orang tua langsung memasangkannya.

Bantuan tersebut memang membuat pekerjaan cepat selesai, tetapi anak kehilangan kesempatan berlatih.

Jika keadaan memungkinkan, berikan petunjuk kecil.

"Kita coba masukkan bagian kancing ini terlebih dahulu."

Setelah itu, beri kesempatan anak melanjutkan.

Namun, pendampingan bukan berarti membiarkan anak menghadapi kesulitan berat tanpa bantuan.

Bantuan perlu disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan anak.

6. Berikan Kesempatan Melakukan Kesalahan

Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.

Anak yang sedang belajar menulis mungkin menghasilkan bentuk huruf yang belum rapi.

Anak yang belajar berhitung mungkin menggunakan strategi yang belum tepat.

Orang tua dapat menunjukkan bagian yang perlu diperbaiki tanpa menyamakan kesalahan dengan kegagalan pribadi.

Misalnya:

"Bagian pertama sudah benar. Sekarang kita periksa langkah kedua."

Kalimat tersebut membantu anak memahami bahwa pekerjaannya dapat diperbaiki.

Jika kesalahan selalu diikuti kemarahan atau ejekan, anak mungkin semakin menghindari tantangan.

7. Hindari Membandingkan dengan Saudara atau Teman

Setiap anak mempunyai pengalaman, minat, dan perkembangan kemampuan yang berbeda.

Membandingkan anak dengan saudaranya dapat membuat ia semakin merasa tidak mampu.

Misalnya:

"Kakakmu dulu sudah lancar membaca pada usia ini."

Kalimat tersebut belum tentu membantu anak memahami langkah belajar berikutnya.

Lebih baik bandingkan kemajuan anak dengan kemampuan sebelumnya.

Contohnya:

"Minggu lalu kamu masih kesulitan membaca kata ini. Sekarang sudah bisa membacanya dengan lebih lancar."

Dengan demikian, anak belajar melihat perkembangan dirinya sendiri.

8. Berikan Pilihan yang Sesuai Kemampuan

Pilihan sederhana dapat membantu anak merasa memiliki kendali terhadap proses belajar.

Misalnya, orang tua menawarkan:

"Kamu mau mulai dari soal gambar atau soal cerita?"

"Kamu ingin berlatih membaca bersama Ibu atau mencoba satu kalimat sendiri dulu?"

Kedua pilihan tetap mengarah pada tujuan pembelajaran.

Namun, jangan memberikan pilihan yang sebenarnya tidak dapat dipenuhi.

Jika anak sedang kelelahan atau sakit, pertimbangkan apakah latihan perlu ditunda.

9. Tunjukkan bahwa Orang Dewasa Juga Belajar

Orang tua dapat menceritakan pengalaman ketika mempelajari sesuatu yang sulit.

Misalnya, belajar menggunakan aplikasi baru atau memasak menu yang belum pernah dicoba.

Ceritakan bahwa orang dewasa pun dapat membuat kesalahan.

Namun, hindari cerita yang selalu berakhir dengan keberhasilan luar biasa.

Anak juga perlu memahami bahwa beberapa keterampilan membutuhkan waktu panjang, dan tidak semua usaha langsung memberikan hasil sesuai harapan.

Contoh yang jujur membantu anak memandang kesulitan secara lebih realistis.

10. Contoh Respons terhadap Ucapan “Aku Tidak Bisa”

Ucapan AnakRespons yang Dapat Dicoba
"Aku tidak bisa menggambar.""Bagian mana yang mau kamu coba lebih dulu?"
"Soal ini terlalu sulit.""Kita baca instruksinya bersama, lalu kamu coba langkah pertama."
"Aku pasti salah.""Kalau salah, kita bisa periksa dan belajar dari kesalahannya."
"Temanku lebih pintar.""Kita lihat kemajuanmu sendiri, bukan membandingkan dengan teman."
"Aku menyerah.""Kamu boleh istirahat sebentar, lalu kita pikirkan cara lain."

Contoh tersebut perlu disesuaikan dengan usia, keadaan, dan kebutuhan anak.

11. Ajarkan Anak Menentukan Target Sederhana

Target yang terlalu besar dapat meningkatkan rasa takut gagal.

Misalnya, anak yang masih mengeja tidak harus langsung ditargetkan membaca satu buku dalam sehari.

Orang tua dapat membuat target membaca beberapa kalimat sesuai kemampuannya.

Ketika target tercapai, diskusikan apa yang membantu.

Jika belum tercapai, periksa apakah target perlu disesuaikan atau metode latihan perlu diubah.

Tujuan kegiatan bukan membuat anak terus mengejar prestasi, melainkan membangun pengalaman belajar yang sehat.

12. Kapan Perlu Bantuan Guru atau Profesional?

Jika anak terus-menerus menyatakan tidak mampu, sangat takut mencoba, atau menunjukkan tekanan emosional yang mengganggu kegiatan sehari-hari, orang tua dapat berdiskusi dengan guru.

Periksa apakah kesulitan muncul pada semua mata pelajaran atau hanya kemampuan tertentu.

Jika terdapat kesulitan belajar yang menetap, kecemasan berat, atau perubahan perilaku yang mengkhawatirkan, konsultasi dengan profesional yang sesuai dapat membantu.

Jangan menyimpulkan adanya gangguan hanya berdasarkan kalimat "Aku tidak bisa".

Penilaian perlu mempertimbangkan perkembangan dan keadaan anak secara lebih menyeluruh.

Baca Juga: Cara Melatih Anak agar Tidak Mudah Menyerah dan Berani Menghadapi Kegagalan

Menghargai Keberanian untuk Memulai

Keberanian belajar tidak berarti anak tidak pernah takut atau selalu berhasil.

Keberanian dapat terlihat ketika anak bersedia mencoba langkah pertama, bertanya saat kesulitan, atau kembali berlatih setelah melakukan kesalahan.

Orang tua berperan menyediakan lingkungan yang aman untuk melakukan proses tersebut.

Melalui dukungan yang realistis, tugas bertahap, dan penghargaan terhadap kemajuan, anak dapat membangun keyakinan bahwa kesulitan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti sebelum mencoba.

Tags:
Anak Tidak Percaya Diri Keberanian Belajar Growth Mindset Motivasi Anak Parenting Positif Anak Takut Gagal

Komentar Pengguna