Ketika hendak meninggalkan taman bermain atau menghentikan waktu menonton, berikan pemberitahuan terlebih dahulu. Misalnya, "Lima menit lagi kita pulang, ya." Anak juga dapat diberi pilihan sederhana, seperti memilih baju yang akan dipakai atau menentukan buku yang ingin dibaca sebelum tidur.
Pilihan tersebut memberi anak kesempatan untuk merasa dilibatkan tanpa menghilangkan peran orang tua dalam menetapkan aturan.
Yang tidak kalah penting, sediakan waktu untuk bermain, berbicara, dan membangun kedekatan. Hubungan yang hangat membantu anak merasa aman dan lebih mudah belajar menyampaikan kebutuhannya.
Baca Juga: 5 Manfaat Kurma bagi Kesehatan, dari Menjaga Jantung hingga Melancarkan Pencernaan
Tantrum dapat menjadi bagian dari perkembangan anak, tetapi pola dan dampaknya tetap perlu diperhatikan. Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional jika tantrum sangat sering, berlangsung lama, semakin intens, menyebabkan cedera, atau sangat mengganggu kegiatan sehari-hari.
Konsultasi juga patut dipertimbangkan jika anak mengalami kesulitan komunikasi yang mengkhawatirkan, kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, atau orang tua merasa kesulitan menjaga keselamatan anak ketika tantrum terjadi.
Tidak ada satu cara yang langsung berhasil untuk semua anak. Pendekatan yang tepat perlu mempertimbangkan usia, kemampuan komunikasi, kondisi kesehatan, serta situasi yang memicu tantrum.
Menghadapi tantrum bukan sekadar menghentikan tangisan secepat mungkin. Proses ini juga menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mengenali perasaan, menghadapi kekecewaan, dan memahami batasan.
Orang tua dapat memulainya dengan tetap tenang, menjaga keselamatan, memberikan ruang untuk meredakan emosi, serta mengajarkan cara berkomunikasi yang lebih baik setelah anak siap.
Perubahan tidak selalu terjadi dalam satu hari. Dengan pendampingan yang konsisten, aturan yang jelas, dan hubungan yang penuh perhatian, anak dapat belajar mengelola emosinya secara bertahap. Orang tua pun tidak perlu merasa gagal ketika tantrum masih terjadi, karena kemampuan mengatur emosi memang berkembang seiring waktu dan pengalaman.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir