KebonCinta.com - Belajar Bahasa Inggris tidak harus selalu dimulai dengan menghafalkan kosakata, memahami rumus tata bahasa, atau mengerjakan latihan tertulis. Bagi anak usia sekolah dasar, pengalaman belajar yang menyenangkan justru dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal bahasa asing.
Pendekatan inilah yang tengah disiapkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD pada tahun ajaran 2027/2028.
Pemerintah ingin memastikan bahwa pengenalan Bahasa Inggris sejak dini tidak menjadi beban tambahan bagi peserta didik. Sebaliknya, pembelajaran dirancang agar anak tertarik, berani mencoba, dan menikmati proses mengenal bahasa baru.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa program peningkatan kompetensi guru sekolah dasar menjadi bagian penting dari persiapan tersebut.
Baca Juga: Kemenag Siapkan Kuota PPG 2026 Lebih dari 40 Ribu Guru, Cek Kriteria dan Syaratnya!
Melalui Bantuan Pemerintah Pengembangan Kompetensi Guru SD dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD MBI), sebanyak 58.482 guru akan mendapatkan pelatihan untuk mempersiapkan diri mengajar mata pelajaran tersebut.
Penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib tidak dimaksudkan untuk langsung menjadikan siswa sekolah dasar mahir menggunakan bahasa asing.
Abdul Mu'ti menegaskan bahwa tujuan awal pembelajaran adalah mengenalkan dasar-dasar Bahasa Inggris sekaligus menumbuhkan ketertarikan anak untuk mempelajarinya.
"Titik tekan dari program ini bukanlah pada ekspertis (ahli) dalam bahasa Inggris bagi anak-anak kita, tetapi lebih kepada mengenalkan dasar-dasar dan juga menumbuhkan rasa cinta untuk anak-anak belajar bahasa Inggris," jelas Mu'ti.
Dengan orientasi tersebut, pembelajaran di kelas nantinya tidak harus didominasi penjelasan teori dan hafalan. Guru justru didorong memanfaatkan aktivitas yang dekat dengan dunia anak.
Lagu, pemutaran film, hingga permainan edukatif dapat digunakan untuk membantu peserta didik mengenali kosakata dan memahami penggunaan Bahasa Inggris dalam situasi sederhana.
Pendekatan ini diharapkan membuat anak lebih mudah berinteraksi dengan materi sekaligus membangun keberanian untuk mencoba berbicara.
Materi pembelajaran Bahasa Inggris untuk kelas 3 SD akan disusun dengan mengacu pada prinsip pembelajaran mendalam atau deep learning.
Terdapat tiga pendekatan yang menjadi perhatian, yaitu mindful, meaningful, dan joyful learning.
Ketiganya menekankan bahwa proses belajar seharusnya memberikan pengalaman yang disadari, memiliki makna bagi peserta didik, serta berlangsung dalam suasana yang menyenangkan.
Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa metode pembelajaran dapat memanfaatkan berbagai media kreatif agar anak tidak terus-menerus berhadapan dengan teori.
"Materi-materinya mungkin nanti akan banyak berupa lagu-lagu atau pemutaran film dan bentuk-bentuk permainan yang menstimulasi anak-anak untuk dapat belajar bahasa Inggris dengan gembira," sambungnya.
Melalui metode tersebut, anak dapat mengenal bahasa asing melalui aktivitas mendengarkan, mengamati, menirukan, dan berinteraksi.
Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar diharapkan tidak hanya berorientasi pada hasil tes, tetapi juga pengalaman belajar yang membangun rasa percaya diri.
Di balik pembelajaran yang menyenangkan, terdapat tantangan lain yang perlu dipersiapkan, yakni kesiapan tenaga pendidik.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Nunuk Suryani menyebutkan bahwa peningkatan kemampuan guru harus berjalan beriringan dengan penguatan kepercayaan diri.
Hal ini menjadi perhatian karena sebagian guru sekolah dasar yang akan mengajar Bahasa Inggris bukan berasal dari latar belakang pendidikan bahasa tersebut.
Menurut Nunuk, guru perlu memiliki keyakinan dan keterampilan yang memadai agar mampu mendampingi siswa secara komunikatif dan bermakna.
"Ditjen GTK berupaya terus untuk meningkatkan kompetensi dan yang paling penting, kepercayaan diri guru sekolah dasar yang memang bukan berlatar belakang bahasa Inggris dalam mendampingi peserta didik melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris yang menyenangkan, komunikatif, dan bermakna," ungkapnya.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Kemendikdasmen menyiapkan pelatihan selama 10 hari dengan total 80 jam pelajaran.
Kegiatan pelatihan mencakup pembelajaran tatap muka dan pelatihan mandiri. Guru juga akan mendapatkan kesempatan menyusun perangkat pembelajaran, melakukan praktik mengajar, serta mengembangkan metode yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Program PKGSD MBI menyasar 58.482 guru sekolah dasar di seluruh Indonesia. Mereka dipersiapkan untuk mendukung penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD.
Abdul Mu'ti menegaskan bahwa pemerintah tidak berencana menambah jumlah guru khusus untuk menjalankan kebijakan tersebut. Strategi yang dipilih adalah meningkatkan kemampuan tenaga pendidik yang telah tersedia.
Kebijakan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib sendiri telah tercantum dalam Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 dan dijadwalkan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2027/2028.
Persiapan ini menunjukkan bahwa perubahan pembelajaran membutuhkan lebih dari sekadar penyesuaian kurikulum. Guru harus mendapatkan dukungan kompetensi, perangkat ajar, dan metode pembelajaran yang sesuai.
Pada akhirnya, keberhasilan pengenalan Bahasa Inggris di sekolah dasar bukan hanya tentang seberapa cepat anak menguasai bahasa asing. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana sekolah mampu menghadirkan lingkungan belajar yang membuat anak berani mencoba, tidak takut melakukan kesalahan, dan memiliki rasa ingin tahu untuk terus belajar.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir