KebonCinta.com – Orang tua terkadang terkejut ketika mendengar anak mengucapkan kata kasar yang sebelumnya tidak pernah digunakan di rumah.
Kata tersebut mungkin berasal dari teman bermain, percakapan orang dewasa, video yang ditonton, atau lingkungan tempat tinggal.
Dalam situasi seperti ini, sebagian orang tua langsung memarahi anak atau menuntutnya menjelaskan dari siapa ia mendengar kata tersebut.
Ada pula yang tertawa karena merasa ucapan itu lucu ketika diucapkan anak kecil.
Padahal, respons orang dewasa dapat memengaruhi apakah anak mengulangi kata tersebut.
American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa anak dapat mengucapkan kata kasar tanpa memahami maknanya karena mendengar orang lain menggunakannya.
Karena itu, orang tua perlu memahami konteks sebelum memberikan tanggapan.
Anak belajar bahasa melalui percakapan yang didengar dan interaksi sehari-hari.
Mereka tidak selalu langsung memahami apakah suatu kata tergolong sopan, tidak pantas, atau menyakiti orang lain.
Misalnya, anak mendengar teman menggunakan kata tertentu ketika bermain.
Ia kemudian mengulangi kata tersebut karena terdengar menarik atau mendapatkan reaksi dari orang di sekitarnya.
Pada anak yang lebih besar, penggunaan kata kasar dapat berkaitan dengan keinginan diterima kelompok atau menunjukkan kemarahan.
Raising Children Network menjelaskan bahwa anak usia sekolah dapat menggunakan kata kasar untuk mengekspresikan emosi, meniru orang lain, atau menyesuaikan diri dengan lingkungan pertemanan.
Namun, alasan tersebut tidak otomatis membenarkan penggunaan kata yang menghina atau mengancam.
Ketika mendengar kata kasar, orang tua sebaiknya menjaga ketenangan.
Reaksi berupa bentakan, teriakan, atau hukuman yang mempermalukan dapat membuat situasi semakin tegang.
Sebaliknya, tertawa berlebihan juga dapat membuat anak menganggap kata tersebut sebagai cara memperoleh perhatian.
Respons yang lebih tepat bergantung pada situasi.
Jika anak kecil hanya mengulang kata tanpa memahami maknanya, orang tua dapat memberikan penjelasan singkat.
Misalnya:
"Kata itu tidak baik digunakan untuk berbicara dengan orang lain."
Kemudian berikan contoh kata yang lebih sesuai.
Orang tua dapat bertanya secara tenang:
"Kamu pernah mendengar kata itu di mana?"
Pertanyaan tersebut sebaiknya tidak disampaikan seperti interogasi.
Anak mungkin mendengarnya dari video, teman, atau seseorang yang lewat.
Namun, jangan langsung menyalahkan orang atau keluarga tertentu berdasarkan jawaban anak.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk memahami lingkungan bahasa yang sedang dihadapi.
Jika kata berasal dari tayangan, orang tua dapat memeriksa kesesuaian konten dengan usia anak.
Jika berasal dari interaksi pertemanan, orang tua dapat mengajarkan cara merespons tanpa ikut mengucapkan kata yang sama.
Anak yang baru belajar suatu kata mungkin mengulanginya karena penasaran.
Situasi tersebut berbeda dari tindakan sengaja menggunakan kata kasar untuk merendahkan orang lain.
Misalnya, seorang anak menyebut temannya menggunakan julukan yang menghina.
Dalam keadaan tersebut, orang tua perlu menghentikan tindakan dan membantu anak memahami akibatnya.
AAP menekankan bahwa kata kasar yang diarahkan kepada orang lain dalam kemarahan perlu ditangani secara tegas.
Namun, ketegasan tidak mengharuskan orang tua merendahkan anak.
Sampaikan bahwa tindakan menghina tidak diperbolehkan dan perlu diperbaiki.
Anak yang cukup usia dapat diajak memahami hubungan antara kata dan perasaan.
Misalnya:
"Kalau seseorang memanggilmu dengan kata yang menyakitkan, bagaimana perasaanmu?"
Pertanyaan itu membantu anak membayangkan dampak ucapannya.
Namun, hindari memberikan penjelasan yang terlalu panjang kepada balita.
Untuk anak kecil, gunakan kalimat sederhana seperti:
"Kita berbicara dengan kata yang tidak menyakiti."
Penjelasan dapat berkembang sesuai kemampuan memahami bahasa dan hubungan sosial.
Anak membutuhkan kata yang dapat digunakan ketika marah, kecewa, atau terkejut.
Misalnya, daripada mengucapkan hinaan, ia dapat mengatakan:
"Aku tidak suka."
"Aku sedang kesal."
"Tolong berhenti."
"Aku mau bermain sendiri dulu."
Raising Children Network menyarankan orang tua membantu anak menemukan cara lain untuk mengekspresikan emosi tanpa kata kasar.
Latihan dapat dilakukan ketika suasana tenang melalui permainan peran.
Baca Juga: Anak Belajar dari Contoh, Bukan Sekadar Ucapan
Sulit mengharapkan anak menghindari kata kasar jika orang dewasa di rumah sering menggunakannya.
Misalnya, seseorang mengucapkan makian ketika kesal menghadapi kemacetan atau kesalahan kecil.
Anak mungkin meniru ungkapan tersebut ketika merasa marah.
Karena itu, teladan menjadi bagian penting dalam pendidikan bahasa.
Jika orang tua terlanjur menggunakan kata kasar, ia dapat memperbaiki diri.
Misalnya:
"Tadi Ayah menggunakan kata yang tidak baik. Seharusnya Ayah mengatakan sedang kesal tanpa memaki."
Tindakan tersebut menunjukkan bahwa aturan komunikasi berlaku bagi seluruh anggota keluarga.
Ketika anak berkata kasar di depan tamu, orang tua mungkin merasa malu.
Namun, mempermalukan anak di hadapan banyak orang dapat membuatnya semakin defensif.
Hindari menyebut anak nakal atau tidak punya pendidikan.
Lebih baik berikan respons singkat ketika kejadian berlangsung.
Jika diperlukan, ajak anak berbicara secara pribadi.
Penjelasan yang lebih mendalam dapat diberikan setelah situasi tenang.
Tujuannya adalah mengajarkan perilaku yang benar, bukan menjadikan anak pusat perhatian negatif.
Anak dapat menemukan kata kasar melalui video, permainan daring, atau percakapan dalam fitur obrolan.
Orang tua perlu mengenal konten yang digunakan anak.
Periksa apakah tayangan sesuai usia dan apakah terdapat interaksi terbuka dengan pengguna lain.
Jika ditemukan konten yang tidak sesuai, bantu anak memilih alternatif.
Namun, pemantauan sebaiknya disertai komunikasi.
Anak perlu memahami alasan suatu konten dibatasi, bukan hanya menerima larangan tanpa penjelasan.
Keluarga dapat membuat kesepakatan sederhana.
Misalnya:
Aturan sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang sesuai usia.
Orang tua juga perlu menjalankannya.
Jika hanya anak yang dilarang sementara orang dewasa bebas memaki, pesan pendidikan menjadi tidak konsisten.
Saat menegur anak, orang tua terkadang meminta anak mengulangi kata yang baru didengarnya untuk memastikan apa yang dikatakan.
Namun, mengulang kata kasar berkali-kali dapat membuatnya semakin menonjol.
Jika orang tua sudah memahami konteks, tidak perlu terus meminta anak menyebutkannya.
Fokuslah pada aturan dan pilihan bahasa yang lebih baik.
Jika anak tidak memahami arti suatu kata, berikan penjelasan sesuai usia tanpa memperkenalkan rincian yang tidak diperlukan.
Orang tua sering bereaksi cepat ketika anak berkata kasar, tetapi tidak selalu memperhatikan ketika anak berbicara baik.
Padahal, perilaku positif juga perlu diperkuat.
Misalnya:
"Tadi kamu bilang sedang marah tanpa menghina. Itu cara yang baik untuk menyampaikan perasaan."
Pujian tersebut menunjukkan tindakan yang tepat.
Namun, jangan mengharapkan anak tidak pernah salah bicara.
Keterampilan komunikasi berkembang melalui latihan dan koreksi yang konsisten.
| Situasi | Contoh Respons |
|---|---|
| Anak meniru kata yang tidak dipahami | "Kata itu tidak baik diucapkan. Kalau penasaran, kamu boleh bertanya artinya." |
| Anak memaki karena kesal | "Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh menghina. Katakan apa yang membuatmu kesal." |
| Anak mengejek teman | "Ucapan itu menyakiti. Kita berhenti dan pikirkan cara memperbaikinya." |
| Anak mengulang kata dari video | "Kita pilih tayangan yang sesuai usia. Tidak semua kata dalam video pantas ditiru." |
| Anak berbicara kasar kepada orang tua | "Ibu mau mendengarkan, tetapi gunakan kata-kata yang tidak menghina." |
Kalimat tersebut merupakan contoh dan dapat disesuaikan dengan keadaan keluarga.
Jika anak masih sering berkata kasar, orang tua perlu mencari pola.
Apakah terjadi ketika marah, sedang bermain dengan kelompok tertentu, atau setelah menonton tayangan?
Perhatikan juga apakah perilaku tersebut disertai tindakan menyakiti, ancaman, atau kesulitan mengendalikan emosi.
Jika kata kasar digunakan untuk menargetkan orang tertentu, perilaku tersebut perlu ditangani dengan serius.
Jika terdapat kesulitan perilaku yang menetap dan mengganggu hubungan sosial, keluarga dapat berkonsultasi dengan guru atau profesional kesehatan anak.
Namun, penggunaan satu atau dua kata kasar saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya gangguan psikologis.
Baca Juga: Jangan Disepelekan, 4 Kata Sederhana Ini Bisa Membentuk Karakter Anak Sejak Dini
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir