Jika anak menangis keras di tengah keramaian, orang tua dapat mengajaknya berpindah ke tempat yang lebih nyaman dan aman.
Hindari menyeret, mengancam, atau mempermalukan anak di hadapan pengunjung lain.
Jika anak bersedia, duduklah bersamanya sejenak.
Sebagian anak merasa terbantu melalui pelukan, sedangkan anak lain mungkin membutuhkan ruang pribadi sambil tetap ditemani.
Tawarkan bantuan sesuai kebutuhan.
“Kamu mau Bunda peluk atau duduk sebentar di sini?”
Jangan memaksakan sentuhan apabila anak tidak menginginkannya.
Orang tua dapat memberikan pilihan sederhana untuk membantu anak kembali merasa mempunyai kendali atas situasi.
Contohnya:
“Kita tidak membeli mainan itu. Sekarang kamu mau bantu Bunda memilih buah atau langsung ke kasir?”
Pilihan tersebut memberikan ruang bagi anak untuk mengambil keputusan kecil, tetapi batasan mengenai pembelian barang tetap berlaku.
Untuk anak yang lebih kecil, pilihan sebaiknya tidak terlalu banyak agar tidak membingungkan.
Dalam situasi yang menegangkan, orang tua terkadang kesulitan menemukan kata-kata yang tepat.
Berikut beberapa contoh kalimat yang dapat digunakan sesuai kondisi.
| Situasi | Hindari kalimat | Alternatif respons |
|---|---|---|
| Anak meminta mainan | “Kamu minta terus!” | “Bunda tahu kamu suka mainan itu, tetapi hari ini kita tidak membelinya.” |
| Anak mulai menangis | “Diam! Memalukan!” | “Kamu kecewa, ya. Bunda temani sampai kamu lebih tenang.” |
| Anak terus merengek | “Kalau menangis lagi, Bunda tinggal!” | “Keputusan Bunda tetap sama. Kita bisa duduk sebentar.” |
| Anak marah | “Anak nakal!” | “Boleh marah, tetapi tidak boleh memukul atau melempar barang.” |
| Anak mulai tenang | “Nah, begitu dong!” | “Terima kasih sudah mencoba menenangkan diri. Sekarang kita lanjut, ya.” |
Contoh tersebut tidak harus diucapkan secara persis.
Orang tua dapat menyesuaikan pilihan kata dengan usia, kebiasaan komunikasi, dan kebutuhan masing-masing anak.
Jika anak menangis sambil menjatuhkan diri atau berguling di lantai, keselamatan harus menjadi perhatian utama.
Periksa apakah terdapat benda tajam, kendaraan belanja, rak barang, atau kondisi lain yang dapat membahayakan.
Orang tua dapat mendampingi anak dari jarak yang aman dan menghindari perdebatan panjang.
Jangan memaksa anak berdiri dengan cara kasar atau mengancam meninggalkannya.
Apabila memungkinkan, pindahkan anak ke tempat yang lebih aman menggunakan cara yang tidak menyakiti.
Saat emosinya mulai mereda, barulah berikan penjelasan singkat.
Misalnya:
“Tadi kamu sangat kecewa. Sekarang kita sudah lebih tenang. Kalau ingin sesuatu, kamu boleh bilang kepada Ayah, tetapi tidak boleh melempar barang.”
Tujuannya bukan menghukum anak karena menangis, melainkan membantunya belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang aman.
Baca Juga: Anak Menangis Jangan Langsung Diminta Diam, Respons Orang Tua Punya Peran Penting
Salah satu langkah pencegahan adalah menyampaikan tujuan berbelanja sebelum meninggalkan rumah.
Misalnya, orang tua mengatakan:
“Hari ini kita pergi membeli beras, telur, dan sabun. Kita tidak berencana membeli mainan.”
Kalimat tersebut membantu anak mengetahui apa yang akan dilakukan.
Untuk anak yang sudah lebih besar, orang tua dapat mengajaknya membuat daftar belanja sederhana.
Anak juga dapat diberi tugas kecil, seperti membantu mencari produk tertentu atau mencentang barang yang telah ditemukan.
Kegiatan semacam ini membuat anak merasa dilibatkan tanpa harus memperoleh barang baru.
Namun, jika orang tua sesekali ingin memberikan hadiah, keputusan tersebut tetap dapat dilakukan secara terencana.
Yang penting, anak tidak belajar bahwa tangisan keras merupakan satu-satunya cara memperoleh sesuatu.
Menerima penolakan merupakan keterampilan yang berkembang secara bertahap.
Anak membutuhkan kesempatan berlatih dalam berbagai situasi sederhana.
Misalnya, ketika anak ingin menonton acara tambahan menjelang tidur, orang tua dapat menjelaskan bahwa waktunya beristirahat.
Anak mungkin kecewa, tetapi aturan tetap diterapkan.
Dengan pendampingan yang konsisten, anak belajar bahwa keinginan dan kenyataan tidak selalu sama.
Orang tua juga dapat mengajarkan kalimat untuk menyampaikan kekecewaan.
“Aku sedih karena belum boleh.”
“Aku masih ingin main.”
“Aku kecewa, tetapi aku mau mencoba tenang.”
Kemampuan tersebut tidak muncul secara otomatis hanya karena orang tua sering mengatakan “jangan menangis”.
Anak perlu melihat contoh orang dewasa yang mampu menghadapi kekecewaan tanpa menyakiti orang lain.
Sebagian panduan pengasuhan membahas cara mengurangi perhatian terhadap perilaku tertentu yang bertujuan memperoleh respons, misalnya rengekan berulang.
CDC menjelaskan bahwa perhatian positif maupun negatif dapat memperkuat perilaku tertentu.
Namun, mengurangi perhatian terhadap rengekan tidak sama dengan mengabaikan keselamatan, kebutuhan fisik, atau emosi anak.
Jika anak menangis karena sakit, takut, lapar, kelelahan, atau membutuhkan pertolongan, orang tua tetap harus memberikan respons yang sesuai.
Ketika anak sedang kesulitan mengelola emosi, orang tua dapat tetap hadir dengan tenang tanpa terus memperdebatkan permintaan yang telah ditolak.
Jika terdapat perilaku yang membahayakan, seperti berlari ke jalan atau melempar barang kepada orang lain, orang tua perlu segera menghentikan perilaku tersebut secara aman.
Cara menghadapi permintaan yang tidak terpenuhi perlu mempertimbangkan usia dan kemampuan perkembangan.
| Usia anak | Pendekatan yang disarankan |
|---|---|
| 2–3 tahun | Gunakan kalimat sangat singkat, dampingi emosi, dan alihkan perhatian bila sesuai |
| 4–6 tahun | Jelaskan batasan sederhana dan berikan dua pilihan yang aman |
| 7–9 tahun | Ajak memahami aturan, waktu pembelian, dan konsekuensi keputusan |
| 10–12 tahun | Libatkan dalam kesepakatan keluarga dan diskusi mengenai prioritas |
| Remaja | Hormati pendapatnya, bahas pertimbangan keputusan, dan sepakati batasan yang realistis |
Pembagian usia tersebut merupakan panduan praktis, bukan aturan yang berlaku sama pada semua anak.
Sebagian anak membutuhkan dukungan tambahan karena perbedaan perkembangan, sensitivitas terhadap lingkungan, atau kondisi tertentu.
Ada beberapa respons yang sebaiknya dihindari ketika anak kecewa karena tidak memperoleh sesuatu.
Pertama, membeli barang hanya karena takut diperhatikan orang lain.
Kedua, memberikan ancaman akan meninggalkan anak di tempat umum.
Ketiga, mempermalukan anak dengan menyebutnya manja atau nakal di depan orang lain.
Keempat, membentak agar anak segera berhenti menangis.
Kelima, mengubah keputusan berkali-kali tanpa penjelasan yang jelas.
Keenam, memberikan ceramah panjang ketika anak sedang sangat emosional.
Ketujuh, memaksa anak langsung tersenyum atau meminta maaf karena merasa kecewa.
Kedelapan, menjanjikan hadiah palsu agar anak diam.
Kesembilan, membandingkan anak dengan saudara atau anak lain yang dianggap lebih patuh.
Kesepuluh, menganggap setiap tangisan sebagai perilaku manipulatif tanpa memeriksa kebutuhan anak.
Menghindari kesalahan tersebut membantu orang tua membangun batasan yang lebih sehat.
Menangis karena kecewa sesekali merupakan bagian yang dapat terjadi dalam perkembangan anak.
Namun, apabila ledakan emosi sangat sering, berlangsung lama, disertai perilaku berbahaya, atau mengganggu aktivitas keluarga secara serius, orang tua dapat mempertimbangkan konsultasi dengan profesional.
Hal serupa berlaku apabila anak mengalami kesulitan komunikasi yang menonjol, perubahan perilaku mendadak, atau tanda gangguan kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan.
Dokter anak atau psikolog anak dapat membantu menilai kondisi berdasarkan usia, perkembangan, dan situasi yang dialami.
Tangisan saat tidak dibelikan sesuatu saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak mengalami gangguan perilaku.
Ketika anak menangis karena tidak dibelikan sesuatu, orang tua menghadapi dua tanggung jawab sekaligus.
Pertama, menjaga batasan agar anak belajar memahami bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi.
Kedua, memberikan dukungan emosional agar anak tidak merasa ditinggalkan ketika mengalami kekecewaan.
Kedua hal tersebut tidak perlu dipertentangkan.
Orang tua dapat mengatakan tidak sambil tetap mendengarkan, menemani, dan membantu anak menenangkan diri.
Anak juga tidak harus langsung berhenti menangis agar respons orang tua dianggap berhasil.
Kemampuan menerima penolakan berkembang melalui pengalaman yang berulang, pendampingan, serta contoh dari orang dewasa.
Dengan komunikasi yang tenang dan batasan yang konsisten, pengalaman sederhana ketika berbelanja dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mengelola emosi, memahami keputusan, dan menghargai aturan keluarga.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir