keboncinta.com- Menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026, sebagian siswa kelas 12 mulai merasakan kecemasan. Mereka mungkin khawatir tidak mampu mengerjakan soal, memperoleh hasil di bawah harapan, atau mengecewakan orang tua.
Kekhawatiran tersebut dapat bertambah ketika siswa harus membagi waktu antara persiapan TKA, tugas sekolah, dan perencanaan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Dalam situasi ini, dukungan keluarga mempunyai peran penting. Namun, niat orang tua untuk memberikan motivasi terkadang justru berubah menjadi tekanan apabila disampaikan melalui tuntutan nilai, perbandingan dengan teman, atau jadwal belajar yang terlalu padat.
Lantas, bagaimana cara mendampingi anak kelas 12 menghadapi TKA 2026 tanpa membuatnya semakin cemas?
Berdasarkan pengumuman resmi Kemendikdasmen, pelaksanaan utama TKA untuk jenjang SMA/SMK/sederajat dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober hingga 8 November 2026.
Sementara itu, pelaksanaan susulan dijadwalkan pada 16–29 November 2026.
Sekolah perlu memastikan jadwal sesi masing-masing peserta berdasarkan penetapan penyelenggara.
Perlu dipahami bahwa TKA merupakan asesmen terstandar untuk mengukur capaian akademik siswa, bukan ujian yang menentukan kelulusan sekolah.
Menurut Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, TKA bersifat tidak wajib dan kelulusan tetap ditentukan oleh satuan pendidikan berdasarkan ketentuan penilaian yang berlaku.
Penjelasan ini penting disampaikan kepada siswa agar mereka memahami tujuan tes tanpa menganggap satu hasil ujian sebagai penentu seluruh masa depannya.
Kecemasan menghadapi ujian merupakan respons yang dapat muncul ketika seseorang merasa berada dalam situasi penuh tuntutan.
Siswa mungkin takut memperoleh nilai rendah, khawatir tidak memenuhi harapan keluarga, atau merasa kurang siap menghadapi soal.
Menurut UNICEF Indonesia, tekanan akademik seperti ujian dan tugas sekolah dapat menjadi sumber stres bagi anak dan remaja.
Dalam kadar tertentu, tekanan dapat mendorong seseorang mempersiapkan diri. Namun, stres yang berlebihan dapat mengganggu kondisi emosional, tidur, konsentrasi, dan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, orang tua perlu membedakan kecemasan yang masih dapat dikelola dengan keadaan yang mulai mengganggu kehidupan anak.
Ketika anak mengatakan takut menghadapi TKA, jangan langsung menjawab bahwa ia harus belajar lebih keras.
Cobalah mendengarkan terlebih dahulu.
Orang tua dapat bertanya:
"Apa yang paling membuat kamu khawatir tentang TKA?"
Berikan kesempatan kepada anak menjelaskan perasaannya tanpa dipotong atau langsung dikoreksi.
Setelah itu, bantu membedakan persoalan yang bisa dipersiapkan, seperti materi pelajaran, dengan hal yang berada di luar kendalinya, seperti tingkat kesulitan soal.
Respons yang memahami perasaan anak dapat membantu membangun komunikasi yang lebih terbuka.
Kalimat seperti "Temanmu sudah bisa, kenapa kamu belum?" dapat membuat anak merasa kemampuannya selalu dinilai berdasarkan pencapaian orang lain.
Padahal, setiap siswa mempunyai kecepatan belajar dan kebutuhan yang berbeda.
Daripada membandingkan hasil, orang tua dapat memperhatikan kemajuan pribadi anak.
Misalnya, anak yang sebelumnya kesulitan memahami soal matematika mulai mampu menyelesaikan beberapa jenis soal secara mandiri.
Kemajuan tersebut patut diapresiasi meskipun hasilnya belum sempurna.
Baca Juga: Hadapi TKA 2026, SMAN 1 Sabang Libatkan Orang Tua agar Siswa Siap Secara Akademik dan Mental
Orang tua dapat membantu anak membuat jadwal belajar berdasarkan kebutuhan dan kemampuan.
Misalnya, siswa membagi waktu untuk mempelajari materi yang belum dikuasai, mengerjakan latihan soal, serta meninjau kesalahan.
Hindari membuat jadwal belajar tanpa jeda sejak pulang sekolah hingga larut malam.
Berikan kesempatan untuk beristirahat, makan, beribadah, dan melakukan aktivitas yang disukai.
Jadwal sebaiknya disusun bersama anak agar ia merasa mempunyai kendali terhadap persiapannya.
Sebagian orang tua tanpa sadar menggunakan kalimat yang dapat memperberat tekanan.
Contohnya, "Kalau nilaimu jelek, masa depanmu akan gagal."
Kalimat seperti itu sebaiknya dihindari.
Orang tua dapat menggantinya dengan pesan yang lebih membangun:
"Kita persiapkan sebaik mungkin. Apa pun hasilnya, kita akan melihat langkah berikutnya bersama."
Pesan tersebut tidak menghilangkan pentingnya belajar, tetapi menegaskan bahwa dukungan keluarga tidak bergantung pada angka ujian.
Persiapan akademik perlu diimbangi kebutuhan dasar tubuh.
Anak yang terlalu sering begadang dapat mengalami kelelahan dan kesulitan berkonsentrasi.
Orang tua dapat membantu menjaga rutinitas tidur, menyediakan makanan yang cukup, serta mengingatkan anak untuk beristirahat setelah belajar.
Untuk remaja usia 13–17 tahun, kebutuhan tidur yang dianjurkan umumnya sekitar 8–10 jam setiap malam.
Menjelang ujian, usahakan jadwal tidur tetap teratur daripada memaksakan belajar semalaman.
Latihan soal dapat membantu siswa mengenali bentuk pertanyaan dan mengetahui materi yang masih perlu dipelajari.
Namun, orang tua tidak perlu memeriksa setiap jawaban atau terus-menerus menanyakan jumlah soal yang diselesaikan.
Cukup tanyakan apakah anak membutuhkan bantuan, bahan belajar, atau suasana yang lebih tenang.
Jika anak mengalami kesulitan akademik tertentu, orang tua dapat mengajak berdiskusi dengan guru mata pelajaran.
Dukungan yang diberikan sebaiknya membantu anak menjadi lebih mandiri, bukan membuatnya merasa selalu diawasi.
Kecemasan menjelang ujian dapat terlihat melalui perubahan perilaku.
Misalnya, anak sulit tidur, sering mengeluh sakit perut, mudah menangis, menjadi lebih sensitif, atau mulai menghindari kegiatan sekolah.
Orang tua perlu memperhatikan apakah perubahan tersebut berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Jika kecemasan semakin berat, pertimbangkan berkonsultasi dengan guru BK, psikolog, atau tenaga kesehatan yang kompeten.
Apabila anak menyampaikan keinginan menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan profesional dan pastikan keselamatannya.
Pada hari terakhir sebelum ujian, fokuslah membantu anak mempersiapkan kebutuhan praktis.
Pastikan jadwal dan lokasi ujian sudah diketahui, perlengkapan sesuai ketentuan telah disiapkan, serta waktu keberangkatan direncanakan.
Hindari memaksa anak menguasai seluruh materi baru pada malam terakhir.
Berikan kesempatan untuk mengulang catatan penting secara ringan, kemudian beristirahat.
Orang tua juga sebaiknya tidak menunjukkan kepanikan mengenai kemungkinan hasil ujian.
Ketika hasil TKA diumumkan, anak mungkin membutuhkan waktu untuk menerima pencapaiannya.
Jangan langsung menyalahkan atau membandingkannya dengan siswa lain.
Ajak anak memahami hasil secara objektif, mengevaluasi proses belajar, dan mempertimbangkan langkah pendidikan berikutnya.
Hasil TKA dapat menjadi salah satu informasi akademik, tetapi bukan satu-satunya ukuran kemampuan, karakter, dan potensi seseorang.
Baca Juga: Bukan Sekadar Nilai! Ini Fungsi Penting TKA 2026 yang Wajib Diketahui Siswa dan Orang Tua
Mendampingi anak menghadapi TKA 2026 bukan berarti memastikan seluruh jawabannya benar atau memaksanya selalu memperoleh nilai tertinggi.
Peran orang tua adalah menyediakan dukungan emosional, membantu persiapan yang realistis, serta menjaga agar anak tetap merasa dihargai terlepas dari hasil ujian.
Dengan komunikasi terbuka, waktu istirahat yang cukup, dan suasana keluarga yang mendukung, siswa kelas 12 dapat menghadapi TKA dengan kesiapan yang lebih seimbang, baik secara akademik maupun emosional.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir