Pendidikan
M. Panji Maulana

Anak Baru Masuk Pesantren dan Sering Rindu Rumah? Ini Cara Orang Tua Mendampinginya

Anak Baru Masuk Pesantren dan Sering Rindu Rumah? Ini Cara Orang Tua Mendampinginya

08 Oktober 2026 | 22:44

KebonCinta.com – Hari-hari pertama tinggal di pondok pesantren bisa terasa berat bagi sebagian santri. Anak yang sebelumnya dekat dengan orang tua harus menyesuaikan diri dengan jadwal belajar, teman sekamar, aturan asrama, dan lingkungan baru. Tidak mengherankan jika ada yang menangis saat menelepon atau meminta pulang.

Perasaan rindu rumah atau homesickness tidak selalu menandakan anak tidak cocok bersekolah di pesantren. Namun, keluhan tersebut juga tidak boleh langsung dianggap sepele. Orang tua perlu mendengarkan penyebabnya dan bekerja sama dengan pengasuh.

Mengapa Santri Baru Sering Rindu Rumah?

Homesickness adalah kerinduan terhadap rumah, keluarga, serta kebiasaan yang ditinggalkan ketika seseorang tinggal di tempat baru. Pada santri, perasaan ini bisa berkaitan dengan perubahan rutinitas, kesulitan berteman, atau belum terbiasa mengurus kebutuhan sendiri.

Penelitian dalam Jurnal Intelektualita tahun 2025 terhadap 231 santri menemukan hubungan antara rasa memiliki terhadap lingkungan pesantren (sense of belonging) dan tingkat homesickness. Temuan ini menekankan pentingnya membantu anak merasa diterima, bukan sekadar memintanya bertahan.

Baca Juga: Hari Santri 2026, Santri Didorong Jadi Penggerak Indonesia Menuju Indonesia Emas 

Cara Orang Tua Mendampingi Anak yang Homesick

1. Dengarkan tanpa mengecilkan perasaan anak.

Ketika anak berkata, “Aku kangen rumah,” hindari langsung menjawab, “Jangan manja!” Coba tanyakan kapan perasaan itu paling kuat dan apa yang membuatnya tidak nyaman. Dengarkan tanpa segera menyalahkan anak ataupun pesantren.

2. Buat jadwal komunikasi yang jelas.

Ikuti ketentuan telepon dan kunjungan pesantren. Jika memungkinkan, sepakati waktu berkabar yang konsisten. Saat berbicara, tanyakan pengalaman belajar, teman baru, dan hal menyenangkan, bukan hanya apakah anak masih ingin pulang. Hindari janji kunjungan yang belum pasti.

3. Jalin komunikasi dengan wali kamar atau pengasuh.

Tanyakan keadaan anak di luar waktu menelepon: apakah ia tidur cukup, makan teratur, mengikuti kegiatan, dan mulai berteman. Cerita anak dan pengamatan pengasuh dapat saling melengkapi. Bila perlu, sepakati bentuk pendampingan dan waktu evaluasinya.

4. Bantu anak membangun hubungan pertemanan.

Dorong anak mengenal teman sekamar, mengikuti kegiatan yang disukai, atau meminta bantuan kakak pembimbing. Penelitian mengenai santriwati baru yang terbit pada 2026 menggambarkan dukungan sosial, aktivitas, dan komunikasi keluarga sebagai strategi menghadapi homesickness pada partisipan penelitian tersebut.

5. Tetapkan target kecil yang realistis.

Daripada menuntut anak langsung betah, ajak ia memilih tujuan sederhana: mengenal satu teman, mengikuti satu kegiatan, atau menyelesaikan perlengkapan harian sendiri. Apresiasi usahanya tanpa membandingkannya dengan santri lain.

6.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
ParentingSantri AdaptasiSantri

Komentar Pengguna