Berita
Hilmi An Naufal

AI Ready ASEAN Masuk Sumbar, Guru dan Siswa Dibekali Literasi AI hingga Cara Kenali Informasi Keliru

AI Ready ASEAN Masuk Sumbar, Guru dan Siswa Dibekali Literasi AI hingga Cara Kenali Informasi Keliru

03 September 2026 | 14:41

KEBONCINTA.COM – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia pendidikan terus diperluas. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggandeng ASEAN Foundation dan Ruangguru untuk meningkatkan kemampuan guru dan siswa dalam memahami serta menggunakan teknologi AI secara bertanggung jawab.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Program AI Ready ASEAN yang digelar di Auditorium Universitas Negeri Padang, Kamis, 3 September 2026.

Program ini tidak hanya memperkenalkan teknologi AI kepada peserta, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendukung kegiatan belajar, mengelola informasi hingga membuat konten.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi mengatakan perkembangan teknologi perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan.

Teknologi dapat memberikan berbagai kemudahan, termasuk mempercepat akses terhadap informasi dan membantu proses pembelajaran.

Namun penggunaan AI tidak boleh dilepaskan dari aspek karakter dan moral peserta didik.

Menurut Mahyeldi, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan menggunakan perangkat digital secara tepat sehingga tidak justru memberikan dampak negatif.

Guru dan siswa diharapkan menjadikan AI sebagai alat yang mendukung pendidikan, bukan digunakan untuk aktivitas yang bertentangan dengan tujuan pembelajaran.

Pesan tersebut menjadi semakin penting karena teknologi AI kini semakin mudah digunakan masyarakat.

Berbagai platform dapat membantu mencari informasi, menghasilkan teks, menganalisis data hingga menciptakan konten hanya dalam waktu singkat.

Kemudahan tersebut membuka banyak peluang di dunia pendidikan.

Guru dapat memanfaatkan teknologi untuk membantu mempersiapkan materi maupun mencari pendekatan pembelajaran yang lebih sesuai.

Siswa juga dapat menggunakan AI sebagai sarana untuk memperluas pengetahuan dan memperoleh penjelasan mengenai materi tertentu.

Namun kemampuan menggunakan teknologi harus disertai kemampuan memeriksa informasi yang dihasilkan.

AI tidak selalu memberikan informasi yang benar.

Pengguna tetap perlu melakukan verifikasi agar tidak menerima sebuah informasi hanya karena disampaikan dengan bahasa yang terlihat meyakinkan.

Aspek inilah yang ikut mendapat perhatian dalam Program AI Ready ASEAN.

Head of Programme ASEAN Foundation Ilan Asqolani menjelaskan peserta akan dibekali pemahaman dasar mengenai AI sekaligus kemampuan menggunakannya dalam berbagai aktivitas.

Salah satu materi berkaitan dengan pemanfaatan AI untuk pengelolaan media sosial dan pembuatan konten.

Selain itu, peserta diarahkan agar mampu membedakan informasi yang benar dengan informasi yang keliru.

Kemampuan tersebut sangat relevan bagi siswa dan guru karena arus informasi di internet semakin besar.

Media sosial membuat sebuah informasi dapat menyebar dalam waktu sangat singkat, termasuk ketika informasi tersebut belum tentu benar.

Kemunculan teknologi generatif juga membuat konten berupa tulisan, gambar, suara maupun video dapat dibuat menggunakan AI.

Karena itu, literasi digital tidak lagi cukup hanya sebatas mengetahui cara menggunakan perangkat.

Pengguna perlu memiliki kemampuan kritis untuk memahami dari mana sebuah informasi berasal dan apakah informasi tersebut dapat dipercaya.

ASEAN Foundation juga memberikan perhatian terhadap penggunaan AI yang bertanggung jawab dan beretika.

Hal tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam Program AI Ready ASEAN.

Secara regional, AI Ready ASEAN merupakan program ASEAN Foundation yang didukung Google.org.

Program dirancang untuk meningkatkan literasi kecerdasan buatan bagi masyarakat di 10 negara anggota ASEAN, terutama generasi muda, pendidik, orang tua dan komunitas yang membutuhkan akses pengembangan keterampilan digital.

ASEAN Foundation menargetkan program ini dapat menjangkau jutaan masyarakat di kawasan Asia Tenggara.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah pelatihan terhadap fasilitator atau master trainer yang kemudian meneruskan literasi AI kepada masyarakat.

Di Indonesia, Ruangguru menjadi salah satu mitra dalam pelaksanaan program.

Rangkaian program mencakup berbagai bentuk kegiatan, termasuk pengenalan dasar coding, pelatihan AI, penguatan kemampuan fasilitator dan pembelajaran yang lebih mendalam mengenai penggunaan kecerdasan buatan.

Program di Indonesia juga menempatkan pendidikan sebagai salah satu sektor utama.

Pelajar dan tenaga pendidik menjadi kelompok penting karena AI diperkirakan semakin banyak digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.

Namun keberadaan AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan guru.

Teknologi dapat menjadi alat bantu, sementara peranan guru dalam membangun karakter, memberikan pendampingan, memahami kondisi siswa dan menciptakan interaksi pembelajaran tetap sangat penting.

Guru justru perlu memahami teknologi agar dapat membimbing peserta didik menggunakannya secara tepat.

Tanpa literasi yang baik, siswa dapat menggunakan AI hanya untuk memperoleh jawaban instan tanpa memahami proses pembelajaran.

Sebaliknya, penggunaan yang tepat dapat membantu siswa mengeksplorasi materi, mengembangkan kreativitas dan memperoleh sudut pandang baru.

Kegiatan AI Ready ASEAN di Sumatera Barat menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman tersebut.

Pemprov Sumbar berharap teknologi dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan tanpa mengabaikan pembentukan karakter.

Siswa didorong tetap berpikir kritis dan tidak menerima seluruh keluaran AI secara mentah.

Guru juga perlu memahami batasan teknologi ketika digunakan dalam kegiatan akademik.

Kemampuan memverifikasi informasi menjadi salah satu keterampilan yang semakin penting di era AI.

Ketika pengguna mengetahui bahwa teknologi dapat melakukan kesalahan, mereka akan lebih terdorong memeriksa sumber sebelum menggunakan informasi.

Prinsip tersebut sangat penting dalam pendidikan karena akurasi informasi berkaitan langsung dengan kualitas pengetahuan yang diterima siswa.

Melalui pelatihan literasi AI, pemerintah dan penyelenggara berharap masyarakat pendidikan tidak tertinggal menghadapi perubahan teknologi.

Tantangannya bukan lagi apakah AI akan digunakan dalam pendidikan, tetapi bagaimana penggunaannya dapat memberikan manfaat tanpa mengurangi nilai pembelajaran.

Guru, siswa dan masyarakat karena itu membutuhkan pemahaman yang bukan hanya bersifat teknis.

Etika, tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis dan keamanan penggunaan teknologi juga perlu berjalan bersama.

Program AI Ready ASEAN yang digelar di Sumatera Barat pada 3 September 2026 menjadi salah satu langkah untuk membangun kemampuan tersebut.

Dengan pemahaman yang lebih baik, guru dan siswa diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna AI, tetapi mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, kritis dan bertanggung jawab untuk mendukung pendidikan.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna