E. Mengadakan edukasi dan simulasi evakuasi banjir bagi warga, termasuk siswa sekolah.
Kunci jawaban: A, B, C, D, dan E
Pembahasan:
Semua pilihan dapat menjadi bagian dari strategi pengurangan risiko banjir apabila direncanakan sesuai kondisi wilayah dan kajian teknis. Perbedaannya terletak pada jenis mitigasi yang diterapkan.
A. Pengerukan sedimen dan pelebaran sungai — Mitigasi struktural.
Pengerukan dapat meningkatkan kapasitas aliran sungai jika sedimentasi menjadi salah satu penyebab banjir. Pelebaran sungai juga dapat membantu mengalirkan air, tetapi harus mempertimbangkan dampak lingkungan, stabilitas tebing, dan kondisi wilayah di hilir.
B. Sistem peringatan dini — Mitigasi nonstruktural.
Peringatan dini membantu masyarakat mengetahui potensi banjir lebih cepat sehingga memiliki waktu untuk menyelamatkan diri dan mengamankan barang penting.
C. Pengendalian pembangunan di wilayah hulu — Mitigasi nonstruktural.
Pengaturan tata ruang dan pembatasan pembangunan di kawasan tertentu dapat mencegah berkurangnya daerah resapan air. Kebijakan ini juga membantu mengendalikan limpasan permukaan yang dapat meningkatkan risiko banjir di wilayah hilir.
D. Pembangunan tanggul — Mitigasi struktural.
Tanggul dapat mengurangi risiko luapan sungai ke kawasan permukiman. Namun, desain dan pemeliharaannya harus diperhitungkan karena tanggul yang tidak memadai dapat menimbulkan risiko tambahan ketika terjadi banjir ekstrem.
E. Edukasi dan simulasi evakuasi — Mitigasi nonstruktural.
Pendidikan kebencanaan membantu warga mengenali tanda bahaya, memahami jalur evakuasi, dan mengetahui tindakan yang perlu dilakukan saat banjir terjadi.
Strategi yang paling efektif adalah menggabungkan pembangunan fisik dengan perencanaan tata ruang, pemulihan daerah resapan, sistem peringatan dini, dan kesiapsiagaan masyarakat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir