Kolesterol yang tidak terkontrol dapat berkontribusi terhadap penumpukan plak di pembuluh darah. Sementara itu, diabetes yang tidak ditangani dengan baik dapat meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah dan stroke.
Karena itu, pemeriksaan kolesterol dan gula darah sesuai kebutuhan sangat dianjurkan, khususnya bagi orang yang memiliki faktor risiko atau riwayat penyakit terkait.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan gangguan, lakukan penanganan berdasarkan saran tenaga kesehatan. Perubahan pola makan dan aktivitas fisik dapat membantu, tetapi sebagian orang juga membutuhkan obat untuk mengendalikan kondisinya.
Baca Juga: Ikan Gabus Kaya Protein, Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Alasan Banyak Dicari
Berat badan berlebih dapat berkaitan dengan peningkatan tekanan darah, kolesterol, dan risiko diabetes. Kondisi-kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan risiko stroke.
Menjaga berat badan tidak harus dilakukan melalui diet ekstrem. Langkah yang lebih berkelanjutan adalah mengatur porsi makan, memilih makanan bergizi, bergerak secara rutin, dan tidur cukup.
Target berat badan yang sehat dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, penilaian sebaiknya mempertimbangkan kondisi kesehatan, usia, serta saran tenaga kesehatan, bukan hanya berpatokan pada angka di timbangan.
Stres yang berlangsung lama dapat memengaruhi kebiasaan sehari-hari, seperti pola makan, kualitas tidur, dan aktivitas fisik. Dalam kondisi tertentu, stres juga dapat berkaitan dengan tekanan darah yang kurang terkontrol.
Cobalah menyediakan waktu untuk beristirahat, melakukan aktivitas yang menenangkan, dan menjaga jadwal tidur secara konsisten. Berbicara dengan orang tepercaya atau mencari bantuan profesional juga dapat membantu ketika tekanan emosional terasa sulit diatasi.
Pengelolaan stres dan tidur yang baik bukan jaminan terhindar dari stroke. Namun, keduanya dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehat yang mendukung pengendalian faktor risiko.
Gangguan jantung tertentu, termasuk fibrilasi atrium atau irama jantung tidak teratur, dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah yang berpotensi menyebabkan stroke.
Orang yang memiliki penyakit jantung, diabetes, hipertensi, atau pernah mengalami stroke perlu mengikuti pemeriksaan dan rencana pengobatan sesuai arahan dokter. Bagi orang yang pernah mengalami stroke atau serangan iskemik sesaat, pencegahan stroke berulang membutuhkan penanganan khusus.
Jangan mengonsumsi aspirin, obat pengencer darah, atau obat lain untuk mencegah stroke tanpa rekomendasi tenaga kesehatan. Jenis pengobatan yang tepat bergantung pada penyebab dan kondisi masing-masing orang.
Baca Juga: Kopi Robusta vs Arabika, Mana yang Lebih Baik? Kenali Perbedaan Rasa, Kafein, dan Manfaatnya
Selain melakukan pencegahan, penting untuk mengenali tanda stroke agar pertolongan dapat diberikan secepat mungkin. Gejalanya dapat muncul secara mendadak, antara lain wajah tampak menurun sebelah, satu lengan melemah, bicara menjadi pelo atau sulit dipahami, gangguan penglihatan, serta hilangnya keseimbangan secara tiba-tiba.
Jika gejala tersebut muncul, segera hubungi layanan darurat atau bawa orang yang mengalaminya ke rumah sakit. Jangan menunggu gejala menghilang dan jangan mencoba mengobatinya sendiri di rumah. Catat waktu ketika gejala pertama kali terlihat jika memungkinkan.
Penanganan stroke merupakan keadaan darurat medis. Pertolongan yang cepat dapat memengaruhi peluang pemulihan dan mengurangi risiko komplikasi.
Cara mencegah stroke dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memeriksa tekanan darah, memilih makanan bergizi, berolahraga teratur, berhenti merokok, dan mengendalikan kolesterol serta gula darah. Pemeriksaan kesehatan berkala juga membantu menemukan faktor risiko sebelum menimbulkan komplikasi serius.
Tidak ada langkah yang menjamin seseorang sepenuhnya bebas dari stroke.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir