Berita
Hilmi An Naufal

7 Ruang MTsN 2 Manggarai Barat Rusak Berat Pascagempa, Siswa Terpaksa Belajar Bergantian di Tenda

7 Ruang MTsN 2 Manggarai Barat Rusak Berat Pascagempa, Siswa Terpaksa Belajar Bergantian di Tenda

03 September 2026 | 14:42

KEBONCINTA.COM – Dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur masih dirasakan dunia pendidikan. Siswa MTsN 2 Manggarai Barat di Labuan Bajo kini harus mengikuti kegiatan belajar mengajar menggunakan tenda darurat setelah sejumlah ruangan sekolah mengalami kerusakan berat.

Kegiatan belajar di madrasah tersebut telah kembali berlangsung sejak 31 Agustus 2026.

Namun siswa belum dapat menggunakan seluruh bangunan sekolah karena beberapa bagian dinilai tidak aman.

Kepala MTsN 2 Manggarai Barat Syarif mengatakan setidaknya tujuh ruangan belajar mengalami kerusakan berat akibat gempa.

Kerusakan tidak hanya terjadi pada bagian dinding.

Sejumlah tiang penyangga mengalami keretakan yang dinilai berpotensi membahayakan warga madrasah apabila ruangan tetap digunakan.

Kondisi lebih serius terjadi pada ruang guru.

Bangunan tersebut disebut mengalami kerusakan hingga terbelah mulai dari dinding sampai bagian dasar lantai.

Area yang dinilai berbahaya telah diberikan penanda agar siswa maupun tenaga pendidik tidak mendekat.

Selain ruang kelas dan ruang guru, bagian Unit Kesehatan Sekolah atau UKS juga mengalami perubahan struktur akibat guncangan.

Kondisi tersebut membuat sekolah harus melakukan penyesuaian besar terhadap proses pembelajaran.

Keselamatan menjadi pertimbangan utama.

Sekolah tidak ingin kegiatan belajar kembali berjalan normal apabila bangunan masih mempunyai risiko terhadap siswa maupun guru.

Karena itu, pembelajaran sementara dilakukan menggunakan fasilitas darurat.

Kementerian Agama telah memberikan bantuan berupa tenda belajar dan perlengkapan pendukung atau school toolkit kepada MTsN 2 Manggarai Barat.

Metro TV melaporkan terdapat dua unit tenda belajar yang digunakan untuk membantu kelangsungan kegiatan pendidikan.

Dengan keterbatasan ruang tersebut, sekolah menerapkan sistem shifting atau pembagian waktu belajar.

Siswa mengikuti kegiatan pembelajaran secara bergantian agar seluruh peserta didik tetap memperoleh hak pendidikan.

Sistem tersebut menjadi solusi sementara sambil menunggu penanganan lebih lanjut terhadap fasilitas permanen.

Sekolah juga mengambil sejumlah langkah untuk mencegah warga madrasah mendekati bagian gedung yang berbahaya.

Beberapa bagian atap dari bangunan rusak dilepas agar area tersebut tidak lagi digunakan sebagai tempat berkumpul.

Langkah tersebut dilakukan karena bangunan yang telah mengalami kerusakan struktural dapat menimbulkan risiko tambahan apabila terjadi gempa susulan atau bagian bangunan jatuh.

Pihak sekolah berharap penanganan tidak hanya berupa renovasi ringan.

Tingkat kerusakan membuat kebutuhan pembangunan fasilitas baru menjadi salah satu harapan yang disampaikan sekolah.

Pertimbangannya adalah keamanan jangka panjang bagi siswa dan tenaga pendidik.

Bangunan sekolah disebut telah berusia sekitar 30 tahun.

Kondisi bangunan lama yang kemudian mengalami guncangan besar membuat sejumlah bagian tidak lagi aman digunakan.

Proses rehabilitasi nantinya memerlukan pemeriksaan teknis untuk menentukan bagian yang masih dapat dipertahankan serta bangunan yang harus dibangun kembali.

Bantuan tenda dari Kementerian Agama sebelumnya telah diserahkan kepada MTsN 2 Manggarai Barat pada 22 Agustus 2026.

Bantuan disalurkan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam untuk memastikan aktivitas pendidikan tidak berhenti setelah gempa pada 15 Agustus.

Kementerian menilai keberlangsungan pembelajaran tetap harus dijaga meskipun madrasah berada dalam situasi pascabencana.

Tenda kelas dan toolkit menjadi fasilitas sementara agar peserta didik mempunyai tempat yang relatif aman untuk belajar.

Bagi siswa, kondisi tersebut tentu berbeda jauh dibandingkan pembelajaran di ruang kelas permanen.

Kegiatan harus menyesuaikan kapasitas tenda, cuaca, jadwal penggunaan hingga keterbatasan fasilitas.

Namun para siswa tetap kembali mengikuti kegiatan belajar.

Kondisi MTsN 2 Manggarai Barat menggambarkan besarnya tantangan pemulihan pendidikan setelah bencana.

Perbaikan sekolah tidak dapat dilakukan hanya dengan memastikan kegiatan belajar kembali berjalan.

Keamanan bangunan harus terlebih dahulu dipastikan sebelum ruangan dapat kembali digunakan.

Ketika sebuah gedung mengalami keretakan struktural, keputusan untuk kembali menggunakannya memerlukan pemeriksaan dari pihak yang mempunyai kompetensi.

Hal tersebut penting karena keselamatan siswa dan guru harus menjadi prioritas.

Pendidikan dalam situasi bencana juga membutuhkan fleksibilitas.

Apabila ruang kelas permanen tidak tersedia, kegiatan dapat berlangsung melalui ruang kelas darurat, tenda maupun pengaturan jadwal.

Tujuan utamanya adalah mencegah siswa kehilangan proses pendidikan terlalu lama.

Namun fasilitas darurat tetap merupakan solusi sementara.

Madrasah membutuhkan sarana permanen agar pembelajaran dapat kembali berlangsung secara normal.

Pihak sekolah karena itu berharap ada percepatan penanganan terhadap bangunan yang terdampak.

Perhatian juga dibutuhkan untuk fasilitas lain di luar ruang kelas, termasuk ruang guru, UKS dan sarana penunjang pembelajaran.

Gempa NTT pada Agustus 2026 memang menimbulkan dampak luas terhadap sektor pendidikan.

Data pemulihan sebelumnya menunjukkan banyak satuan pendidikan di wilayah terdampak membutuhkan ruang kelas darurat.

Sejumlah sekolah belum dapat menjalankan pembelajaran secara normal karena kerusakan fasilitas maupun kondisi lingkungan yang belum memungkinkan.

Kasus MTsN 2 Manggarai Barat menjadi salah satu contoh konkret kondisi yang dihadapi siswa.

Mereka telah kembali belajar tetapi belum kembali ke ruang kelas seperti sebelum bencana.

Proses pendidikan berlangsung dengan pembagian jadwal di tenda sementara.

Guru juga harus menyesuaikan strategi pembelajaran dengan fasilitas yang tersedia.

Keterbatasan tersebut tidak menghilangkan kebutuhan siswa untuk terus memperoleh layanan pendidikan.

Pemerintah, sekolah dan masyarakat diharapkan dapat bersama-sama mempercepat proses pemulihan.

Penanganan tidak hanya berkaitan dengan bangunan, tetapi juga memastikan kondisi psikologis peserta didik setelah mengalami bencana.

Sekolah harus kembali menjadi tempat yang memberikan rasa aman.

Karena itu, pembangunan atau rehabilitasi bangunan perlu memperhatikan standar keselamatan yang memadai.

Hingga 3 September 2026, siswa MTsN 2 Manggarai Barat masih menjalani pembelajaran menggunakan fasilitas darurat.

Tujuh ruangan belajar mengalami kerusakan berat, sedangkan bagian ruang guru dan UKS juga terdampak.

Meski menghadapi keterbatasan, aktivitas pendidikan telah kembali berjalan sejak akhir Agustus.

Kini sekolah menunggu proses pemulihan fasilitas agar siswa dapat kembali belajar di ruang kelas permanen dengan kondisi aman dan layak.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna