Gaya Hidup
Rahman Abdullah

7 Mitos Daging Kambing yang Banyak Dipercaya, Ini Fakta Sebenarnya

7 Mitos Daging Kambing yang Banyak Dipercaya, Ini Fakta Sebenarnya

29 Oktober 2026 | 09:42

KebonCinta.com-- Daging kambing kerap menjadi hidangan favorit, terutama saat Iduladha, acara keluarga, atau ketika ingin menikmati sate dan gulai. Namun, di balik rasanya yang khas, makanan ini juga dikelilingi berbagai anggapan yang membuat sebagian orang ragu untuk mengonsumsinya.

Ada yang percaya daging kambing bisa langsung menaikkan tekanan darah, menyebabkan kolesterol tinggi, hingga memicu asam urat. Sebagian orang bahkan menganggap daging kambing harus dihindari sepenuhnya oleh mereka yang ingin menjaga kesehatan.

Padahal, tidak semua anggapan tersebut sepenuhnya benar. Dampak konsumsi daging kambing terhadap tubuh dipengaruhi oleh jumlah yang dimakan, bagian daging yang dipilih, cara memasak, serta kondisi kesehatan seseorang.

Agar tidak salah memahami informasi, berikut sejumlah mitos tentang daging kambing beserta penjelasan faktanya.

Baca Juga: Jangan Asal Masukkan ke Kulkas, Ini Cara Tepat Menyimpan Bahan Makanan Hewani 

1. Mitos Daging Kambing Langsung Menaikkan Tekanan Darah

Salah satu anggapan paling populer adalah makan daging kambing dapat membuat tekanan darah langsung melonjak. Keyakinan ini sering muncul setelah seseorang menyantap sate atau gulai kambing.

Faktanya, tekanan darah tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja. Konsumsi daging kambing tidak otomatis menyebabkan hipertensi pada setiap orang. Namun, pola makan tinggi natrium, termasuk penggunaan garam dan bumbu berlebihan, dapat berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi.

Karena itu, jika ingin menikmati olahan kambing, perhatikan pula bumbu yang digunakan. Batasi garam dan saus tinggi natrium, serta imbangi dengan sayuran dan pola makan seimbang.

2. Mitos Daging Kambing Pasti Menyebabkan Kolesterol Tinggi

Daging kambing sering dianggap sebagai makanan yang harus dihindari karena dapat meningkatkan kolesterol. Anggapan ini terlalu menyederhanakan persoalan.

Daging kambing mengandung protein, vitamin, dan mineral, termasuk zat besi serta vitamin B12. Kandungan lemaknya dapat berbeda-beda bergantung pada bagian daging dan cara pengolahannya.

Meski demikian, konsumsi berlebihan dan pemilihan potongan yang berlemak tetap perlu diperhatikan. Asupan lemak jenuh yang tinggi dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL pada sebagian orang.

Untuk pilihan yang lebih sehat, pilih potongan daging yang lebih sedikit lemak, buang lemak yang terlihat, dan utamakan metode memasak seperti memanggang dengan pengendalian lemak atau merebus. Batasi pula penggunaan santan kental dan minyak berlebihan.

3. Mitos Daging Kambing Selalu Memicu Asam Urat

Orang yang memiliki kadar asam urat tinggi sering khawatir ketika melihat hidangan kambing. Kekhawatiran ini memiliki dasar, tetapi perlu dipahami secara tepat.

Daging kambing termasuk daging merah yang mengandung purin. Di dalam tubuh, purin diuraikan menjadi asam urat. Karena itu, konsumsi daging dalam jumlah besar dapat menjadi salah satu faktor yang memicu peningkatan kadar asam urat atau serangan gout pada orang yang rentan.

Namun, bukan berarti setiap orang yang makan daging kambing pasti mengalami asam urat. Risiko dipengaruhi banyak hal, termasuk kondisi metabolisme, fungsi ginjal, obat-obatan, dan pola makan secara keseluruhan.

Bagi orang yang memiliki riwayat gout, sebaiknya batasi porsinya sesuai anjuran tenaga kesehatan dan hindari mengonsumsi daging merah secara berlebihan.

Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Suzuki Baleno 2001, Sedan Lawas yang Masih Menarik untuk Mobil Harian 

4. Mitos Daging Kambing Bisa Membuat Tubuh Lebih Panas

Sebagian orang merasa tubuhnya lebih hangat setelah menyantap sate atau gulai kambing.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Mitos daging kambing Manfaat daging kambing Daging kambing dan kolesterol

Komentar Pengguna