Konsumsi gula tambahan dalam jumlah tinggi, terutama dari minuman manis, dapat berkontribusi terhadap pola makan yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Dampaknya dapat berkaitan dengan kelebihan berat badan, peningkatan kadar trigliserida, serta faktor risiko metabolik lainnya.
Jantung memang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh, tetapi bukan berarti setiap kali seseorang mengonsumsi gula, fungsi jantung langsung terganggu. Risiko lebih berkaitan dengan kebiasaan makan dan gaya hidup yang berlangsung dalam jangka panjang.
Membatasi minuman manis, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, aktif berolahraga, dan menjaga waktu tidur merupakan bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan jantung sejak usia muda.
Baca Juga: Bukan Sekadar Banyak Teman, Ini 9 Tanda Kamu Memiliki Lingkungan Pertemanan yang Positif
Mengurangi gula tidak harus dilakukan dengan perubahan besar secara mendadak. Remaja dapat memulainya dengan mengganti minuman bersoda atau teh manis dengan air putih lebih sering. Jika terbiasa membeli minuman kekinian, kadar gula dapat dikurangi secara bertahap.
Pilihan camilan juga bisa diperbaiki dengan mengonsumsi buah segar, kacang tanpa tambahan gula berlebihan, atau makanan lain yang memiliki kandungan gizi lebih baik. Membaca label kemasan dapat membantu mengenali jumlah gula tambahan dalam produk yang dibeli.
Orang tua dan sekolah turut berperan dalam membentuk kebiasaan tersebut. Menyediakan pilihan makanan yang lebih sehat, memberikan edukasi gizi dengan cara yang mudah dipahami, serta mendorong aktivitas fisik dapat membantu remaja mengambil keputusan yang lebih baik.
Makanan manis tidak harus sepenuhnya dihindari, tetapi jumlah dan frekuensi konsumsinya perlu diperhatikan. Kebiasaan mengonsumsi gula tambahan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berat badan berlebih, diabetes tipe 2, gigi berlubang, dan masalah kesehatan lainnya.
Dengan membiasakan minum air putih, memilih makanan yang lebih beragam, menjaga kesehatan gigi, dan rutin bergerak, remaja dapat membangun pola hidup yang lebih sehat. Perubahan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bekal penting untuk menjaga kesehatan hingga dewasa.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir