Berita
Hilmi An Naufal

232 Mahasiswa UPJ Sudah Magang di Industri, Lulusan Berprestasi Berpeluang Langsung Direkrut Perusahaan

232 Mahasiswa UPJ Sudah Magang di Industri, Lulusan Berprestasi Berpeluang Langsung Direkrut Perusahaan

07 September 2026 | 06:00

KEBONCINTA.COM – Perguruan tinggi semakin dituntut mempersiapkan mahasiswa bukan hanya untuk memperoleh gelar, tetapi juga menghadapi kebutuhan dunia kerja yang berubah cepat.

Universitas Pembangunan Jaya atau UPJ menerapkan pendekatan Living Lab untuk mempertemukan pembelajaran di kampus dengan pengalaman langsung di lingkungan profesional.

Data terbaru kampus mencatat sebanyak 232 mahasiswa UPJ telah mengikuti program magang di berbagai unit dalam ekosistem Pembangunan Jaya sejak Tahun Akademik 2024/2025 hingga semester gasal Tahun Akademik 2026/2027.

Jumlah tersebut terdiri atas 112 mahasiswa pada Tahun Akademik 2024/2025, sebanyak 74 mahasiswa pada 2025/2026, serta 46 mahasiswa pada semester gasal 2026/2027.

Selain program magang, sebanyak 46 lulusan telah dihubungkan dengan dunia profesional melalui program The Bridge dalam periode Tahun Akademik 2023/2024 hingga 2025/2026.

Rektor UPJ Prof. Elisabeth Rukmini menjelaskan pendekatan tersebut bertujuan membuat pengalaman mahasiswa tidak berhenti pada pemahaman teori.

Mahasiswa didorong menghadapi persoalan nyata, berinteraksi dengan praktisi serta memahami bagaimana pengetahuan yang dipelajari di kampus diterapkan di lingkungan profesional.

Program tersebut mendapatkan perhatian kembali setelah UPJ menggelar Wisuda ke-12 pada Sabtu, 5 September 2026 di Ecovention Hall, Ancol, Jakarta.

Sebanyak 700 lulusan dari 11 program studi mengikuti prosesi wisuda yang juga bertepatan dengan Dies Natalis ke-15 UPJ.

Dalam rangkaian tersebut, pihak kampus kembali menekankan pentingnya pengalaman dunia kerja sebelum mahasiswa lulus.

Living Lab memanfaatkan lebih dari 20 anak usaha dalam ekosistem Pembangunan Jaya sebagai bagian dari ruang pembelajaran.

Mahasiswa dapat menjalani magang, internship maupun kegiatan praktik pada perusahaan yang bergerak dalam berbagai bidang.

Praktisi dari perusahaan juga dapat hadir ke kampus untuk terlibat dalam proses pembelajaran.

Hubungan dua arah tersebut diharapkan membuat materi akademik semakin dekat dengan persoalan yang ditemui dunia industri.

Elisabeth mengatakan mahasiswa yang menunjukkan performa baik ketika menjalani magang bahkan mempunyai kemungkinan diterima sebagai karyawan setelah menyelesaikan pendidikan.

Namun peluang tersebut tentu bukan jaminan otomatis bagi setiap peserta.

Mahasiswa tetap harus menunjukkan kompetensi dan kinerja yang sesuai kebutuhan perusahaan.

Kesempatan itu memberikan nilai tambahan dari program magang.

Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman yang dapat dituliskan dalam CV, tetapi juga mempunyai kesempatan memperlihatkan kemampuan langsung kepada calon pemberi kerja.

Bagi perusahaan, mekanisme semacam ini juga memberikan keuntungan.

Perusahaan dapat mengenal kemampuan calon tenaga kerja dalam situasi nyata sebelum proses rekrutmen dilakukan.

Mereka dapat melihat kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, penyelesaian masalah serta cara mahasiswa bekerja dalam tim.

Hal-hal tersebut tidak selalu dapat diketahui hanya melalui nilai akademik.

Karena itu, hubungan kampus dan industri semakin penting di tengah persaingan kerja lulusan perguruan tinggi.

UPJ juga membekali mahasiswa dengan berbagai sertifikasi keterampilan.

Salah satu bidang yang diperhatikan adalah kecerdasan artifisial atau AI.

Selain itu, mahasiswa diarahkan mendapatkan kompetensi lain yang sesuai dengan bidang ilmu masing-masing.

Sertifikasi dapat menjadi bukti tambahan bahwa seorang lulusan mempunyai kemampuan tertentu.

Namun kampus tetap menempatkan pengalaman praktik sebagai bagian penting.

Sertifikat tanpa kemampuan menerapkan pengetahuan belum tentu cukup ketika lulusan menghadapi pekerjaan sebenarnya.

Konsep Living Lab karena itu mencakup berbagai kegiatan, bukan hanya magang.

Mahasiswa dapat terlibat dalam proyek industri, kerja profesi, penelitian terapan, pengabdian kepada masyarakat maupun kolaborasi bersama mitra.

Kegiatan tersebut membuat lingkungan di luar ruang kuliah menjadi bagian dari proses pendidikan.

Misalnya, mahasiswa dapat menemukan persoalan yang benar-benar terjadi pada perusahaan atau masyarakat.

Mereka kemudian menggunakan pengetahuan dari program studi untuk mengembangkan solusi.

Pendekatan ini sekaligus melatih kemampuan problem solving.

Ketika berada di kelas, sebuah persoalan sering kali mempunyai batas dan data yang sudah disediakan.

Dunia nyata berbeda.

Informasi bisa tidak lengkap, banyak kepentingan terlibat dan solusi yang secara teori terlihat baik belum tentu dapat diterapkan.

Mahasiswa perlu belajar menghadapi kondisi tersebut sebelum memasuki pekerjaan secara penuh.

Kemampuan berkolaborasi juga berkembang ketika mereka bekerja bersama praktisi maupun mahasiswa dari bidang berbeda.

Dunia profesional semakin membutuhkan kerja lintas disiplin.

Sebuah proyek digital misalnya tidak hanya membutuhkan tenaga teknologi informasi.

Aspek bisnis, komunikasi, desain maupun perilaku pengguna dapat mempunyai peranan sama pentingnya.

Mahasiswa yang terbiasa bekerja lintas bidang mempunyai bekal lebih besar ketika memasuki lingkungan profesional.

UPJ menyebut salah satu contoh penerapan pendekatan tersebut dilakukan melalui UPJ Connect 2026.

Mahasiswa memperoleh kesempatan melihat kegiatan operasional di BXSea, salah satu unit dalam ekosistem Pembangunan Jaya.

Lingkungan industri dengan demikian digunakan sebagai ruang belajar langsung.

Mahasiswa dapat melihat bagaimana sebuah organisasi beroperasi serta kemampuan apa saja yang dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan profesional.

Hubungan antara pengalaman selama kuliah dan kesiapan kerja juga terlihat dari data lulusan periode sebelumnya.

Pada Tahun Akademik 2024/2025, sebanyak 202 dari 652 wisudawan tercatat telah memperoleh pekerjaan sebelum pelaksanaan wisuda.

Angka tersebut tidak berarti seluruhnya mendapatkan pekerjaan melalui Living Lab, tetapi digunakan kampus sebagai salah satu gambaran kesiapan lulusan memasuki dunia profesional.

Pada wisuda tahun ini, UPJ kembali mengukuhkan 700 lulusan.

Dengan penambahan tersebut, jumlah alumni universitas mencapai 4.116 orang.

Kampus ingin mahasiswa yang baru lulus tidak menunggu setelah mengenakan toga untuk mulai memikirkan karier.

Persiapan dapat dilakukan sejak semester awal melalui pengalaman proyek, magang, portofolio, jejaring maupun sertifikasi.

Pendekatan tersebut menjadi relevan karena persaingan lulusan pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan ijazah.

Perusahaan dapat menerima puluhan bahkan ratusan kandidat dengan tingkat pendidikan yang sama.

Hal yang kemudian membedakan pelamar adalah kompetensi, pengalaman dan kemampuan menunjukkan hasil kerja.

Portofolio menjadi salah satu bukti yang dapat membantu.

Mahasiswa desain dapat menunjukkan karya.

Mahasiswa teknologi dapat memperlihatkan aplikasi atau proyek yang dibuat.

Mahasiswa komunikasi dapat mendokumentasikan aktivitas kampanye maupun produksi konten.

Sementara bidang lain mempunyai bentuk portofolio sesuai karakter keilmuannya.

Magang juga memberikan ruang untuk memahami budaya profesional.

Mahasiswa belajar mengenai ketepatan waktu, komunikasi formal, target pekerjaan dan tanggung jawab terhadap hasil.

Kesalahan yang terjadi ketika magang dapat menjadi proses pembelajaran sebelum mereka mempunyai tanggung jawab lebih besar sebagai karyawan penuh.

Namun mahasiswa juga perlu menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dan kewajiban akademik.

Pengalaman kerja tidak seharusnya membuat proses perkuliahan terbengkalai.

Program yang baik perlu dirancang agar pengalaman lapangan tetap mempunyai hubungan dengan kompetensi akademik.

Kampus mempunyai tanggung jawab memastikan kualitas kegiatan.

Perusahaan mitra juga perlu memberikan pekerjaan yang benar-benar membuat peserta belajar, bukan sekadar memberikan tugas administratif tanpa nilai pengembangan.

UPJ menempatkan Living Lab sebagai pendekatan yang menghubungkan keduanya.

Pada saat dunia kerja terus berubah akibat digitalisasi dan AI, mahasiswa membutuhkan kemampuan untuk terus belajar.

Keterampilan yang dianggap penting hari ini dapat berubah dalam beberapa tahun.

Karena itu, pengalaman menghadapi persoalan nyata dapat membantu membangun kemampuan adaptasi.

Sebanyak 232 mahasiswa yang telah mengikuti magang menjadi bagian dari proses tersebut.

Kemitraan dengan lebih dari 20 unit usaha memberikan ruang bagi mahasiswa mengenal kebutuhan industri sebelum menyelesaikan pendidikan.

Bagi mahasiswa dengan performa baik, kesempatan bahkan dapat berkembang menjadi peluang rekrutmen.

Pesan yang muncul dari pendekatan tersebut cukup jelas: perjalanan menuju dunia kerja idealnya tidak baru dimulai setelah wisuda.

Mahasiswa dapat membangun pengalaman, jaringan, keterampilan dan rekam jejak profesional ketika masih berada di bangku kuliah.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna