KEBONCINTA.COM – Sebanyak 100 guru dari jenjang SD, SMP, dan SMA di berbagai daerah Jawa Barat dipersiapkan mengikuti penguatan kompetensi pendidikan bilingual yang digelar melalui kolaborasi Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Barat dengan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat.
Program tersebut dirancang untuk memperkuat kemampuan bahasa sekaligus metode pengajaran guru sehingga pembelajaran bilingual tidak hanya berfokus pada penggunaan bahasa asing, tetapi juga bagaimana bahasa tersebut diterapkan secara efektif dalam proses belajar mengajar.
Rangkaian pelatihan dilaksanakan menggunakan skema hybrid atau bauran. Tahap pembelajaran daring telah dijadwalkan berlangsung pada 9–10 September 2026.
Selanjutnya, sesi tatap muka dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 12 September 2026 di Kantor BBGTK Provinsi Jawa Barat.
Sebanyak empat narasumber ahli disiapkan untuk memberikan pendampingan kepada peserta selama kegiatan berlangsung.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Barat Nur Komarudin menjelaskan bahwa peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan dan telah melalui proses seleksi.
Sebanyak 100 guru dinilai layak untuk mengikuti program tersebut.
Pelatihan bilingual menjadi semakin relevan di tengah kebutuhan peserta didik menghadapi perkembangan pendidikan dan dunia kerja yang semakin global.
Guru tidak hanya dituntut memiliki kemampuan berbahasa, tetapi juga perlu mengembangkan metode pembelajaran yang membuat siswa mampu memahami materi secara baik ketika menggunakan lebih dari satu bahasa.
Kemampuan tersebut juga dapat membantu sekolah memperluas akses siswa terhadap berbagai sumber belajar internasional yang sebagian besar tersedia dalam bahasa Inggris.
Namun penerapan pendidikan bilingual tetap membutuhkan strategi yang tepat agar penggunaan bahasa asing tidak mengurangi pemahaman siswa terhadap materi utama.
Karena itu, peningkatan kompetensi guru menjadi bagian penting sebelum pendekatan bilingual diterapkan lebih luas di ruang kelas.
Kolaborasi BBGTK Jawa Barat dan Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi salah satu langkah dalam mempersiapkan pendidik yang semakin adaptif terhadap perubahan kebutuhan pembelajaran.
Setelah mengikuti pelatihan, guru diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran bilingual sesuai karakteristik mata pelajaran maupun kebutuhan siswa di sekolah masing-masing.