KebonCinta.com – Pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar akan memasuki tahap baru. Mulai tahun ajaran 2027/2028, Bahasa Inggris ditetapkan sebagai mata pelajaran wajib di SD, Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan satuan pendidikan sederajat.
Ketentuan tersebut diatur melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025, yang memberikan masa transisi bagi sekolah untuk menyiapkan tenaga pendidik, bahan ajar, serta pelaksanaan pembelajaran.
Dalam publikasi Oktober 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga menjelaskan bahwa penerapan mata pelajaran wajib Bahasa Inggris dimulai dari kelas III SD.
Perubahan ini menjadi momentum bagi guru untuk mulai mengenalkan Bahasa Inggris melalui kegiatan yang sesuai dengan usia dan kemampuan peserta didik.
Namun, mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak sekolah dasar tentu berbeda dengan pembelajaran bagi siswa SMP atau SMA. Anak-anak membutuhkan kegiatan yang konkret, menarik, dan memberi kesempatan menggunakan bahasa secara langsung.
Guru juga tidak harus selalu memulai pembelajaran dengan menghafalkan banyak kosakata atau menjelaskan aturan tata bahasa yang rumit.
Kegiatan seperti permainan kartu gambar, percakapan sederhana, mendengarkan instruksi, menggambar, dan bercerita dapat menjadi pilihan untuk mengenalkan Bahasa Inggris secara bertahap.
Berikut sepuluh aktivitas pembelajaran Bahasa Inggris yang dapat diterapkan guru SD sebagai bagian dari persiapan menghadapi kebijakan tahun ajaran 2027/2028.
Berdasarkan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, Bahasa Inggris pada jenjang SD, MI, dan sederajat masih menjadi mata pelajaran pilihan yang dapat dilaksanakan sesuai kesiapan satuan pendidikan sampai tahun ajaran 2026/2027.
Mulai tahun ajaran 2027/2028, mata pelajaran tersebut beralih menjadi wajib.
Pemerintah juga menyiapkan dukungan peningkatan kompetensi guru melalui Program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI).
Program ini tidak hanya memberikan penguatan kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga keterampilan pedagogik agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan menyenangkan.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan guru adalah karakteristik peserta didik usia sekolah dasar.
Pada usia tersebut, kegiatan pembelajaran dapat dimulai dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti memperkenalkan diri, menyebutkan benda di kelas, mengenal warna, membicarakan makanan, dan mengikuti instruksi sederhana.
Guru juga perlu membangun suasana yang membuat siswa berani mencoba berbicara meskipun belum mampu menggunakan kalimat secara sempurna.
Kesalahan pengucapan atau pemilihan kata dapat dijadikan kesempatan belajar melalui contoh dan umpan balik yang mendukung.
Baca Juga: Mulai Berlaku 2027, Bahasa Inggris Wajib Diajarkan Sejak Kelas 3 SD
Aktivitas pertama adalah Greeting Circle, yaitu kegiatan melatih salam dan ungkapan sederhana melalui interaksi langsung antara guru dan siswa.
Guru dapat mengawali kegiatan dengan mengajak siswa berdiri atau duduk membentuk lingkaran, sesuai kondisi ruang kelas.
Kemudian, guru mencontohkan ungkapan sapaan sederhana.
Contoh dialog:
Guru: "Good morning, everyone!"
Artinya: Selamat pagi, semuanya!
Siswa: "Good morning, Teacher!"
Artinya: Selamat pagi, Bu/Pak Guru!
Guru: "How are you today?"
Artinya: Bagaimana kabar kalian hari ini?
Siswa: "I'm fine, thank you."
Artinya: Saya baik-baik saja, terima kasih.
Setelah siswa memahami ungkapan tersebut, guru dapat meminta mereka melakukan latihan berpasangan.
Misalnya, seorang siswa menyapa teman di sebelahnya, kemudian temannya memberikan jawaban.
Untuk variasi, guru dapat menggunakan kartu bergambar ekspresi senang, sedih, atau lelah.
Siswa kemudian memilih gambar sesuai kondisi mereka dan menggunakan ungkapan seperti "I'm happy", "I'm sad", atau "I'm tired".
Kegiatan ini membantu siswa menghubungkan Bahasa Inggris dengan komunikasi sehari-hari.
Tujuan pembelajaran: Mengenal ungkapan salam, menanyakan kabar, dan memberikan respons sederhana.
Alokasi waktu contoh: 5–7 menit.
Permainan Simon Says merupakan aktivitas yang menggabungkan keterampilan menyimak dengan gerakan tubuh.
Dalam kegiatan ini, siswa mengikuti instruksi yang diberikan guru apabila diawali dengan ungkapan "Simon says".
Sebagai contoh, guru mengatakan:
"Simon says, touch your head."
Artinya: Simon berkata, sentuh kepalamu.
Siswa kemudian menyentuh kepala.
Guru dapat melanjutkan dengan instruksi:
"Simon says, raise your hands."
Artinya: Simon berkata, angkat tanganmu.
Namun, apabila guru hanya mengatakan "Touch your nose" tanpa mengawali dengan "Simon says", siswa diminta tidak mengikuti gerakan tersebut.
Permainan ini membantu siswa memperhatikan ungkapan yang didengar sebelum memberikan respons.
Contoh kosakata dan instruksi:
Untuk tahap awal, guru dapat memperagakan gerakan terlebih dahulu agar siswa memahami maknanya.
Setelah terbiasa, instruksi dapat diberikan tanpa bantuan gerakan.
Permainan sebaiknya tidak menjadikan siswa yang salah sebagai pihak yang dipermalukan atau dikeluarkan dari seluruh kegiatan. Guru dapat menggunakan sistem kesempatan ulang agar semua anak tetap berpartisipasi.
Tujuan pembelajaran: Melatih keterampilan menyimak, memahami instruksi, serta mengenal kata kerja dan anggota tubuh.
Alokasi waktu contoh: 5–8 menit.
Kartu bergambar atau flashcard merupakan media sederhana yang dapat digunakan untuk mengenalkan kosakata Bahasa Inggris.
Guru dapat membuat kartu menggunakan kertas, gambar cetak, atau bahan yang tersedia di sekolah.
Sebagai contoh, guru menyiapkan dua kelompok kartu.
Kelompok pertama berisi gambar buah, sedangkan kelompok kedua berisi nama buah dalam Bahasa Inggris.
Siswa diminta memasangkan gambar dengan kata yang sesuai.
Contoh kosakata:
Pada tahap awal, guru dapat menunjukkan gambar sambil mengucapkan kata.
"Look! This is an apple."
Artinya: Lihat! Ini sebuah apel.
Kemudian, guru meminta siswa mengulang pengucapan.
Setelah beberapa kosakata dikenalkan, kartu dapat diacak dan digunakan dalam permainan mencocokkan pasangan.
Guru juga dapat mengembangkan kegiatan menjadi permainan memori.
Kartu diletakkan dalam posisi tertutup, lalu siswa membuka dua kartu untuk mencari pasangan gambar dan kata.
British Council melalui LearnEnglish Kids juga merekomendasikan penggunaan flashcard untuk kegiatan pengenalan dan penguatan kosakata anak.
Untuk siswa yang belum lancar membaca, guru dapat menggunakan pasangan kartu gambar terlebih dahulu sebelum mengenalkan bentuk tulisan.
Tujuan pembelajaran: Mengenal kosakata benda, menghubungkan gambar dengan kata, serta melatih pengenalan tulisan sederhana.
Alokasi waktu contoh: 8–10 menit.
Aktivitas berikutnya adalah mencari benda di sekitar kelas berdasarkan instruksi Bahasa Inggris.
Kegiatan ini cocok digunakan untuk mengenalkan kosakata benda-benda yang sering ditemukan siswa.
Guru dapat memulai dengan menunjukkan beberapa benda, seperti buku, pensil, penghapus, meja, dan kursi.
Contoh kosakata:
Setelah siswa mengenal kosakata, guru memberikan instruksi.
"Find a pencil."
Artinya: Temukan sebuah pensil.
"Point to the door."
Artinya: Tunjuk pintu.
"Show me your book."
Artinya: Tunjukkan bukumu.
Siswa kemudian mencari, menunjuk, atau memperlihatkan benda yang dimaksud.
Guru dapat menggunakan permainan ini untuk aktivitas individu maupun kelompok kecil.
Namun, kegiatan perlu diatur agar siswa tidak berlari, berebut barang, atau meninggalkan ruang kelas tanpa izin.
Jika ruangan sempit, kegiatan dapat dilakukan tanpa berpindah tempat. Siswa cukup menunjuk benda yang disebutkan.
Tujuan pembelajaran: Mengenal benda di lingkungan kelas dan memahami instruksi sederhana dalam konteks nyata.
Alokasi waktu contoh: 5–10 menit.
Kegiatan Listen and Point menekankan kemampuan menyimak Bahasa Inggris.
Dalam aktivitas ini, siswa mendengarkan kata atau kalimat pendek, kemudian menunjukkan gambar yang sesuai.
Guru dapat menyiapkan lembar berisi enam gambar hewan, misalnya kucing, anjing, burung, ikan, kelinci, dan sapi.
Setelah itu, guru mengucapkan salah satu kata.
"Cat."
Siswa menunjuk gambar kucing.
Guru dapat melanjutkan dengan kalimat sederhana.
"Point to the bird."
Artinya: Tunjuk gambar burung.
"Find the fish."
Artinya: Temukan gambar ikan.
Untuk tahap yang lebih tinggi, guru dapat memberikan kalimat deskriptif.
"It is a small animal. It can fly."
Artinya: Hewan ini berukuran kecil dan bisa terbang.
Siswa kemudian menentukan gambar yang paling sesuai.
Kegiatan tersebut dapat dilakukan menggunakan gambar cetak, buku, atau tampilan Papan Interaktif Digital (PID).
Apabila guru menggunakan rekaman audio, pastikan pelafalan terdengar jelas dan kecepatannya sesuai kemampuan peserta didik.
Namun, latihan menyimak tidak selalu membutuhkan perangkat digital. Guru dapat membacakan instruksi secara langsung.
British Council menekankan pentingnya menggunakan kalimat singkat, topik yang familier, pengulangan, serta tugas menyimak yang jelas bagi pembelajar usia dini.
Tujuan pembelajaran: Mengembangkan kemampuan mengidentifikasi kosakata dan memahami informasi lisan.
Alokasi waktu contoh: 5–8 menit.
Kegiatan Colour Dictation merupakan aktivitas menggambar atau mewarnai berdasarkan arahan berbahasa Inggris.
Guru membagikan lembar sederhana yang berisi gambar rumah, pohon, bunga, atau benda lain.
Selanjutnya, guru memberikan instruksi.
"Colour the roof red."
Artinya: Warnai atapnya dengan warna merah.
"Colour the door blue."
Artinya: Warnai pintunya dengan warna biru.
"Colour the leaves green."
Artinya: Warnai daun-daunnya dengan warna hijau.
Siswa mendengarkan instruksi kemudian mewarnai gambar sesuai perintah.
Untuk kelas yang sudah lebih siap, kegiatan dapat dikembangkan dengan menambahkan ukuran, posisi, atau jumlah.
Misalnya:
"Draw two yellow stars above the house."
Artinya: Gambarlah dua bintang kuning di atas rumah.
Kegiatan ini membantu siswa mempelajari kosakata warna, angka, benda, dan posisi melalui aktivitas visual.
Namun, guru perlu menyesuaikan instruksi dengan kemampuan siswa dan tidak memberikan terlalu banyak perintah sekaligus.
Bagi siswa yang memiliki hambatan membedakan warna, kegiatan dapat disesuaikan menggunakan label tulisan, simbol, atau pola agar penilaian tetap berfokus pada pemahaman bahasa.
Tujuan pembelajaran: Melatih pemahaman instruksi lisan dan mengenal kosakata warna, angka, serta posisi.
Alokasi waktu contoh: 8–10 menit.
Penggunaan lagu dan irama merupakan salah satu cara mengenalkan Bahasa Inggris kepada anak.
Lagu dengan kosakata sederhana dapat membantu siswa berlatih mendengarkan, mengucapkan, serta mengingat ungkapan yang dipelajari.
Guru dapat memilih lagu pembelajaran yang sesuai usia dan memiliki izin penggunaan yang jelas.
Selain menggunakan lagu, guru juga dapat membuat chant atau kalimat berirama sendiri.
Sebagai contoh:
"I see a book."
Artinya: Saya melihat sebuah buku.
"I see a pen."
Artinya: Saya melihat sebuah pena.
"I learn new words again and again."
Artinya: Saya belajar kata-kata baru berulang kali.
Guru dapat mengucapkannya dengan ketukan sederhana, kemudian siswa mengulang sambil menunjukkan benda yang disebutkan.
Kegiatan ini dapat dikembangkan dengan mengganti kosakata.
Misalnya, kata "book" dan "pen" diganti dengan "bag", "chair", atau "table".
British Council menjelaskan bahwa lagu, rima, dan chant dapat digunakan untuk mendukung pengenalan kosakata, pola kalimat, serta pelafalan dalam pembelajaran anak.
Namun, guru tidak perlu memaksakan siswa tampil menyanyi sendirian. Kegiatan bersama lebih sesuai bagi anak yang masih malu atau belum percaya diri.
Tujuan pembelajaran: Melatih pelafalan, pengenalan ungkapan, dan keberanian berpartisipasi.
Alokasi waktu contoh: 5–7 menit.
Bermain peran atau role play membantu siswa menggunakan Bahasa Inggris dalam situasi komunikasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Guru dapat membuat situasi sederhana, misalnya meminjam alat tulis atau berbelanja di toko kecil.
Untuk siswa yang baru belajar, dialog sebaiknya singkat dan menggunakan ungkapan yang telah diperkenalkan sebelumnya.
Contoh dialog meminjam pensil:
Siswa A: "Can I borrow your pencil?"
Artinya: Bolehkah saya meminjam pensilmu?
Siswa B: "Sure. Here you are."
Artinya: Tentu. Ini dia.
Siswa A: "Thank you."
Artinya: Terima kasih.
Siswa B: "You're welcome."
Artinya: Sama-sama.
Guru dapat memperagakan dialog terlebih dahulu bersama salah satu siswa.
Selanjutnya, siswa berlatih secara berpasangan.
Setelah memahami pola dasar, siswa dapat mengganti benda yang dipinjam, misalnya eraser, ruler, atau book.
Untuk variasi, guru dapat menyiapkan beberapa kartu situasi agar siswa memiliki pilihan percakapan.
Kegiatan ini sebaiknya tidak hanya menilai apakah siswa mengucapkan kalimat tanpa kesalahan, tetapi juga memperhatikan apakah mereka berusaha menyampaikan maksud dengan jelas.
Tujuan pembelajaran: Melatih keberanian berbicara dan penggunaan ungkapan sehari-hari.
Alokasi waktu contoh: 8–12 menit.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir