KebonCinta.com - WorldSkills Shanghai 2026 menjadi salah satu momentum penting untuk melihat arah perkembangan pendidikan vokasi di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan industri. Ajang tersebut mempertemukan 1.385 peserta muda dari 68 negara dan kawasan dalam 64 bidang kompetisi pada 22–27 September 2026.
Indonesia mengirimkan 20 peserta untuk berlaga di 17 bidang kompetisi. Kontingen Indonesia berhasil meraih satu medali perak, dua medali perunggu, serta sejumlah penghargaan Medallion for Excellence.
�9�3 Baca Juga: Kota Bogor Dorong Wajib 1 Tahun Prasekolah, Orang Tua Diingatkan Jangan Paksa Anak PAUD Belajar Calistung
Namun, WorldSkills tidak hanya dapat dilihat sebagai kompetisi untuk memperebutkan medali. Ajang ini juga menjadi ruang untuk menguji dan memperbarui standar kompetensi sesuai perkembangan dunia kerja.
WorldSkills Shanghai 2026 memperkenalkan tujuh bidang kompetisi baru, yakni sistem pesawat tanpa awak, desain media interaktif digital, teknologi keamanan cerdas, teknologi kendaraan rel, pengujian perangkat lunak, prostetik gigi, dan penjualan ritel.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak lagi hanya berkaitan dengan pekerjaan manual. Teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), sistem keamanan, layanan, serta kemampuan mengintegrasikan berbagai teknologi semakin menjadi bagian dari kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.
�9�3 Baca Juga: Mendikdasmen: Keteladanan Guru Jadi Kunci Membangun Sekolah Aman dan Nyaman
Dalam konteks Indonesia, pendidikan vokasi perlu bergerak dari sekadar menghasilkan lulusan “siap kerja” menuju lulusan dengan keunggulan keterampilan. Lulusan tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memahami standar mutu, bekerja presisi, memecahkan masalah, beradaptasi dengan teknologi, berkolaborasi, dan bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan.
Pengembangan teaching factory dinilai dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat pendidikan vokasi. Teaching factory seharusnya tidak sekadar menjadi laboratorium atau tempat menghasilkan produk untuk dipamerkan, tetapi menghubungkan proses pembelajaran dengan persoalan nyata, standar industri, target mutu, pengguna, dan batas waktu.
Mahasiswa perlu mengalami proses kerja secara utuh, mulai dari memahami kebutuhan, merancang solusi, memproduksi, menguji mutu, memperbaiki kesalahan, hingga mempertanggungjawabkan hasilnya.
Industri juga perlu dilibatkan lebih jauh sebagai mitra pendidikan, bukan hanya sebagai penyedia fasilitas atau tempat magang. Keterlibatan tersebut dapat mencakup penyusunan proyek, penyediaan mentor dan teknologi, penilaian kompetensi, hingga evaluasi relevansi pembelajaran.
Pemanfaatan AI juga menjadi bagian dari perkembangan pendidikan dan asesmen keterampilan. Teknologi tersebut dapat membantu membaca pola kesalahan, memberikan umpan balik, meningkatkan konsistensi proses, serta mendukung ketepatan asesmen.
Meski demikian, penerapan AI perlu tetap menempatkan manusia sebagai pengendali dan pihak yang bertanggung jawab atas keputusan akhir.
Pelajaran dari WorldSkills Shanghai 2026 menunjukkan bahwa masa depan pendidikan vokasi Indonesia tidak cukup ditentukan oleh jumlah fasilitas, sertifikat, atau kerja sama industri. Hal yang lebih penting adalah kemampuan lulusan untuk membuktikan kompetensi, beradaptasi dengan perubahan teknologi, serta menghasilkan solusi dan dampak nyata bagi dunia kerja dan masyarakat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir