Perbedaan tersebut dapat berubah karena usia hewan, lokasi otot, proses pemotongan, suhu, dan lama penyimpanan. Oleh sebab itu, konsumen sebaiknya tidak langsung mengambil kesimpulan hanya karena daging terasa lunak, kenyal, atau padat.
Jika membeli daging dalam keadaan terbuka, perhatikan pula kebersihan tempat penjualan dan cara pedagang menangani produknya. Hindari menyentuh daging secara langsung apabila tidak diperlukan, terutama jika tidak tersedia fasilitas kebersihan yang memadai.
Aroma daging segar dapat berbeda-beda sesuai jenis hewan dan kondisi penyimpanannya. Daging sapi umumnya mempunyai aroma khas daging mentah, sedangkan daging babi dapat memiliki karakter aroma yang berbeda.
Akan tetapi, kemampuan membedakan aroma membutuhkan pengalaman dan tidak selalu dapat diandalkan. Daging yang disimpan terlalu lama atau mengalami kerusakan juga bisa mengeluarkan bau tidak normal, apa pun jenisnya.
Karena itu, jangan menjadikan aroma sebagai satu-satunya cara untuk memastikan keaslian daging. Jika tercium bau busuk, asam menyengat, atau aroma yang tidak biasa, sebaiknya hindari membeli atau mengonsumsi daging tersebut.
Perlu dipahami pula bahwa daging yang tampak dan berbau normal belum tentu dapat dipastikan jenis maupun status kehalalannya hanya melalui pemeriksaan indra.
Baca Juga: Kentang hingga Tempe, Ini Pilihan Makanan untuk Menu Diet Lebih Seimbang
Selain memeriksa karakteristik fisik, konsumen dapat melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko membeli produk yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
Pertama, belilah daging dari pedagang atau tempat penjualan yang memiliki reputasi baik. Pilih penjual yang dapat menjelaskan asal produk dan menjaga kebersihan selama proses penanganan.
Kedua, perhatikan kondisi tempat penyimpanan. Daging segar perlu ditangani dan disimpan pada suhu yang sesuai agar kualitas serta keamanannya tetap terjaga.
Ketiga, untuk memastikan kehalalan, utamakan daging dari rumah potong hewan atau pemasok yang dapat menunjukkan informasi penyembelihan dan jaminan halal yang relevan. Jika tersedia, periksa informasi sertifikat halal melalui saluran resmi.
Keempat, berhati-hatilah ketika menemukan daging dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga pasaran tanpa penjelasan yang masuk akal. Harga murah bukan bukti adanya kecurangan, tetapi patut menjadi alasan untuk memeriksa asal dan kualitas produk lebih lanjut.
Kelima, jika menemukan dugaan pencampuran daging atau praktik penjualan yang mencurigakan, jangan langsung menyebarkan tuduhan tanpa bukti. Simpan informasi transaksi yang relevan dan sampaikan laporan kepada pihak berwenang atau lembaga pengawasan pangan yang sesuai.
Pengamatan warna, serat, lemak, tekstur, dan aroma dapat membantu konsumen mengenali perbedaan awal. Namun, kelima ciri tersebut tidak selalu mampu mengidentifikasi jenis daging secara pasti, terlebih jika produk sudah dicincang, diolah, atau dicampur.
Dalam pemeriksaan resmi, identifikasi spesies dapat dilakukan menggunakan metode laboratorium, termasuk pengujian DNA yang sesuai. Metode ini dapat membantu mendeteksi keberadaan materi genetik dari jenis hewan tertentu dalam sampel pangan.
Karena itu, apabila muncul dugaan serius mengenai pencampuran daging, pemeriksaan oleh lembaga yang berwenang jauh lebih dapat diandalkan daripada sekadar menilai tampilan fisiknya.
Konsumen juga perlu membedakan dua hal: keamanan pangan dan kehalalan. Daging yang terlihat segar belum otomatis menjamin kehalalannya, sementara penentuan kehalalan tidak cukup dilakukan hanya dengan melihat warna atau mencium aroma.
Baca Juga: Materi TKA SMA Bahasa Inggris Tingkat Lanjut, Ini Kemampuan yang Perlu Dikuasai Siswa
Mengenali ciri-ciri daging sapi dan daging babi dapat menambah kewaspadaan ketika berbelanja, terutama saat permintaan daging meningkat menjelang hari besar keagamaan. Warna, pola serat, karakteristik lemak, tekstur, dan aroma bisa menjadi bahan pengamatan awal, tetapi tidak boleh dianggap sebagai cara yang pasti.
Langkah paling bijak adalah menggabungkan pemeriksaan sederhana dengan pemilihan penjual tepercaya, informasi asal produk yang jelas, serta jaminan halal yang dapat diverifikasi.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya lebih berhati-hati terhadap kemungkinan kecurangan, tetapi juga dapat menjaga kualitas dan kehalalan pangan yang disajikan untuk keluarga.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir