KebonCinta.com - “Terserah, ikut saja.” Jawaban ini bisa terdengar ketika anak ditanya ingin mengikuti kegiatan apa atau memilih sesuatu untuk dirinya. Sesekali, ia mungkin memang tidak memiliki pilihan khusus. Namun, jika terus berulang, orang tua perlu memberi ruang untuk memahami alasan di baliknya.
Anak yang terbiasa menyesuaikan diri dengan keinginan orang tua mungkin lebih sibuk memikirkan jawaban yang akan diterima daripada mengenali apa yang sebenarnya ia rasakan.
Pola ini tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan kepribadian pada orang tua. Perhatian perlu diarahkan pada pengalaman anak: apakah ia memiliki kesempatan menyampaikan kebutuhan dan pilihan tanpa takut kehilangan penerimaan?
Dalam penelitian psikologi, terdapat istilah parental conditional regard, yaitu penerimaan atau kasih sayang orang tua yang dirasakan bergantung pada perilaku anak.
Baca Juga: Saat Anak Belum Berhasil, Bagaimana Orang Tua Memberi Ruang untuk Mencoba Lagi?
Studi Avi Assor, Guy Roth, dan Edward L. Deci dalam Journal of Personality pada 2004 menemukan hubungan antara persepsi penerimaan bersyarat dengan tekanan dari dalam diri, harga diri yang berfluktuasi, dan perasaan tidak disetujui orang tua.
Penelitian tersebut melibatkan laporan mahasiswa tentang pengalaman pengasuhan, sehingga tidak membuktikan bahwa semua anak akan mengalami dampak yang sama.
Temuan ini membantu menjelaskan bagaimana kepatuhan dapat disertai tekanan emosional. Anak mungkin melakukan sesuatu karena merasa harus mendapatkan persetujuan, meskipun belum memahami apakah pilihan itu sesuai dengan dirinya.
Sebagai ilustrasi, anak ingin beristirahat setelah sekolah, tetapi merasa harus mengikuti kegiatan tambahan agar orang tua tidak kecewa. Ia akhirnya menyetujui kegiatan tanpa menjelaskan rasa lelahnya.
Baca Juga: Saat Pengalaman Anak Terus Disangkal, Bagaimana Gaslighting Bisa Terjadi dalam Keluarga?
Jika situasi serupa terus terjadi, perhatian anak dapat lebih terarah pada reaksi orang tua. Pertanyaan “Apa yang aku butuhkan?” menjadi kalah mendesak dibandingkan “Jawaban apa yang membuat mereka senang?”
Penjelasan ini merupakan gambaran kemungkinan prosesnya, bukan kesimpulan bahwa setiap anak yang patuh kehilangan kemampuan mengenali diri. Kepatuhan juga dapat muncul karena kesepakatan, pemahaman aturan, atau pilihan anak sendiri.
Orang tua dapat memulai percakapan dengan pertanyaan yang konkret. Misalnya, “Kamu ingin melanjutkan kegiatan atau perlu istirahat?” Beri waktu anak menjawab sebelum menawarkan keputusan.
Jika ia belum tahu, bantu mengenali pengalamannya: apakah tubuhnya lelah, kegiatannya terlalu sulit, atau ia membutuhkan bantuan?
Pendekatan pengasuhan berbasis teori determinasi diri menekankan pentingnya mengakui pengalaman dan sudut pandang anak. Dukungan terhadap otonomi dapat berjalan bersama aturan, penjelasan alasan, dan struktur yang sesuai tahap perkembangan.
Baca Juga: Selalu Dituntut Sempurna, Mengapa Anak Bisa Merasa Tidak Pernah Cukup Baik?
Mendengarkan kebutuhan tidak berarti seluruh permintaan harus dipenuhi. Orang tua tetap dapat menetapkan batas sambil menjelaskan pertimbangannya dan membahas pilihan yang memungkinkan.
Misalnya, ketika anak tidak ingin mengerjakan tugas karena lelah, orang tua dapat menyepakati waktu istirahat sebelum tugas dilanjutkan. Kebutuhan istirahat didengar, sementara tanggung jawab tetap dibimbing.
Kesempatan menyampaikan pilihan, menjelaskan perasaan, dan ikut mencari solusi memberi anak ruang untuk mengenali dirinya. Percakapan tersebut dapat dimulai dari keputusan kecil sehari-hari, dengan penerimaan yang tidak bergantung pada apakah jawabannya selalu sesuai keinginan orang tua.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir