Khazanah
M. Panji Maulana

Teks Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 Lengkap, Naskah Asli dan Maknanya

Teks Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 Lengkap, Naskah Asli dan Maknanya

20 Oktober 2026 | 17:49

keboncinta.com- Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dikenal sebagai salah satu dokumen penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seruan para ulama Nahdlatul Ulama (NU) ini menjadi dasar historis penetapan Hari Santri Nasional.

Namun, di balik peristiwa tersebut terdapat diskursus sejarah yang menarik. Resolusi Jihad pernah diragukan keberadaannya, bahkan dianggap sebagai legenda karena kurang mendapat perhatian dalam sejumlah buku sejarah nasional.

Pertanyaan tentang keaslian dokumennya pun muncul. Apakah naskah tahun 1945 masih tersimpan? Di mana arsip aslinya berada? Mengapa peristiwa penting ini lama tidak dikenal masyarakat luas?

Penelusuran terhadap surat kabar sezaman, koleksi museum, dan penelitian akademik memberikan sejumlah jawaban.

Bagaimana Naskah Resolusi Jihad 1945 Ditemukan?

Resolusi Jihad dihasilkan melalui pertemuan para wakil Nahdlatul Ulama se-Jawa dan Madura yang berlangsung pada 21–22 Oktober 1945 di Surabaya.

Pertemuan itu berkaitan dengan ancaman terhadap kemerdekaan Republik Indonesia setelah kedatangan kembali kekuatan asing yang membawa kepentingan kolonial Belanda.

Salah satu bukti tertulis terpenting terdapat dalam surat kabar Kedaulatan Rakjat, Yogyakarta, edisi Jumat Legi, 26 Oktober 1945.

Surat kabar tersebut memuat pemberitaan tentang tuntutan Nahdlatul Ulama kepada Pemerintah Republik Indonesia agar mengambil tindakan menghadapi ancaman terhadap kedaulatan negara.

Keberadaan terbitan tersebut bukan sekadar klaim dari artikel modern.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat edisi 26 Oktober 1945 dalam katalog koleksi digitalnya, dengan identitas Tahun I Nomor 26.

Katalog mikrofilm Perpusnas juga mencatat koleksi Kedaulatan Rakjat tahun 1945–1946 pada rol 2194/PN.

Artinya, terdapat jejak arsip yang dapat diperiksa secara historis.

Isi Naskah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945

Naskah Resolusi Jihad yang diberitakan pada 1945 memiliki susunan resmi berupa pembukaan, Mendengar, Menimbang, Mengingat, dan Memutuskan.

Berikut penyajian seluruh bagian dan pokok isinya dalam bahasa Indonesia modern. Uraian ini mempertahankan substansi dokumen, tetapi bukan transkripsi verbatim.

Pembukaan

Dokumen menjelaskan bahwa resolusi merupakan hasil rapat besar wakil-wakil daerah atau konsul Perhimpunan Nahdlatul Ulama dari Jawa dan Madura pada 21–22 Oktober 1945 di Surabaya.

Keputusan tersebut dikeluarkan atas nama pimpinan Nahdlatul Ulama.

Mendengar

Para peserta rapat memperhatikan besarnya keinginan umat Islam dan para ulama di berbagai daerah untuk mempertahankan agama serta kedaulatan Republik Indonesia.

Dalam redaksi ejaan lama terdapat penggalan:

“AGAMA, KEDAOELATAN NEGARA REPOEBLIK INDONESIA MERDEKA.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pembelaan terhadap kedaulatan negara merupakan bagian penting dari sikap para ulama.

Menimbang

Bagian ini memuat dua pertimbangan.

Pertama, mempertahankan dan menegakkan Republik Indonesia dipandang sebagai kewajiban bagi umat Islam berdasarkan hukum agama.

Kedua, mayoritas penduduk Indonesia ketika itu merupakan umat Islam sehingga memiliki tanggung jawab besar dalam mempertahankan kemerdekaan.

Mengingat

Bagian ini memuat empat pertimbangan tentang keadaan yang dihadapi Republik.

Pertama, adanya tindakan kekerasan dan kejahatan yang dikaitkan dengan pihak Belanda melalui NICA serta Jepang, yang mengganggu ketenteraman masyarakat.

Kedua, tindakan tersebut dipandang mengancam kedaulatan Republik Indonesia dan membuka kemungkinan kembalinya penjajahan.

Ketiga, pertempuran telah terjadi di sejumlah wilayah dan menimbulkan korban jiwa. Umat Islam turut terlibat karena memandang pembelaan kemerdekaan sebagai kewajiban agama.

Keempat, keadaan tersebut membutuhkan arahan dan tindakan nyata dari Pemerintah Republik Indonesia.

Memutuskan

Resolusi memuat dua keputusan utama.

Keputusan pertama: meminta pemerintah menentukan sikap dan mengambil tindakan yang sepadan terhadap upaya yang membahayakan kemerdekaan, negara, serta kehidupan beragama, khususnya menghadapi ancaman kolonial Belanda.

Keputusan kedua: meminta pemerintah melanjutkan perjuangan mempertahankan Republik Indonesia dalam semangat perjuangan sabilillah.

Dalam naskah ejaan lama terdapat penggalan:

“melandjoetkan perdjoeangan bersifat ‘sabilillah’”

Dokumen tersebut ditutup dengan penanggalan Surabaya, 22 Oktober 1945, atas nama pimpinan Nahdlatul Ulama.

Di Mana Naskah Asli Resolusi Jihad Disimpan?

Pertanyaan mengenai lokasi naskah asli perlu dijawab dengan membedakan beberapa jenis dokumen.

Pertama, surat kabar asli yang memberitakan resolusi.

Perpustakaan Nasional memiliki koleksi digital Kedaulatan Rakjat edisi 26 Oktober 1945. Ini merupakan bukti penerbitan sezaman yang sangat penting.

Kedua, salinan dokumen Resolusi Jihad.

Museum Nahdlatul Ulama di Surabaya dilaporkan menyimpan fotokopi naskah Resolusi Jihad tertanggal 22 Oktober 1945.

Keterangan tersebut telah diberitakan NU Online pada 2011, sebelum penetapan Hari Santri Nasional.

Ketiga, dokumen keputusan yang benar-benar berasal dari rapat 1945.

Keberadaan salinan atau pemberitaan surat kabar tidak otomatis membuktikan bahwa lembar keputusan asli yang ditandatangani peserta rapat masih tersimpan pada lokasi tertentu.

Sampai penelusuran ini dilakukan, belum diperoleh bukti katalog yang cukup untuk memastikan lokasi penyimpanan fisik dokumen keputusan asli bertanggal 22 Oktober 1945.

Perbedaan tersebut penting dalam kajian sejarah karena autentisitas suatu peristiwa tidak selalu bergantung pada masih tersimpannya satu dokumen tulisan tangan.

Mengapa Resolusi Jihad Pernah Dianggap Tidak Ada?

Salah satu episode penting dalam perdebatan sejarah Resolusi Jihad terjadi pada akhir 2011.

Menurut laporan ANTARA tahun 2015 yang mengutip pengantar buku KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, sejarawan Aminuddin Kasdi pernah menyampaikan keraguan mengenai keberadaan Resolusi Jihad dalam sebuah seminar di Tebuireng.

Gus Sholah mengungkapkan keterkejutannya karena peristiwa tersebut tidak menjadi bagian yang menonjol dalam pembelajaran sejarah di sekolah.

Pernyataan itu mendorongnya membentuk tim penelitian sejarah.

Tim tersebut melakukan penelusuran ke Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional di Jakarta serta menghubungi pihak yang berkaitan dengan penelusuran sumber di Leiden, Belanda.

Penelitian itu berhasil mengidentifikasi pemberitaan surat kabar dari Oktober 1945.

Hasilnya kemudian diterbitkan dalam buku Resolusi Jihad: Perjuangan Ulama dari Menegakkan Agama hingga Negara, yang disusun Abdul Latif Bustami bersama Tim Sejarawan Tebuireng dan diterbitkan Pustaka Tebuireng pada 2015.

Buku tersebut menjadi bagian penting dari upaya menguji kembali keberadaan Resolusi Jihad melalui sumber sejarah tertulis.

Apakah Naskah Resolusi Jihad Itu Hoaks?

Dalam penelitian sejarah, keraguan terhadap sebuah dokumen tidak otomatis berarti dokumen tersebut palsu.

Sebaliknya, pengakuan terhadap suatu peristiwa juga perlu didukung bukti yang dapat diuji.

Ada beberapa fakta penting mengenai Resolusi Jihad.

Pertama, pemberitaan mengenai keputusan NU tersebut terdapat dalam surat kabar yang terbit beberapa hari setelah rapat berlangsung.

Kedua, terdapat informasi mengenai penyebaran berita melalui Kantor Berita ANTARA pada 25 Oktober 1945 dan surat kabar Berita Indonesia pada 27 Oktober 1945.

Ketiga, reproduksi naskah telah dikenal dalam literatur sejarah sebelum Hari Santri ditetapkan pada 2015.

Keempat, keberadaan berbagai versi teks perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan asal-usul, hubungan antarsalinan, dan ketepatan redaksinya.

Dengan bukti-bukti tersebut, menyebut keseluruhan peristiwa Resolusi Jihad sebagai hoaks tidak sejalan dengan dokumentasi sejarah yang tersedia.

Namun, kesimpulan tersebut tidak berarti semua gambar yang beredar di internet pasti merupakan dokumen asli 1945.

Keaslian setiap gambar, salinan, dan transkripsi tetap harus diuji berdasarkan sumber serta riwayat penyimpanannya.

Mengapa Resolusi Jihad Kurang Dikenal Selama Puluhan Tahun?

Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan mengapa Resolusi Jihad kurang dikenal dibandingkan peristiwa lain dalam sejarah Revolusi Indonesia.

Pertama, penulisan sejarah nasional sering memberikan perhatian besar kepada tokoh pemerintahan, militer, serta peristiwa pertempuran utama.

Akibatnya, peran organisasi masyarakat, ulama, dan jaringan pesantren belum tentu memperoleh pembahasan yang seimbang dalam setiap buku sejarah.

Kedua, penyebaran dokumen pada masa revolusi tidak berlangsung seperti sistem dokumentasi modern.

Sebagian informasi disampaikan melalui surat kabar, selebaran, pertemuan organisasi, dan komunikasi lisan.

Ketiga, terdapat perbedaan antara peristiwa sejarah yang telah diteliti secara akademik dan peristiwa yang dikenal luas melalui pendidikan sekolah.

Resolusi Jihad sebenarnya telah dibicarakan dalam publikasi sejarah sebelum 2015, termasuk kajian mengenai Nahdlatul Ulama dan sejarah perjuangan.

NU Online bahkan telah memublikasikan teksnya pada 2005.

Karena itu, kurang tepat menyatakan bahwa Resolusi Jihad benar-benar hilang selama 70 tahun dan baru diketahui menjelang penetapan Hari Santri.

Yang lebih tepat adalah bahwa dokumentasi serta pembahasan akademiknya telah ada, tetapi pengenalannya kepada masyarakat luas berlangsung tidak merata.

Ada pula pandangan yang menilai kurangnya perhatian tersebut berkaitan dengan kecenderungan politik dalam penulisan sejarah.

Namun, tuduhan mengenai penghilangan sejarah secara sengaja membutuhkan pembuktian tersendiri dan tidak dapat disimpulkan hanya karena suatu peristiwa kurang muncul dalam buku pelajaran.

Perbedaan Naskah 1945 dan Resolusi Muktamar NU 1946

Diskursus mengenai autentisitas semakin penting karena terdapat lebih dari satu dokumen yang berkaitan dengan Resolusi Jihad.

Penelitian yang mengutip sejarawan Martin van Bruinessen membedakan teks yang beredar setelah rapat Oktober 1945 dengan rumusan resolusi yang berkaitan dengan Muktamar NU XVI di Purwokerto pada 26–29 Maret 1946.

Kedua dokumen tersebut mempunyai hubungan sejarah, tetapi tidak boleh dianggap sebagai satu dokumen yang identik.

Perbedaan redaksi dapat terjadi karena bentuk dokumen, proses penyebaran, ejaan, maupun penyusunan keputusan pada waktu berbeda.

Hal ini menjelaskan mengapa penelitian autentisitas tidak cukup dilakukan dengan membandingkan satu gambar internet dengan satu artikel modern.

Peneliti perlu mengetahui kapan dokumen diterbitkan, siapa penerbitnya, serta bagaimana dokumen tersebut sampai kepada pembaca sekarang.

Fatwa Jihad dan Resolusi Jihad Juga Perlu Dibedakan

Selain perbedaan dokumen tahun 1945 dan 1946, terdapat pula pembedaan antara Fatwa Jihad dan Resolusi Jihad.

Dalam kajian KH Agus Sunyoto, Fatwa Jihad ditujukan kepada umat Islam sebagai seruan keagamaan mempertahankan kemerdekaan.

Sementara itu, Resolusi Jihad merupakan keputusan yang disampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Keterangan mengenai kewajiban individual dalam radius sekitar 94 kilometer berkaitan dengan pembahasan Fatwa Jihad, bukan butir tersendiri dalam teks Resolusi Jihad yang diberitakan Kedaulatan Rakjat.

Pembedaan tersebut membantu menghindari kesalahan ketika mengutip dokumen sejarah.

Link Arsip dan PDF Resolusi Jihad 1945

Pembaca yang ingin melakukan pemeriksaan mandiri dapat menggunakan sumber berikut.

1. Arsip Digital Perpustakaan Nasional RI

https://khastara.perpusnas.go.id/koleksi-digital/detail/?catId=1389871

Cari berkas Kedaulatan Rakjat, 26 Oktober 1945, Tahun I Nomor 26.

2. Reproduksi Gambar Naskah dalam Buku Akademik

https://ummetro.ac.id/dokumen/258/view

Buku K.H. Hasyim Asy'ari dan Resolusi Jihad dalam Usaha Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia 1945 menampilkan reproduksi potongan pemberitaan surat kabar pada halaman cetak 80.

3. Teks dengan Ejaan Lama

https://uinsgd.ac.id/isi-teks-resolusi-jihad/

4. Reproduksi Naskah oleh NU Online

https://nu.or.id/warta/inilah-isi-resolusi-jihad-XRd0C

Dokumen-dokumen tersebut mempunyai nilai pembuktian yang berbeda. Arsip terbitan 1945 lebih dekat kepada sumber primer, sedangkan buku dan artikel modern membantu menjelaskan konteks serta penafsirannya.

Resolusi Jihad sebagai Fakta dan Objek Kajian Sejarah

Perdebatan mengenai Resolusi Jihad memberikan pelajaran penting tentang bagaimana sejarah diteliti.

Keberadaan suatu peristiwa perlu dibedakan dari keaslian dokumen tertentu, ketepatan reproduksinya, dan interpretasi terhadap pengaruhnya.

Dokumentasi surat kabar Oktober 1945 memberikan dasar yang kuat untuk menyatakan bahwa keputusan Resolusi Jihad merupakan peristiwa sejarah yang dapat ditelusuri.

Namun, penelitian tetap diperlukan untuk mengidentifikasi seluruh versi dokumen, menemukan riwayat penyimpanannya, dan menilai pengaruh langsungnya terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Baca Juga: Mengapa Hari Santri Diperingati pada 22 Oktober? Mengenal Resolusi Jihad dan Latar Sejarahnya

Pada akhirnya, kekuatan sejarah Resolusi Jihad tidak terletak pada banyaknya cerita heroik yang diulang, melainkan pada kesediaan untuk mengkajinya melalui bukti, kritik sumber, dan penelitian ilmiah.

Dengan pendekatan tersebut, generasi sekarang dapat menghargai perjuangan ulama dan santri tanpa mengabaikan prinsip kejujuran dalam penulisan sejarah.

Tags:
Resolusi Jihad 1945 Naskah Asli Resolusi Jihad KH Hasyim Asy'ari Sejarah Hari Santri Arsip Kedaulatan Rakyat Perdebatan Sejarah hari santri nasional

Komentar Pengguna