Khazanah
M. Panji Maulana

Teks Khutbah Jumat Tema Hari Santri 2026: Meneladani Jihad Santri melalui Ilmu, Akhlak, dan Cinta Tanah Air

Teks Khutbah Jumat Tema Hari Santri 2026: Meneladani Jihad Santri melalui Ilmu, Akhlak, dan Cinta Tanah Air

23 Oktober 2026 | 05:21

keboncinta.com- Peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026 menjadi momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia sekaligus memperkuat tanggung jawab umat Islam terhadap masa depan bangsa.

Tema resmi Hari Santri 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, dapat menjadi bahan renungan dalam khutbah Jumat, khususnya mengenai pentingnya ilmu, akhlak, persatuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Berikut contoh naskah khutbah Jumat pertama dan kedua yang dapat digunakan pada Jumat, 23 Oktober 2026, maupun pada kesempatan lain yang berkaitan dengan peringatan Hari Santri.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى سَبِيلِ الْخَيْرِ وَالسَّلَامِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Pada kesempatan yang mulia ini, kita kembali mengenang Hari Santri Nasional, sebuah peringatan yang mengingatkan kita tentang perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian para ulama serta santri bagi bangsa Indonesia.

Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober untuk mengenang peristiwa Resolusi Jihad tahun 1945.

Ketika kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan berada dalam ancaman, para ulama dan santri turut mengambil tanggung jawab untuk mempertahankan tanah air.

Di antara tokoh penting dalam sejarah tersebut adalah Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Perjuangan beliau bersama para ulama dan santri memberikan teladan bahwa keimanan dan kecintaan terhadap tanah air dapat berjalan beriringan dalam pengabdian kepada masyarakat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Ada sebuah pelajaran penting dari sejarah tersebut.

Para santri terdahulu tidak hanya mempelajari ilmu agama untuk kepentingan dirinya sendiri. Ilmu yang diperoleh juga menjadi bekal untuk menjalankan tanggung jawab sosial dan menjaga kehidupan bangsanya.

Mereka memahami bahwa ilmu harus melahirkan amal, dan amal harus membawa manfaat.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, tantangan yang dihadapi berupa ancaman penjajahan.

Adapun pada masa sekarang, kita menghadapi tantangan yang berbeda, seperti rendahnya kualitas pendidikan, kemiskinan, penyalahgunaan teknologi, kerusakan lingkungan, dan melemahnya kejujuran dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, meneladani semangat perjuangan santri hari ini dapat diwujudkan melalui tiga tanggung jawab utama.

Pertama, menguatkan negeri dengan ilmu pengetahuan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.

Ayat tersebut menunjukkan kemuliaan ilmu dalam ajaran Islam.

Rasulullah SAW juga bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya, sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari Nomor 5027).

Ilmu yang bermanfaat tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal. Ilmu semestinya membimbing perilaku, memperbaiki kehidupan, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Santri masa kini perlu memiliki penguasaan agama yang kuat sekaligus keterampilan untuk menghadapi perkembangan zaman.

Kedua, menguatkan negeri dengan akhlak dan kejujuran.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Kemajuan suatu bangsa tidak cukup hanya diukur dari banyaknya bangunan, perkembangan ekonomi, ataupun kecanggihan teknologi.

Bangsa juga membutuhkan masyarakat yang dapat dipercaya, pemimpin yang amanah, dan generasi muda yang menjunjung kejujuran.

Al-Qur'an dalam Surah At-Taubah ayat 119 memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa kepada Allah dan bersama orang-orang yang benar.

Peringatan Hari Santri hendaknya mengingatkan kita untuk memperkuat akhlak, baik di lingkungan keluarga, sekolah, pesantren, tempat kerja, maupun masyarakat.

Kejujuran seorang pedagang, keadilan seorang pemimpin, tanggung jawab seorang guru, dan kesungguhan seorang pelajar merupakan bentuk pengabdian yang penting bagi kehidupan bangsa.

Ketiga, menguatkan negeri dengan persatuan dan kepedulian sosial.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah.

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keragaman suku, bahasa, budaya, serta agama.

Keragaman tersebut perlu dijaga melalui sikap saling menghormati, bekerja sama dalam kebaikan, dan menjauhi permusuhan.

Kita tidak boleh membiarkan perbedaan menjadi alasan untuk menyebarkan kebencian.

Semangat perjuangan santri seharusnya mendorong kita menjadi pribadi yang menghadirkan ketenteraman dan memberikan pertolongan kepada orang lain.

Membantu tetangga yang kesulitan, menjaga kebersihan lingkungan, mendidik anak dengan baik, serta berpartisipasi dalam kegiatan sosial merupakan contoh sederhana kontribusi terhadap negeri.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Hari Santri 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.”

Tema ini mengingatkan kita bahwa perjuangan generasi sekarang adalah membangun masa depan melalui ilmu, karakter, kerja keras, dan pengabdian.

Marilah kita menjadikan peringatan Hari Santri bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang menjaga ilmu, memelihara akhlak, dan memberikan manfaat bagi agama, bangsa, serta sesama manusia.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khatib duduk sejenak sebelum melanjutkan khutbah kedua.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ، لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Pada khutbah kedua ini, marilah kita kembali mengingat bahwa kecintaan terhadap agama dan tanah air harus tercermin dalam perilaku yang baik.

Kita dapat meneladani perjuangan ulama dan santri dengan mendidik generasi muda, memelihara persaudaraan, menjaga amanah, dan bekerja sungguh-sungguh demi kemaslahatan masyarakat.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita agar menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, serta bermanfaat bagi sesama.

Marilah kita berdoa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَبَلَاءٍ، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ أُمَّتِنَا، وَوَفِّقْ شَبَابَنَا وَطُلَّابَنَا وَمُعَلِّمِينَا لِطَلَبِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْعِلْمَ النَّافِعَ، وَالْعَمَلَ الْمُتَقَبَّلَ، وَالْأَخْلَاقَ الْكَرِيمَةَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَنْفَعُونَ أَوْطَانَهُمْ وَيُحْسِنُونَ إِلَى عِبَادِكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

Baca Juga:

Mengapa Hari Santri Diperingati pada 22 Oktober? Mengenal Resolusi Jihad dan Latar Sejarahnya

Tema Hari Santri 2026 “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”: Makna dan Rangkaian Acaranya

Tags:
Khutbah Jumat Hari Santri 2026 Teks Khutbah Jumat hari santri nasional resolusi jihad Khutbah Singkat Khutbah Pertama dan Kedua

Komentar Pengguna