Teknologi
Hilmi An Naufal

Teknologi IoT Masuk Desa, Petani Sragen Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 53 Persen

Teknologi IoT Masuk Desa, Petani Sragen Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 53 Persen

07 Oktober 2026 | 06:43

KebonCinta.com — Teknologi Internet of Things atau IoT mulai dimanfaatkan untuk membantu petani mengambil keputusan berdasarkan kondisi lahan.

Salah satu penerapannya dilakukan di Desa Pengkok, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Petani menggunakan perangkat sensor tanah bernama Jinawi untuk mengetahui kondisi lahan sebelum menentukan kebutuhan pemupukan.

Pemanfaatan teknologi tersebut mendapat perhatian Kementerian Komunikasi dan Digital.

“Teknologi digital jangan hanya dinikmati di perkotaan,” ujar Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid.

Ia kemudian menjelaskan digitalisasi juga perlu masuk ke desa dan digunakan untuk membantu produktivitas serta ketahanan pangan.

Sensor Jinawi digunakan untuk memberikan gambaran mengenai kondisi tanah.

Informasi tersebut membantu petani mengetahui apakah lahan masih memiliki unsur yang cukup atau membutuhkan tambahan pupuk.

Sebelum menggunakan teknologi tersebut, penggunaan pupuk di lahan satu hektare disebut mencapai sekitar 1.600 kilogram.

Setelah kondisi tanah diketahui melalui sensor, kebutuhan pupuk menjadi sekitar 750 kilogram per hektare.

Penurunannya mencapai sekitar 53 persen.

Petani Sumarno mengatakan teknologi membantu mereka menentukan pemupukan secara lebih tepat.

Dengan mengetahui kondisi tanah, pupuk tidak perlu digunakan secara berlebihan apabila lahan masih dalam keadaan subur.

Efisiensi semacam ini penting bagi petani.

Penggunaan input yang lebih tepat dapat membantu mengurangi biaya produksi sekaligus mencegah pemborosan.

IoT pada dasarnya memungkinkan perangkat mengumpulkan data menggunakan sensor kemudian mengirimkan informasi melalui jaringan digital.

Dalam pertanian, teknologi dapat digunakan untuk memantau tanah, air, suhu maupun kondisi tanaman.

Pemanfaatannya juga tidak berhenti pada tanaman pangan.

Teknologi serupa mulai digunakan dalam kegiatan budidaya ikan.

Kelompok pembudidaya di Kabupaten Sukabumi menggunakan aerator berbasis IoT untuk menjaga kadar oksigen di kolam ikan nila.

Kelompok tersebut memiliki sekitar 20 anggota dan menghasilkan kurang lebih 40 ton ikan nila dalam satu siklus panen.

Sebagian hasil produksi juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis.

Sekitar 400 kilogram ikan nila per minggu dipasok untuk kebutuhan operasional dapur MBG di wilayah tersebut.

Penerapan teknologi di desa menunjukkan bahwa digitalisasi tidak selalu identik dengan aplikasi di kota besar.

Sensor sederhana yang memberikan data tepat kepada petani juga merupakan bagian dari transformasi digital.

Namun teknologi tetap membutuhkan pendampingan.

Petani perlu memahami cara membaca data, merawat perangkat dan menentukan tindakan yang tepat dari informasi yang diperoleh.

Koneksi internet serta biaya perangkat juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan apabila teknologi ingin diperluas.

Kemkomdigi berharap pemanfaatan IoT produktif dapat diterapkan di lebih banyak sentra pangan.

Jika berhasil, teknologi dapat membantu petani menggunakan sumber daya dengan lebih efisien sekaligus meningkatkan produktivitas.

Digitalisasi desa pada akhirnya akan terasa manfaatnya ketika teknologi mampu menyelesaikan persoalan nyata masyarakat, bukan hanya menjadi perangkat canggih yang jarang digunakan.

Tags:
IoT Smart Farming Petani Sragen Sukabumi Meutya Hafid Teknologi Pertanian Ketahanan Pangan

Komentar Pengguna