KebonCinta.com - Setiap berangkat kerja, muncul keinginan untuk segera mengundurkan diri. Namun, ketika membayangkan kehilangan penghasilan dan harus mencari pekerjaan baru, keputusan itu kembali tertunda. Bertahan terasa melelahkan, sementara keluar membawa ketidakpastian.
Dilema ini menunjukkan bahwa meninggalkan lingkungan kerja tidak sehat bukan keputusan sederhana. Menyadari adanya masalah belum tentu membuat seseorang memiliki kesempatan untuk langsung berpindah.
Dalam bahan pemberitaan Republika, psikolog Universitas Padjadjaran, Fredrick Dermawan Purba, menyoroti situasi pekerja yang merasa terjebak karena terbatasnya peluang kerja di tengah ketidakpastian ekonomi.
“Jadi serba takut mau keluar, serba takut juga mau bertahan,” ujarnya dalam diskusi yang diselenggarakan PIP Unpad bersama Unpad Kampus Jakarta.
Baca Juga: Cara Membuat CV untuk Fresh Graduate Tanpa Pengalaman Kerja, Lengkap dengan Contoh
Gaji bulanan sering menjadi penopang kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Biaya tempat tinggal, makan, cicilan, hingga kebutuhan keluarga tetap berjalan meskipun kondisi kantor terasa berat.
Karena itu, pekerja dapat mempertimbangkan risiko kehilangan penghasilan sebelum mengambil keputusan. Bertahan tidak otomatis berarti ia menerima perlakuan atau situasi yang membuatnya tertekan.
Bagi sebagian orang, pekerjaan saat ini masih menjadi sumber pemasukan yang paling pasti. Pertimbangan tersebut membuat keinginan resign harus berhadapan dengan kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Sudah Cuti tapi Masih Sibuk Kerja? Psikolog Ungkap Alasan Pekerja Sulit Lepas dari Urusan Kantor
Mencari pekerjaan pengganti membutuhkan waktu. Mengirim lamaran belum menjamin panggilan wawancara, sementara proses seleksi belum tentu berakhir dengan tawaran kerja.
Ketidakpastian ini dapat membuat pekerja menunda pengunduran diri. Ia mungkin ingin berpindah, tetapi belum memiliki pilihan yang cukup aman untuk dijalani.
Tanggung jawab keluarga juga turut membentuk keputusan. Dampak resign bisa dirasakan oleh orang lain yang bergantung pada penghasilannya.
Ucapan “keluar saja” dapat terasa terlalu sederhana bagi seseorang yang sedang menghitung banyak konsekuensi. Dukungan dapat dimulai dengan mendengarkan pertimbangannya dan membantu memetakan pilihan.
Baca Juga: Kerja Keras atau Kerja Cerdas, Bagaimana Milenial dan Gen Z Memaknai Kesuksesan?
Pekerja bisa menyiapkan langkah bertahap, seperti memperbarui CV, mencari lowongan, dan menilai kesiapan keuangan.
Keputusan membutuhkan ruang untuk mempertimbangkan kondisi nyata, agar langkah berikutnya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing pekerja.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir