KebonCinta.com-- Suzuki mulai memperluas langkahnya di pasar kendaraan listrik Jepang dengan menghadirkan e-Sky, mobil listrik penumpang pertamanya di segmen Kei-car. Mobil berukuran mungil ini dibanderol mulai 2,12 juta yen atau sekitar Rp222 juta sebelum subsidi, dengan target menjadi salah satu mobil listrik paling terjangkau di kelasnya.
Model ini dijadwalkan mulai dipasarkan di Jepang pada 16 November 2026. Kehadirannya menjadi langkah penting bagi Suzuki yang selama ini dikenal kuat di pasar mobil mungil bermesin bensin.
Daya tarik e-Sky bukan hanya harga. Suzuki juga memanfaatkan teknologi baterai dari BYD, produsen kendaraan listrik asal China, untuk membantu menekan biaya produksi. Lantas, apa saja keunggulan mobil listrik mungil ini?
Baca Juga: Mau Beli iPhone 15 Second? Ini Daftar Harga iPhone 15, Plus, Pro, dan Pro Max
Suzuki e-Sky menggunakan baterai lithium iron phosphate (LFP) berkapasitas 26 kWh. Berdasarkan pengujian WLTC yang diumumkan Suzuki, mobil ini memiliki jarak tempuh hingga 310 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Untuk mendukung performanya, Suzuki mengembangkan platform khusus kendaraan listrik bernama HEARTECT-e dan sistem penggerak e-Axle. Kombinasi tersebut dirancang untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga bobot kendaraan tetap ringan.
Bobot e-Sky tercatat sekitar 1.030 kilogram. Sebagai perbandingan, BYD Racco dengan baterai 22,4 kWh memiliki bobot sekitar 1.160 kilogram dan jarak tempuh 210 kilometer berdasarkan standar WLTC. Namun, Racco juga tersedia dengan baterai 35,84 kWh yang menawarkan jarak tempuh hingga 320 kilometer.
Perlu diperhatikan, angka jarak tempuh merupakan hasil pengujian standar. Jarak yang dicapai dalam penggunaan sehari-hari dapat berbeda bergantung pada kondisi jalan, cuaca, dan cara berkendara.
Sebagai Kei-car, Suzuki e-Sky dirancang agar praktis digunakan di jalan perkotaan Jepang yang relatif sempit.
Mobil ini memiliki panjang 3.395 mm, lebar 1.475 mm, tinggi 1.625 mm, serta jarak sumbu roda 2.460 mm. Ukurannya membuat e-Sky sama panjang dan lebar dengan BYD Racco, tetapi lebih rendah.
Dimensi kompak tersebut menjadi bagian dari konsep mobilitas harian yang diusung Suzuki. Kendaraan kecil seperti ini ditujukan untuk memudahkan aktivitas di kawasan perkotaan, termasuk ketika harus bermanuver atau mencari tempat parkir.
Suzuki menawarkan e-Sky dalam tiga varian, dengan harga dasar berbeda sesuai kelengkapan yang diberikan.
Varian A dibanderol 2,12 juta yen dan diproduksi berdasarkan pesanan. Untuk menjaga harga tetap rendah, versi ini ditujukan terutama bagi konsumen korporasi dan tidak dilengkapi sejumlah fitur, termasuk pengisian daya cepat.
Sementara itu, harga varian G mencapai 2,39 juta yen dan varian X sebesar 2,79 juta yen. Suzuki menargetkan penjualan gabungan sekitar 1.000 unit setiap bulan untuk ketiga varian tersebut.
Strategi menghadirkan versi dasar dengan fitur yang lebih terbatas menjadi salah satu cara Suzuki menawarkan mobil listrik dengan harga lebih terjangkau.
Harga e-Sky semakin menarik setelah memperhitungkan bantuan pembelian kendaraan listrik dari pemerintah Jepang.
Untuk kendaraan yang memenuhi ketentuan periode Oktober hingga Desember 2026, subsidi yang tercantum pada situs resmi Suzuki mencapai 568.000 yen. Dengan pengurangan tersebut, harga efektif varian dasar dapat menjadi sekitar 1,552 juta yen.
Harga setelah subsidi itu berada di bawah harga sejumlah pesaing di segmen Kei-car listrik, termasuk BYD Racco dan Nissan Sakura. Namun, besaran subsidi bergantung pada ketentuan serta kelayakan pengajuan.
Baca Juga: Tips Memilih Mobil Listrik Bekas agar Tetap Punya Resale Value Tinggi
Kehadiran e-Sky memperlihatkan bagaimana Suzuki mencoba mempertahankan posisinya di pasar mobil mungil Jepang saat peralihan menuju kendaraan listrik terus berkembang. Dengan mengandalkan baterai BYD, platform khusus EV, dan pilihan varian, Suzuki berupaya menjangkau konsumen yang ingin beralih dari mobil bensin ke kendaraan listrik.
Untuk saat ini, e-Sky diperkenalkan bagi pasar Jepang. Belum ada informasi resmi mengenai rencana pemasarannya di Indonesia.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir