Khazanah
Rahman Abdullah

Shalat Istisqa saat Kemarau Panjang, Ini Hukum, Waktu, Niat, dan Tata Cara Pelaksanaannya

Shalat Istisqa saat Kemarau Panjang, Ini Hukum, Waktu, Niat, dan Tata Cara Pelaksanaannya

22 Oktober 2026 | 19:15

KebonCinta.com-- Kemarau panjang bukan hanya membuat udara terasa lebih panas, tetapi juga dapat memicu berbagai persoalan dalam kehidupan masyarakat. Persediaan air bersih menipis, lahan pertanian mulai mengering, dan kebutuhan air untuk rumah tangga maupun peternakan semakin sulit dipenuhi.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, berbagai upaya perlu dilakukan untuk mengatasi kekeringan. Bagi umat Islam, salah satu ikhtiar spiritual yang dianjurkan ketika hujan lama tidak turun adalah melaksanakan shalat Istisqa.

Shalat Istisqa merupakan ibadah untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk. Pelaksanaannya juga menjadi pengingat agar manusia memperbanyak doa, beristighfar, bertobat, dan menyadari bahwa kehidupan sangat bergantung pada karunia Allah.

Lantas, bagaimana hukum shalat Istisqa, kapan waktu pelaksanaannya, dan bagaimana tata caranya? Berikut penjelasan yang dirangkum berdasarkan keterangan ulama.

Baca Juga: Amalan Setelah Shalat Jumat yang Bisa Diamalkan, Baca 4 Surat Ini Masing-Masing 7 Kali 

Hukum Shalat Istisqa dalam Islam

Istisqa secara bahasa berarti meminta air. Dalam konteks ibadah, istilah ini merujuk pada permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika manusia membutuhkannya.

Dalam kitab Kifayah al-Akhyar, Syekh Taqiyuddin al-Hisni menjelaskan bahwa shalat Istisqa memiliki hukum sunnah muakkadah, yakni ibadah sunnah yang sangat dianjurkan.

Dengan demikian, ketika masyarakat mengalami kekeringan atau kekurangan air, umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat Istisqa sebagai salah satu bentuk ikhtiar untuk memohon pertolongan Allah.

Ibadah ini bukan sekadar permintaan agar hujan segera turun. Shalat Istisqa juga menjadi kesempatan untuk memperbanyak istighfar, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Kapan Shalat Istisqa Bisa Dilaksanakan?

Shalat Istisqa tidak terikat pada satu waktu tertentu seperti beberapa ibadah sunnah lainnya. Menurut penjelasan Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayah az-Zain, shalat ini dapat dilaksanakan pada siang ataupun malam hari selama terdapat kebutuhan untuk memohon turunnya hujan.

Meski demikian, pelaksanaan secara berjamaah dapat menyesuaikan waktu yang memungkinkan masyarakat berkumpul dengan tertib dan khusyuk.

Ketika kekeringan terjadi dalam waktu lama, masyarakat dapat berkoordinasi untuk menyelenggarakan shalat Istisqa bersama-sama, misalnya di lapangan atau tempat yang memadai.

Tata Cara Shalat Istisqa yang Perlu Diketahui

Secara umum, shalat Istisqa terdiri atas dua rakaat dengan tata cara yang menyerupai shalat Id. Setelah shalat, imam menyampaikan khutbah yang berisi nasihat, istighfar, dan doa memohon hujan.

Berikut tahapan pelaksanaannya berdasarkan penjelasan ulama dalam sumber rujukan.

1. Membaca niat shalat Istisqa

Shalat Istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat dengan niat memohon turunnya hujan karena Allah SWT.

Baca Juga: Doa Memohon Hujan saat Kemarau Panjang, Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya 

Lafaz niat yang dapat digunakan adalah:

Arab:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا/إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin:

Ushalli sunnatal istisqai rak’ataini ma’muman/imaman lillahi ta’ala.

Artinya:

“Aku berniat shalat sunnah meminta hujan dua rakaat sebagai makmum (atau imam), karena Allah Ta’ala.”

Lafaz ma’muman digunakan ketika menjadi makmum, sedangkan imaman digunakan ketika bertindak sebagai imam.

2. Melaksanakan tujuh takbir tambahan pada rakaat pertama

Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram dan membaca doa iftitah, disunnahkan melakukan tujuh takbir tambahan sebelum membaca Surah Al-Fatihah.

Setelah Al-Fatihah, jamaah dianjurkan membaca Surah Qaf atau Surah Al-A’la. Bacaan tersebut merupakan bagian dari tata cara yang dijelaskan dalam rujukan fikih yang digunakan.

3. Melakukan lima takbir tambahan pada rakaat kedua

Pada rakaat kedua, setelah bangkit dari sujud, disunnahkan melakukan lima takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah.

Setelah itu, dianjurkan membaca Surah Al-Qamar atau Surah Al-Ghasyiyah. Shalat kemudian dilanjutkan dengan gerakan dan bacaan sebagaimana mestinya hingga salam.

4. Mendengarkan khutbah Istisqa

Setelah shalat dua rakaat selesai, imam menyampaikan khutbah Istisqa. Khutbah dapat disampaikan sebelum atau sesudah shalat, tetapi dalam rujukan yang digunakan, pelaksanaannya setelah shalat dinilai lebih utama.

Khutbah tersebut berisi ajakan untuk bertobat, memohon ampun, memperbaiki diri, serta berdoa agar Allah menurunkan hujan yang membawa manfaat.

5. Memperbanyak istighfar

Salah satu kekhasan khutbah Istisqa adalah anjuran membaca istighfar sebagai pengganti takbir pembuka khutbah sebagaimana dalam shalat Id.

Dalam penjelasan yang dirujuk, khatib dianjurkan membaca istighfar sembilan kali sebelum khutbah pertama dan tujuh kali sebelum khutbah kedua.

Baca Juga: Tata Cara Puasa Ayyamul Bidh, Lengkap dengan Niat, Waktu Berpuasa, dan Ketentuan Khusus Dzulhijjah 

Salah satu bacaan istighfar yang dapat diamalkan adalah:

Arab:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Latin:

Astaghfirullahal ‘azhim, la ilaha illa huwal hayyul qayyum, wa atubu ilaih.

Artinya:

“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung. Tiada Tuhan selain Dia Yang Mahahidup dan Maha Berdiri Sendiri. Aku bertobat kepada-Nya.”

Istighfar mengingatkan umat Islam bahwa memohon hujan juga menjadi momentum untuk bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT.

6. Membaca doa memohon turunnya hujan

Doa menjadi bagian penting dalam rangkaian shalat Istisqa.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Shalat Istisqa Doa hujan Kemarau panjang

Komentar Pengguna