Gaya Hidup
Al Fina

Sering Overthinking? 3 Prinsip Hidup Orang Jepang Ini Bisa Bantu Pikiran Lebih Tenang

Sering Overthinking? 3 Prinsip Hidup Orang Jepang Ini Bisa Bantu Pikiran Lebih Tenang

20 Oktober 2026 | 20:04

KebonCinta.com - Overthinking atau kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan bisa dialami siapa saja. Kondisi ini dapat muncul ketika seseorang menghadapi tekanan pekerjaan, konflik dalam hubungan, atau ketidakpastian yang membuat pikiran terus mencari jawaban.

Alih-alih menemukan solusi, pikiran justru berputar pada persoalan yang sama. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini bisa menguras energi dan membuat seseorang kesulitan menikmati waktu istirahat.

Karena itu, penting untuk menemukan cara mengatasi overthinking yang sesuai dengan kebutuhan diri sendiri. Salah satu pendekatan yang menarik untuk dipelajari adalah sejumlah prinsip kehidupan yang dikenal dalam budaya Jepang.

Dilansir dari YourTango, ada beberapa konsep Jepang yang dapat menjadi inspirasi dalam menghadapi kekhawatiran, menerima keadaan, dan melatih ketangguhan diri. Tiga di antaranya adalah Shouganai, Zazen, dan Gaman.

Lantas, bagaimana cara menerapkan ketiga prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari?

Baca Juga: Suka Nonton Film Sedih dan Dengar Lagu Mellow? Ternyata Ini 3 Alasan Psikologisnya 

1. Shouganai, Belajar Menerima Hal yang Tidak Bisa Dikendalikan

Shouganai merupakan ungkapan dalam bahasa Jepang yang kurang lebih berarti "memang begitulah adanya" atau "tidak ada yang bisa dilakukan". Ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan penerimaan terhadap keadaan yang tidak dapat diubah atau berada di luar kendali.

Dalam kehidupan sehari-hari, overthinking sering muncul karena seseorang berusaha mencari kepastian atas segala sesuatu. Kita mungkin terus memikirkan perkataan orang lain, menyesali keputusan masa lalu, atau mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Padahal, tidak semua hal bisa dikendalikan sesuai keinginan.

Prinsip Shouganai mengajak seseorang untuk membedakan antara keadaan yang masih bisa diperbaiki dan situasi yang memang harus diterima. Dengan begitu, energi tidak terus-menerus terkuras untuk memikirkan sesuatu yang tidak dapat diubah.

Cara menerapkannya cukup sederhana. Ketika menghadapi situasi yang membuat stres, tanyakan kepada diri sendiri apakah ada tindakan nyata yang bisa dilakukan.

Jika masih ada solusi, susun langkah untuk menyelesaikannya. Namun, jika situasi tersebut berada di luar kendali, cobalah menerima kenyataan dan mengalihkan perhatian pada hal-hal yang masih bisa diusahakan.

Menerima keadaan bukan berarti menyerah. Sebaliknya, prinsip ini membantu kita memilih persoalan mana yang layak diperjuangkan dan mana yang perlu dilepaskan.

2. Zazen, Melatih Kesadaran terhadap Tubuh dan Pikiran

Prinsip berikutnya adalah Zazen, sebuah praktik duduk yang berakar pada tradisi Buddha Zen, khususnya Soto Zen di Jepang.

Zazen tidak sekadar dipahami sebagai upaya membuat pikiran menjadi kosong. Dalam tradisi ini, perhatian diberikan pada postur duduk dan pengalaman hadir secara utuh pada saat ini.

Ketika mengalami overthinking, seseorang sering kali terjebak dalam kenangan masa lalu atau kekhawatiran tentang masa depan. Akibatnya, perhatian terhadap keadaan saat ini menjadi berkurang.

Zazen dapat menjadi inspirasi untuk melatih kesadaran terhadap tubuh, posisi duduk, dan pengalaman yang sedang berlangsung tanpa harus bereaksi terhadap setiap pikiran yang muncul.

Bagi pemula, praktik ini dapat dimulai dengan duduk dalam posisi yang nyaman, menjaga punggung tetap tegak, dan membiarkan napas berlangsung secara alami. Perhatikan sensasi tubuh dan sadari ketika pikiran mulai mengembara.

Tidak perlu memaksa pikiran menjadi kosong. Ketika muncul kekhawatiran, cukup sadari keberadaannya tanpa harus langsung mengikuti atau mengembangkan pikiran tersebut.

Praktik ini dapat menjadi salah satu cara untuk membangun perhatian dan ketenangan. Namun, Zazen memiliki landasan spiritual dan tradisi tersendiri sehingga tidak sepenuhnya sama dengan teknik relaksasi biasa.

3. Gaman, Melatih Ketangguhan saat Menghadapi Kesulitan

Gaman merupakan konsep Jepang yang menggambarkan kemampuan menanggung kesulitan dengan kesabaran, pengendalian diri, dan martabat.

Dalam kehidupan, ada berbagai situasi yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
mengelola stres overthingking Jepang Kesehatan Mental

Komentar Pengguna