KebonCinta.com - Istilah serangan jantung kerap digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tiba-tiba ambruk dan kehilangan kesadaran. Padahal, kondisi tersebut bisa merupakan henti jantung. Keduanya sama-sama darurat, tetapi memiliki mekanisme dan tanda yang berbeda.
Memahami perbedaannya membantu masyarakat mengenali kondisi korban dan memberikan respons awal yang sesuai.
Menurut American Heart Association (AHA), serangan jantung terjadi ketika sumbatan menghambat aliran darah menuju bagian otot jantung. Akibatnya, jaringan tersebut kekurangan oksigen dan dapat mengalami kerusakan jika aliran darah tidak segera dipulihkan.
Pada serangan jantung, jantung biasanya masih berdetak. Korban juga dapat tetap sadar dan mampu berbicara meskipun mengalami keluhan.
Baca Juga: Nyeri Dada hingga Keringat Dingin, Kenali Gejala Serangan Jantung yang Perlu Diwaspadai
Gejalanya dapat berupa dada terasa tertekan atau diremas, nyeri menjalar ke lengan, punggung, leher, maupun rahang, sesak napas, keringat dingin, dan mual. Nyeri tidak selalu terbatas pada dada sebelah kiri.
Henti jantung terjadi ketika gangguan pada sistem listrik jantung membuatnya tidak mampu memompa darah secara efektif. Aliran darah menuju otak dan organ lain pun terhenti.
AHA menjelaskan bahwa tanda utamanya adalah korban mendadak tidak responsif dan tidak bernapas normal. Korban mungkin masih terlihat megap-megap, tetapi napas seperti ini bukan pernapasan normal. Kondisinya dapat memburuk dalam hitungan menit tanpa pertolongan.
Kedua kondisi ini memiliki hubungan, tetapi tidak selalu terjadi bersamaan. Serangan jantung dapat mengganggu irama jantung hingga memicu henti jantung.
Namun, banyak serangan jantung tidak langsung menyebabkan henti jantung. Sebaliknya, henti jantung juga dapat berkaitan dengan kondisi lain, seperti kelainan otot jantung atau gangguan irama jantung.
Baca Juga: 3 Jenis Teh yang Baik untuk Kesehatan, dari Membantu Tidur hingga Menjaga Jantung
Jika seseorang mengalami dugaan serangan jantung dan masih sadar, segera hubungi layanan darurat medis 119 atau ambulans rumah sakit terdekat. Kementerian Kesehatan menyediakan 119 sebagai akses bantuan kegawatdaruratan medis.
Hentikan aktivitas korban, bantu duduk bersandar dengan nyaman, dan pantau respons serta pernapasannya sambil menunggu petugas.
Apabila korban tidak responsif dan tidak bernapas normal, segera mulai resusitasi jantung paru atau RJP dengan mengikuti arahan operator. Gunakan AED jika tersedia sesuai petunjuk perangkat. RJP dan AED merupakan bagian penting pertolongan awal henti jantung sebelum tenaga medis tiba.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir