Selalu Dituntut Sempurna, Mengapa Anak Bisa Merasa Tidak Pernah Cukup Baik?

Selalu Dituntut Sempurna, Mengapa Anak Bisa Merasa Tidak Pernah Cukup Baik?

12 Oktober 2026 | 19:04

KebonCinta.com - Nilai sudah tinggi, tetapi komentar yang diterima anak justru, “Kenapa bukan seratus?” Ia memenangkan perlombaan, lalu langsung ditanya kapan bisa mencapai prestasi berikutnya. Ketika pencapaian terus dianggap kurang, anak dapat merasa usahanya tidak pernah benar-benar cukup.

Harapan orang tua memang dapat menjadi bagian dari pendampingan belajar. Namun, tuntutan yang sulit dipenuhi, terutama ketika penerimaan terasa bergantung pada hasil, perlu diperhatikan karena dapat membawa tekanan emosional.

Tuntutan Sempurna Membuat Harga Diri Bergantung pada Hasil

Penelitian Avi Assor, Guy Roth, dan Edward L. Deci dalam Journal of Personality pada 2004 membahas penerimaan bersyarat orang tua. Pada mahasiswa yang diteliti, persepsi tentang pola tersebut berkaitan dengan tekanan internal, perubahan harga diri, serta perasaan tidak disetujui orang tua.

Baca Juga: Ajak Anak Menghias Kamar, Kenalkan Proses Belajar Lewat Proyek Sederhana 

Temuan itu tidak berarti semua anak dengan orang tua berharapan tinggi akan mengalami persoalan serupa. Namun, penelitian tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan bagaimana harapan disampaikan dan dirasakan.

Sebagai ilustrasi, anak bisa mulai menganggap nilai rendah sebagai bukti bahwa dirinya mengecewakan, bukan sebagai informasi tentang materi yang belum dipahami.

Mengapa Anak Merasa Tidak Pernah Cukup Baik?

Perasaan tersebut dapat muncul ketika standar terus bergerak. Setelah satu target tercapai, tuntutan berikutnya hadir tanpa kesempatan menikmati atau mengakui kemajuan.

Dalam keadaan seperti ini, anak mungkin lebih fokus menghindari kesalahan daripada memahami proses belajar. Kepuasan atas keberhasilan pun dapat cepat berganti dengan kekhawatiran tentang pencapaian berikutnya.

Penjelasan ini merupakan kemungkinan pengalaman anak, bukan diagnosis. Orang tua perlu mendengarkan ceritanya sebelum menyimpulkan penyebab perubahan sikap.

Baca Juga: Anak Sering Diam Setelah Pulang Sekolah? Cara Mengajak Bicara Tanpa Memaksa 

Respons terhadap Kesalahan Anak Perlu Diperhatikan

Saat anak belum mencapai target, komentar sebaiknya diarahkan pada pekerjaan yang dapat diperbaiki. Misalnya, “Bagian mana yang masih sulit?” lebih membuka percakapan daripada menyebut anak malas atau mengecewakan.

Apresiasi juga dapat menyebut tindakan konkret: ia sudah berlatih, bertanya, atau memperbaiki jawaban. Dengan begitu, pembicaraan tentang pencapaian tetap terhubung dengan proses.

Hindari menjadikan prestasi saudara atau teman sebagai ukuran tunggal. Anak membutuhkan penjelasan tentang perkembangan dirinya sendiri.

Dampingi Anak dengan Harapan yang Realistis

Pengasuhan yang mendukung otonomi tetap dapat memiliki aturan dan target. Pendekatan teori determinasi diri menekankan pengakuan terhadap pengalaman anak, penjelasan alasan, serta keterlibatannya dalam mencari solusi.

Baca Juga: Anak Sedang Tantrum? Psikolog Ingatkan Orang Tua Jangan Ikut Marah, Begini Cara Meresponsnya 

Orang tua dapat menyepakati target bertahap berdasarkan kemampuan saat ini. Tanyakan pula apakah jadwal belajar memberi cukup ruang untuk istirahat.

Anak perlu mengetahui bahwa hasil yang belum sesuai harapan tidak mengurangi penerimaan terhadap dirinya. Percakapan yang memberi ruang bagi kesalahan membantu menempatkan pencapaian sebagai bagian dari belajar, bukan syarat untuk merasa berharga. 

Jika tekanan terus mengganggu kesehariannya, bantuan psikolog dapat dipertimbangkan bersama anak sesuai kebutuhannya.

 

Tags:
Orang Tua Pencapaian Anak Psikolog

Komentar Pengguna