KebonCinta.com - Menceritakan masalah pribadi kepada orang lain tidak selalu mudah. Ada kalanya seseorang ingin mengungkapkan perasaan, tetapi khawatir dianggap berlebihan, dihakimi, atau ceritanya diketahui orang lain.
Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda memilih kecerdasan buatan atau AI sebagai tempat bercerita. Melalui chatbot, mereka dapat menyampaikan keluhan dan memperoleh tanggapan tanpa harus berhadapan langsung dengan seseorang.
Pakar psikologi klinis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Muhammad Arif Rizai, menjelaskan bahwa ketertarikan menggunakan AI untuk curhat dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari kekhawatiran terhadap kerahasiaan hingga rasa penasaran.
Salah satu alasan seseorang enggan bercerita kepada teman atau keluarga adalah kekhawatiran mengenai kerahasiaan masalah pribadi.
Menurut Arif, sebagian pengguna merasa lebih nyaman menyampaikan persoalan kepada chatbot karena tidak perlu menghadapi kemungkinan cerita dibagikan oleh orang yang dikenalnya.
Percakapan dengan AI juga memungkinkan pengguna mengungkapkan perasaan tanpa merasa canggung.
Namun, kenyamanan tersebut bukan berarti informasi pribadi sepenuhnya aman. Pengguna tetap perlu memperhatikan risiko privasi dan menghindari membagikan data sensitif.
Baca Juga: Cara Memanfaatkan Kecerdasan Buatan Tanpa Kehilangan Sentuhan Manusiawimu
Alasan lainnya berkaitan dengan cara chatbot memberikan jawaban.
Arif menjelaskan bahwa sebagian anak muda menganggap respons AI menyerupai tanggapan psikolog atau konselor.
Ketika menerima cerita, chatbot dapat menyusun penjelasan, menawarkan saran, hingga memberikan langkah sederhana untuk menghadapi persoalan.
American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa AI dapat membantu pengguna mengorganisasi pikiran dan melakukan refleksi.
Meski demikian, respons yang terasa menenangkan tidak dapat disamakan dengan konsultasi psikolog profesional.
Baca Juga: Kecerdasan Buatan dan Krisis Identitas: Apa yang Tersisa Jika AI Bisa Melakukan Segalanya?
Tidak semua percakapan dengan AI berawal dari masalah serius. Sebagian pengguna mencoba chatbot karena penasaran terhadap kemampuannya.
Arif menyebut fenomena fear of missing out (FOMO) turut memengaruhi ketertarikan tersebut.
Pengguna mungkin sekadar ingin mengetahui bagaimana AI menanggapi cerita tentang aktivitas sehari-hari, kelelahan, atau pengalaman pribadi.
Kebiasaan ini menunjukkan bahwa alasan curhat kepada AI cukup beragam. Ada yang mencari ruang bercerita, membutuhkan bantuan menata pikiran, atau sekadar mencoba teknologi.
Baca Juga: Di Balik Kecerdasan Buatan: Apakah Data Kita Benar-Benar Aman di Era AI?
Meski menawarkan kemudahan, AI tetap perlu digunakan sebagai alat bantu tanpa mengabaikan hubungan sosial dan dukungan profesional ketika dibutuhkan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir