Khazanah
M. Panji Maulana

Sejarah Hari Santri Nasional dan Latar Belakang Penetapannya pada 22 Oktober

Sejarah Hari Santri Nasional dan Latar Belakang Penetapannya pada 22 Oktober

20 Oktober 2026 | 16:16

keboncinta.com- Setiap tanggal 22 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan ulama, santri, dan pondok pesantren dalam perjalanan sejarah bangsa. Peringatan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan memiliki latar belakang sejarah yang erat kaitannya dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pemilihan tanggal 22 Oktober tidak dilakukan secara kebetulan. Tanggal tersebut merujuk pada lahirnya Resolusi Jihad tahun 1945, sebuah seruan perjuangan yang berkaitan dengan peran KH Hasyim Asy'ari dan para ulama dalam menghadapi ancaman kembalinya penjajahan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Peristiwa tersebut juga menjadi bagian penting dari rangkaian sejarah yang mendahului Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

Namun, Hari Santri baru mendapatkan pengakuan resmi sebagai peringatan nasional pada 2015, atau 70 tahun setelah lahirnya Resolusi Jihad.

Bagaimana sebenarnya sejarah Hari Santri Nasional, mengapa tanggal 22 Oktober yang dipilih, dan bagaimana proses penetapannya oleh pemerintah?

Sejarah Perjuangan Santri Sebelum Kemerdekaan Indonesia

Sejarah Hari Santri tidak dapat dilepaskan dari keberadaan pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah berkembang di Nusantara sejak jauh sebelum Indonesia merdeka.

Selain menjadi tempat mempelajari ilmu agama, pesantren berperan dalam membentuk kehidupan sosial masyarakat melalui pendidikan, dakwah, dan pengembangan nilai-nilai keagamaan.

Pada masa penjajahan, sejumlah ulama dan jaringan pesantren juga terlibat dalam berbagai bentuk perlawanan terhadap kekuasaan kolonial.

Peran tersebut tidak selalu dilakukan melalui perjuangan bersenjata, tetapi juga melalui pendidikan, pembentukan kesadaran masyarakat, dan pengorganisasian kekuatan sosial.

Memasuki masa pendudukan Jepang, keterlibatan kalangan santri dalam persiapan perjuangan semakin berkembang. Salah satunya melalui pembentukan dan pelatihan Laskar Hizbullah yang kemudian berperan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Dengan demikian, keterlibatan santri pada 1945 merupakan bagian dari perjalanan panjang perjuangan masyarakat pesantren, bukan peristiwa yang muncul secara tiba-tiba.

Baca Juga: Pesantren dan Perannya dalam Perjalanan Sejarah Indonesia

Latar Belakang Lahirnya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945

Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun, kemerdekaan yang telah diumumkan belum berarti seluruh wilayah Indonesia terbebas dari ancaman kekuasaan asing.

Setelah Jepang menyerah dalam Perang Dunia II, pasukan Sekutu mulai memasuki Indonesia dengan tugas, antara lain, mengurus pelucutan tentara Jepang dan pemulangan tawanan perang.

Kedatangan tersebut menimbulkan ketegangan karena turut disertai unsur Netherlands Indies Civil Administration atau NICA, yaitu organisasi pemerintahan sipil Belanda yang berkepentingan memulihkan kekuasaan kolonial.

Situasi menjadi semakin genting di Surabaya.

Pada 19 September 1945, terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda di Hotel Yamato. Peristiwa ini menjadi salah satu simbol kuat penolakan rakyat terhadap kembalinya kekuasaan kolonial.

Dalam suasana tersebut, para ulama memandang bahwa kemerdekaan Indonesia harus dipertahankan.

Ancaman terhadap Republik yang baru berdiri kemudian mendorong munculnya seruan perjuangan dari lingkungan pesantren.

Pertemuan Para Ulama pada 21–22 Oktober 1945

Salah satu peristiwa penting berlangsung di Surabaya pada 21–22 Oktober 1945.

Berdasarkan penelitian Heriyanto yang diterbitkan dalam jurnal Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, para wakil atau konsul Nahdlatul Ulama dari Jawa dan Madura mengadakan pertemuan di kawasan Bubutan, Surabaya.

Pertemuan tersebut membahas situasi Indonesia setelah kemerdekaan, terutama ancaman kekuatan kolonial yang berusaha kembali menguasai wilayah Republik.

KH Hasyim Asy'ari mempunyai peran penting dalam memberikan landasan keagamaan bagi sikap mempertahankan kemerdekaan.

Dari pertemuan tersebut lahirlah keputusan yang kemudian dikenal sebagai Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

Resolusi ini menjadi salah satu pernyataan penting mengenai kewajiban umat Islam mempertahankan Republik Indonesia dalam konteks ancaman penjajahan.

Apa Isi Resolusi Jihad 1945?

Resolusi Jihad memuat sikap keagamaan sekaligus kebangsaan dalam menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan Indonesia.

Secara garis besar, pokok-pokok seruannya mencakup beberapa hal berikut.

  1. Kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 harus dipertahankan.
  2. Pemerintahan Republik Indonesia yang sah perlu didukung dan dilindungi.
  3. Upaya mengembalikan kekuasaan kolonial harus dihadapi dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
  4. Umat Islam diserukan mengambil bagian dalam pembelaan tanah air sesuai ketentuan yang dirumuskan para ulama ketika itu.

Dalam pembahasan sejarah Resolusi Jihad, terdapat pula ketentuan mengenai kewajiban individual atau fardhu ain bagi umat Islam yang berada dalam jarak tertentu dari wilayah pertempuran, serta kewajiban membantu perjuangan bagi masyarakat di luar wilayah tersebut.

Ketentuan ini harus dipahami sebagai bagian dari keadaan perang mempertahankan kemerdekaan pada 1945.

Resolusi Jihad bukanlah seruan kekerasan terhadap masyarakat yang berbeda keyakinan, melainkan respons historis terhadap ancaman penjajahan dan hilangnya kedaulatan negara.

Peran KH Hasyim Asy'ari dan Jaringan Pesantren

KH Hasyim Asy'ari merupakan salah satu tokoh sentral dalam sejarah Resolusi Jihad.

Ulama kelahiran Jombang tersebut dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Pengaruh keilmuannya serta jaringan hubungan dengan para kiai dan pesantren membuat seruan mempertahankan kemerdekaan memperoleh dukungan luas di kalangan masyarakat Muslim.

Namun, perjuangan tersebut bukan hasil tindakan satu tokoh saja.

Resolusi Jihad merupakan bagian dari gerakan bersama para ulama, santri, dan masyarakat yang berusaha mempertahankan Republik Indonesia.

Dalam perjuangan fisik, sejumlah santri turut bergabung melalui kelompok perjuangan, termasuk Laskar Hizbullah dan kemudian Laskar Sabilillah.

Keterlibatan mereka memperlihatkan bahwa pesantren tidak hanya mempunyai fungsi pendidikan keagamaan, tetapi juga berperan dalam kehidupan kebangsaan ketika kemerdekaan berada dalam ancaman.

Hubungan Resolusi Jihad dengan Pertempuran 10 November 1945

Resolusi Jihad mempunyai hubungan sejarah dengan Pertempuran Surabaya, meskipun keduanya merupakan peristiwa yang berbeda.

Setelah seruan pada 22 Oktober 1945, situasi keamanan Surabaya terus memburuk.

Pasukan Inggris mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Bentrokan antara pasukan Sekutu dan pejuang Indonesia kemudian meningkat pada akhir Oktober.

Pada 30 Oktober 1945, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas dalam peristiwa yang terjadi di tengah konflik Surabaya.

Ketegangan semakin meningkat hingga pasukan Inggris melancarkan serangan besar pada 10 November 1945.

Pertempuran tersebut melibatkan berbagai unsur pejuang Indonesia, termasuk tentara Republik, kelompok pemuda, laskar rakyat, serta kalangan santri.

Resolusi Jihad menjadi salah satu faktor yang menguatkan semangat mobilisasi perjuangan, tetapi bukan satu-satunya penyebab Pertempuran Surabaya.

Peristiwa 10 November mempunyai rangkaian latar belakang militer, politik, dan sosial yang lebih luas.

Tanggal 10 November kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, sedangkan 22 Oktober menjadi Hari Santri karena merujuk pada penetapan Resolusi Jihad.

Kronologi Penting Sejarah Hari Santri Nasional

Agar lebih mudah dipahami, berikut rangkaian peristiwa utama yang berkaitan dengan lahirnya Hari Santri Nasional.

TanggalPeristiwa
17 Agustus 1945Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
19 September 1945Insiden bendera di Hotel Yamato, Surabaya
21–22 Oktober 1945Pertemuan para ulama di Surabaya
22 Oktober 1945Penetapan Resolusi Jihad
25 Oktober 1945Pendaratan pasukan Inggris di Surabaya
10 November 1945Pertempuran besar di Surabaya
15 Oktober 2015Penandatanganan Keppres Nomor 22 Tahun 2015
22 Oktober 2015Deklarasi Hari Santri di Masjid Istiqlal, Jakarta

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa penetapan Hari Santri berkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa sekaligus proses pengakuan resmi oleh negara.

Mengapa Hari Santri Nasional Ditetapkan pada 22 Oktober?

Alasan utama pemilihan tanggal 22 Oktober tercantum secara jelas dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

Dalam bagian pertimbangannya, pemerintah menegaskan tiga landasan penting.

Pertama, pengakuan terhadap perjuangan ulama dan santri.

Pemerintah mengakui bahwa kalangan pesantren mempunyai kontribusi besar dalam perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan Republik Indonesia, dan mengisi kemerdekaan.

Kedua, upaya mengenang dan meneladani perjuangan tersebut.

Hari Santri ditetapkan untuk mengingatkan masyarakat mengenai pengorbanan para ulama dan santri sekaligus mendorong generasi berikutnya melanjutkan pengabdian kepada bangsa.

Ketiga, adanya momentum sejarah Resolusi Jihad.

Tanggal 22 Oktober merujuk pada seruan Resolusi Jihad tahun 1945 yang menegaskan kewajiban mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan.

Dengan demikian, pemilihan 22 Oktober memiliki landasan sejarah yang tercantum dalam keputusan resmi pemerintah.

Proses Penetapan Hari Santri oleh Presiden Joko Widodo

Perjalanan menuju penetapan Hari Santri berlangsung melalui aspirasi dan pembahasan yang melibatkan kalangan pesantren, organisasi masyarakat Islam, serta pemerintah.

Pada 2015, tanggal 22 Oktober menjadi salah satu usulan yang mengemuka karena kaitannya dengan Resolusi Jihad.

Setelah melalui proses pertimbangan, Presiden Joko Widodo menandatangani Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 pada 15 Oktober 2015.

Keputusan tersebut menetapkan bahwa Hari Santri diperingati setiap tanggal 22 Oktober.

Selanjutnya, pada 22 Oktober 2015, Presiden secara resmi mendeklarasikan Hari Santri Nasional di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Kegiatan deklarasi dihadiri para ulama, tokoh organisasi keagamaan, pejabat pemerintah, serta ribuan santri.

Dalam pidatonya, Presiden menekankan pentingnya meneladani semangat kebangsaan dan pengorbanan para pendahulu, sekaligus mendorong santri untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sejak saat itu, tanggal 22 Oktober diperingati secara nasional sebagai Hari Santri.

Apakah Hari Santri Nasional Termasuk Hari Libur?

Meskipun telah ditetapkan melalui keputusan presiden, Hari Santri bukan merupakan hari libur nasional.

Ketentuan tersebut tercantum secara tegas dalam diktum kedua Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Artinya, tanggal 22 Oktober merupakan hari peringatan nasional, bukan otomatis hari libur bagi sekolah, kantor, maupun masyarakat umum.

Peringatannya dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti upacara, kajian sejarah, kegiatan keagamaan, perlombaan, dan pengabdian sosial.

Pelaksanaan kegiatan resmi tetap perlu mengikuti pedoman instansi terkait.

Makna Hari Santri Nasional bagi Generasi Sekarang

Hari Santri bukan hanya tentang mengenang perjuangan bersenjata pada masa kemerdekaan.

Peringatan ini juga menjadi kesempatan untuk memahami bahwa pengabdian kepada negara dapat dilakukan melalui berbagai bidang kehidupan.

Jika para santri pada masa perjuangan menghadapi ancaman kolonialisme, generasi sekarang menghadapi tantangan yang berbeda.

Peningkatan mutu pendidikan, penguasaan teknologi, penguatan ekonomi masyarakat, dan pemeliharaan persatuan bangsa menjadi bagian dari tanggung jawab yang dapat dijalankan generasi santri masa kini.

Nilai keberanian, kedisiplinan, kepedulian, serta penghormatan terhadap ilmu pengetahuan tetap mempunyai relevansi.

Memahami sejarah Hari Santri juga membantu masyarakat melihat bahwa perjalanan kemerdekaan Indonesia melibatkan banyak kelompok dengan bentuk perjuangan yang beragam.

Pada akhirnya, penetapan Hari Santri Nasional merupakan bentuk penghargaan negara terhadap kontribusi ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa.

Tanggal 22 Oktober bukan sekadar penanda peringatan tahunan, melainkan pengingat bahwa mempertahankan dan mengisi kemerdekaan membutuhkan ilmu, persatuan, keberanian, serta pengabdian yang berkelanjutan.

Baca Juga: Mengapa Hari Santri Diperingati pada 22 Oktober? Mengenal Resolusi Jihad dan Latar Sejarahnya

Sumber Rujukan

  1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri, tersedia melalui JDIH BPK: https://peraturan.bpk.go.id/Details/54466/keppres-no-22-tahun-2015-hari-santri
  2. Sekretariat Kabinet RI, Bukan Hari Libur, Presiden Jokowi Tetapkan 22 Oktober Sebagai Hari Santri Nasional, 15 Oktober 2015: https://setkab.go.id/bukan-hari-libur-presiden-jokowi-tetapkan-22-oktober-sebagai-hari-santri-nasional/
  3. Sekretariat Kabinet RI, Deklarasikan Hari Santri Nasional, Presiden Jokowi Berharap Akan Perkuat Semangat Kebangsaan, 22 Oktober 2015: https://setkab.go.id/deklarasikan-hari-santi-nasional-presiden-jokowi-berharap-akan-perkuat-semangat-kebangsaan/
  4. Heriyanto, Resolusi Jihad NU 1945: Peran Ulama dan Santri dalam Mempertahankan Kemerdekaan NKRI, Jurnal Ilmu Sejarah, Universitas Negeri Yogyakarta, Vol. 2 No. 5 (2017): https://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/ilmu-sejarah/article/view/9452
  5. Sekretariat Kabinet RI, Pidato Presiden RI pada Deklarasi Hari Santri Nasional di Masjid Istiqlal, 22 Oktober 2015: https://setkab.go.id/pidato-presiden-ri-pada-deklarasi-hari-santri-nasiona-di-masjid-istiqlal-jakarta-22-oktober-2015/
Tags:
hari santri nasional Sejarah Hari Santri 22 Oktober Resolusi Jihad 1945 KH Hasyim Asy'ari Keppres 22 Tahun 2015 Santri Indonesia

Komentar Pengguna