KebonCinta.com — Ratusan santri menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran kitab dan kegiatan di dalam kelas.
Sebanyak 300 santri Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal Irsyad Wonosari turun langsung membersihkan kawasan Pantai Sepanjang di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan dilakukan sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Santri Nasional 2026 yang diperingati pada 22 Oktober.
Para santri berjalan menyusuri kawasan pantai sambil mengumpulkan berbagai jenis sampah.
Sampah yang ditemukan kemudian dikumpulkan ke dalam wadah yang telah disediakan.
Humas Pondok Pesantren Darul Qur'an Bahri Nur Fata menjelaskan kegiatan tersebut bukan sekadar kerja bakti.
“Sekitar 300 santri memungut berbagai jenis sampah,” ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan pesantren ingin membangun kebiasaan menjaga lingkungan melalui pengalaman langsung.
Konsep yang dikenalkan kepada santri adalah kesalehan ekologis.
Artinya, kepedulian kepada alam dipandang sebagai salah satu bentuk tanggung jawab manusia dalam menjalani kehidupan.
“Merawat dan menjaga alam termasuk dari kesalehan,” kata Bahri.
Menurutnya, nilai agama tidak semestinya hanya dipahami dalam hubungan manusia dengan Tuhan maupun hubungan antarmanusia.
Hubungan manusia dengan lingkungan juga perlu dijaga.
Santri karena itu diharapkan mempunyai kesadaran bahwa membuang sampah sembarangan dapat memberikan dampak terhadap masyarakat dan alam.
Pantai menjadi salah satu kawasan yang sangat mudah terdampak sampah.
Limbah plastik yang tertinggal dapat terbawa ombak kemudian masuk ke laut.
Dalam jangka panjang, sampah dapat mengganggu ekosistem serta mengurangi kenyamanan kawasan wisata.
Kegiatan bersih pantai juga memberikan pengalaman belajar yang berbeda kepada santri.
Mereka tidak hanya mendengar penjelasan mengenai kebersihan, tetapi langsung melihat jenis sampah yang ditemukan dan membersihkannya.
Salah seorang peserta, Aqil Mukhtar, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut.
Para santri bersama-sama memungut sampah yang berserakan untuk kemudian dikumpulkan di lokasi yang telah disiapkan.
Pondok pesantren berharap kebiasaan tersebut tidak berhenti setelah kegiatan selesai.
Nilai kepedulian terhadap lingkungan diharapkan tetap diterapkan ketika santri kembali ke lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Gerakan ini juga menjadi salah satu cara pesantren memperluas makna peringatan Hari Santri.
Peringatan tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga aksi yang manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat.
Santri dapat mengambil peran dalam persoalan lingkungan, sosial, pendidikan hingga pemberdayaan masyarakat.
Aksi 300 santri di Gunungkidul menjadi contoh sederhana.
Menjaga pantai mungkin dimulai dengan memungut satu botol plastik, tetapi kebiasaan menjaga lingkungan dapat menjadi pelajaran yang dibawa sepanjang kehidupan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir