KebonCinta.com - Tawaran kerja dengan gaji lebih tinggi belum tentu langsung diterima. Ada yang menghitung ongkos perjalanan, mempertimbangkan jam kerja, atau bertanya apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan kehidupan yang ingin dijalani.
Bagi Gen Z dan milenial, keputusan menerima pekerjaan dapat melibatkan beberapa kebutuhan sekaligus. Survei Deloitte Global 2025 terhadap 23.482 responden di 44 negara menemukan bahwa uang, makna pekerjaan, dan kesejahteraan menjadi pertimbangan yang saling berkaitan dalam keputusan karier kedua generasi.
Besaran gaji menjadi pertimbangan nyata ketika seseorang harus membayar tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari. Tawaran yang terlihat menarik perlu dibandingkan dengan biaya yang muncul untuk menjalani pekerjaan tersebut.
Baca Juga: Hari-Hari Gen Z dan Segelas Kopi
Survei Deloitte mencatat 48 persen responden Gen Z dan 46 persen milenial merasa belum aman secara finansial. Temuan ini memperlihatkan bahwa kebutuhan akan penghasilan yang memadai menjadi perhatian kedua kelompok, bukan hanya Gen Z.
Saat menilai tawaran, calon pekerja dapat mencermati gaji tetap, tunjangan, status kontrak, dan kejelasan pembayaran. Informasi tersebut membantu menilai kepastian penghasilan yang ditawarkan.
Pekerjaan yang terasa berarti dapat menjadi alasan seseorang menerima tawaran. Namun, makna tidak selalu harus berupa kontribusi besar kepada masyarakat.
Menurut Deloitte, sebagian responden memaknai pekerjaan sebagai kesempatan memperoleh penghasilan, menjaga keseimbangan hidup, atau mempelajari keterampilan. Sebanyak 89 persen Gen Z dan 92 persen milenial dalam survei tersebut menganggap tujuan atau makna penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.
Karena itu, gambaran milenial sebagai pencari makna dan Gen Z sebagai pencari gaji tidak perlu dipahami sebagai pembagian yang mutlak. Keduanya dapat mempertimbangkan kebutuhan tersebut secara bersamaan.
Baca Juga: Bukan Cuma Mengandalkan Buku, Ini Strategi Belajar Efektif untuk Gen Z
Jam kerja, lokasi, dan kemungkinan bekerja secara fleksibel dapat memengaruhi kecocokan sebuah tawaran. Gaji yang lebih besar mungkin terasa kurang menarik jika perjalanan terlalu panjang atau waktu pribadi sulit dijaga.
Dalam wawancara kualitatif survei Deloitte, sebagian Gen Z dan milenial menyebut keseimbangan hidup dan gaji lebih tinggi sebagai prioritas ketika tidak semua kebutuhan bisa terpenuhi sekaligus. Keduanya memberi waktu dan sumber daya untuk menjalani tujuan di luar pekerjaan.
Survei tersebut menggambarkan responden lintas negara, sehingga tidak dapat digunakan untuk menebak pilihan setiap pekerja Indonesia. Kebutuhan keluarga, keadaan keuangan, dan kondisi pribadi dapat membuat prioritas seseorang berbeda.
Sebelum berkata “ya”, calon pekerja perlu mengetahui kebutuhan yang paling penting baginya. Tawaran yang sesuai adalah tawaran yang dapat dinilai secara jelas: penghasilannya memadai, pengaturan kerjanya memungkinkan, dan perannya memiliki arti bagi kehidupan yang ingin dibangun. ***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir