Khazanah
Hilmi An Naufal

Punya 4.561 Santri, Ponpes Al Yasini Kelola 19 Unit Ritel hingga 10 Kantor KSPPS untuk Bangun Kemandirian

Punya 4.561 Santri, Ponpes Al Yasini Kelola 19 Unit Ritel hingga 10 Kantor KSPPS untuk Bangun Kemandirian

11 Oktober 2026 | 20:13

KebonCinta.com — Pondok pesantren kini tidak hanya berkembang sebagai pusat pendidikan agama.

Sejumlah pesantren mulai membangun kemandirian ekonomi agar kegiatan pendidikan dan sosial dapat berjalan secara lebih berkelanjutan.

Salah satu contohnya adalah Pondok Pesantren Terpadu Al Yasini di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Pesantren yang berdiri sejak 1940 tersebut kini mengasuh sekitar 4.561 santri.

Penguatan kemandirian dilakukan melalui koperasi pesantren dan berbagai unit usaha produktif.

“Saat ini, Kopontren Al Yasini memiliki 19 unit retail,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al Yasini Nanik Asnawati.

Selain toko ritel, pesantren juga memiliki produk air minum dalam kemasan.

Al Yasini turut mengembangkan Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah atau KSPPS dengan 10 kantor layanan.

Pengembangan usaha tersebut diarahkan untuk menopang kebutuhan pesantren sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat.

Kopontren Al Yasini berhasil meraih Juara 1 Koperasi Berprestasi Jawa Timur kategori kopontren mandiri.

Pesantren juga memperoleh Juara 1 Santripreneur Nasional kategori perdagangan pada 2026.

Namun ukuran keberhasilan usaha menurut pengelola pesantren tidak hanya dilihat dari keuntungan.

“Manfaat usahanya disalurkan setiap tahun melalui beasiswa santri tahfidz, santri berprestasi, bantuan seragam dan fasilitas belajar,” kata Nanik.

Program sosial juga menyentuh masyarakat di luar lingkungan pesantren.

Sedikitnya 1.000 paket sembako disebut dibagikan setiap Ramadan.

Baca Juga: Jarang Bergerak Bikin Tubuh Lesu, Ini 5 Manfaat Olahraga untuk Fisik dan Mental 

Pesantren juga menyalurkan hewan kurban serta membantu pembangunan dan renovasi fasilitas masyarakat.

Al Yasini turut mengembangkan wakaf uang dan dana abadi berbasis syariah.

Skema tersebut diarahkan untuk memperkuat keberlanjutan program pendidikan dan pengabdian.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengapresiasi upaya pesantren membangun kemandirian.

“Melalui Ditjen Pontren ini, kita berharap agar Kemenag terus bisa lebih mengangkat martabat dan memajukan pondok pesantren di Indonesia,” ujar Nasaruddin Umar.

Ia menilai penguatan kelembagaan penting agar pesantren dapat berkembang dalam bidang pendidikan, ekonomi maupun pemberdayaan masyarakat.

Perkembangan Al Yasini juga tidak berhenti pada sektor ekonomi.

Pesantren mulai mengembangkan inovasi digital dan konsep pesantren ramah lingkungan.

Gerakan Eko Pesantren menjadi salah satu program yang didorong untuk menghubungkan pendidikan agama dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pesantren dapat tetap mempertahankan tradisi keilmuan sambil beradaptasi terhadap perkembangan zaman.

Santri tidak hanya mempelajari ilmu agama.

Mereka juga dapat mengenal kewirausahaan, pengelolaan ekonomi syariah, teknologi dan kepedulian sosial.

Model kemandirian seperti ini diharapkan membuat pesantren mempunyai sumber pembiayaan yang lebih beragam.

Dengan demikian, sebagian kebutuhan pendidikan tidak hanya bergantung pada satu sumber pendanaan.

Bagi santri, keberadaan unit usaha juga dapat menjadi tempat belajar mengenai dunia ekonomi secara langsung.

Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat atau membangun usaha setelah menyelesaikan pendidikan.

Kisah Al Yasini memperlihatkan bahwa kemandirian pesantren bukan berarti berjalan sendiri tanpa dukungan pihak lain.

Sebaliknya, pesantren membangun kemampuan internal agar manfaat pendidikan dan kegiatan sosial dapat menjangkau masyarakat semakin luas.

Tags:
pesantren Santri Al Yasini kemenag Kopontren Santripreneur Ekonomi Syariah Pasuruan

Komentar Pengguna