Khazanah
Rahman Abdullah

Puasa Qadha Ramadhan: Bacaan Niat, Waktu Pelaksanaan, dan Batas Akhir Menggantinya

Puasa Qadha Ramadhan: Bacaan Niat, Waktu Pelaksanaan, dan Batas Akhir Menggantinya

17 Oktober 2026 | 13:54

KebonCinta.com-- Menjelang datangnya bulan Ramadhan, umat Islam yang masih mempunyai utang puasa perlu mulai menyusun rencana untuk menunaikannya. Puasa yang ditinggalkan karena alasan syar’i, seperti sakit, perjalanan jauh, haid, atau nifas, tidak serta-merta menghapus kewajiban berpuasa. Bagi mereka yang memiliki kewajiban qadha, puasa tersebut harus diganti sesuai ketentuan agama.

Mengganti puasa Ramadhan atau puasa qadha menjadi bagian dari tanggung jawab seorang muslim dalam menyempurnakan ibadah wajib. Karena itu, memahami bacaan niat, waktu berniat, tata cara pelaksanaan, hingga batas waktu penggantian puasa sangat penting agar kewajiban tersebut dapat ditunaikan dengan benar.

Baca Juga: Janissari, Pasukan Elite Turki Utsmani yang Ditakuti Dunia, Ini Sejarah dan Kontroversinya 

Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadhan dan Artinya

Niat merupakan bagian penting dalam menjalankan puasa wajib. Niat puasa qadha dapat dihadirkan di dalam hati, sedangkan melafalkannya diperbolehkan sebagai bentuk bantuan untuk meneguhkan maksud beribadah.

Berikut bacaan niat puasa qadha Ramadhan yang umum digunakan:

Arab:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta’ala.

Artinya:

“Aku berniat berpuasa esok hari untuk mengganti puasa wajib bulan Ramadhan karena Allah Ta’ala.”

Lafal tersebut dapat membantu mengingat tujuan ibadah. Namun, yang terpenting adalah adanya niat di dalam hati untuk melaksanakan puasa qadha sebagai kewajiban kepada Allah SWT.

Kapan Niat Puasa Qadha Harus Dibaca?

Puasa qadha termasuk puasa wajib sehingga niatnya perlu ditetapkan pada malam hari. Waktunya dimulai setelah matahari terbenam atau masuk waktu Maghrib hingga sebelum terbit fajar, yaitu sebelum waktu Subuh.

Ketentuan ini membedakan puasa wajib dari sejumlah puasa sunnah yang memiliki kelonggaran waktu niat menurut ketentuan fikih.

Oleh sebab itu, orang yang hendak mengganti puasa Ramadhan sebaiknya tidak menunggu hingga pagi untuk berniat. Menetapkan niat sejak malam hari juga membantu menjaga kesiapan menjalankan ibadah keesokan harinya.

Baca Juga: Rangkuman Materi Ekonomi untuk TKA, dari Konsep Dasar sampai Perdagangan Internasional 

Dalil Kewajiban Mengganti Puasa Ramadhan

Kewajiban qadha dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 184. Ayat tersebut menerangkan bahwa orang yang sakit atau sedang bepergian dan tidak berpuasa dapat menggantinya pada hari-hari lain sebanyak hari yang ditinggalkan.

Ketentuan serupa juga dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, yang menegaskan kewajiban mengganti puasa bagi orang yang tidak dapat menjalankannya karena sakit atau perjalanan.

Dalam hadis riwayat Aisyah RA, disebutkan bahwa beliau pernah menunda penyelesaian puasa qadha hingga bulan Syakban. Riwayat ini menjadi salah satu rujukan mengenai pelaksanaan qadha sebelum datangnya Ramadhan berikutnya.

Dengan demikian, keringanan untuk tidak berpuasa ketika memiliki uzur syar’i bukan berarti kewajibannya hilang. Puasa yang ditinggalkan tetap perlu diganti sesuai ketentuan yang berlaku.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menjalankan Puasa Qadha

Agar pelaksanaan puasa qadha lebih tertib, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan.

  1. Laksanakan di luar bulan Ramadhan. Puasa qadha dilakukan pada hari lain setelah Ramadhan, selama bukan pada waktu yang dilarang untuk berpuasa.
  2. Hindari hari yang diharamkan untuk berpuasa. Di antaranya Idul Fitri dan Idul Adha, serta hari-hari lain yang memiliki larangan khusus menurut syariat.
  3. Usahakan makan sahur. Sahur bukan syarat sah puasa, tetapi dianjurkan untuk membantu menjaga tenaga selama berpuasa.
  4. Jauhi hal-hal yang membatalkan puasa. Ketentuan puasa wajib tetap berlaku selama menjalankan qadha.
  5. Isi waktu dengan amal baik. Membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, dan melakukan kebaikan lainnya dapat menjadi pendamping ibadah.
  6. Segera berbuka ketika waktunya tiba. Puasa qadha berakhir saat matahari terbenam, sebagaimana puasa pada umumnya.

Sampai Kapan Puasa Qadha Harus Diselesaikan?

Sebaiknya, utang puasa diselesaikan sebelum Ramadhan berikutnya tiba. Menyegerakan qadha membantu seseorang menghindari penumpukan kewajiban dan mengurangi risiko lupa terhadap jumlah hari yang belum diganti.

Apabila seseorang menunda qadha tanpa alasan yang dibenarkan hingga Ramadhan berikutnya datang, kewajiban mengganti puasanya tetap ada. Menurut pendapat mayoritas ulama dalam mazhab Syafi’i, orang tersebut juga wajib membayar fidyah untuk setiap hari yang ditunda tanpa uzur. Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai rincian kewajiban fidyah, sehingga seseorang dapat meminta penjelasan kepada ustaz atau lembaga keagamaan yang tepercaya sesuai keadaan yang dihadapi.

Adapun jika penundaan terjadi karena uzur yang terus berlangsung, seperti sakit yang belum memungkinkan untuk berpuasa, ketentuannya dapat berbeda. Karena itu, kondisi setiap orang perlu diperhatikan sebelum menetapkan kewajiban tambahan.

Baca Juga: Materi TKA PKN yang Perlu Dipelajari, Ini Panduan Persiapan dan Contoh Topiknya 

Apakah Puasa Qadha Bisa Bersamaan dengan Puasa Sunnah?

Puasa qadha terkadang bertepatan dengan hari yang dianjurkan untuk berpuasa sunnah, seperti Senin dan Kamis. Dalam keadaan tersebut, niat utama sebaiknya diarahkan untuk menunaikan kewajiban qadha terlebih dahulu.

Sebagian ulama membolehkan seseorang mengerjakan puasa wajib pada hari yang juga memiliki keutamaan puasa sunnah. Ada pula pembahasan fikih mengenai kemungkinan memperoleh pahala dari keutamaan hari tersebut ketika puasa qadha dilakukan bertepatan dengannya. Rincian hukumnya dapat berbeda menurut jenis puasa sunnah dan pandangan ulama yang diikuti.

Khusus puasa enam hari di bulan Syawal, terdapat pembahasan tersendiri mengenai penggabungan niat dan keutamaan pahalanya. Karena itu, umat Islam yang masih memiliki utang puasa sebaiknya memahami perbedaan pendapat tersebut atau berkonsultasi dengan ahli agama.

Utamakan Menyelesaikan Utang Puasa Sebelum Ramadhan

Puasa qadha bukan sekadar mengganti hari puasa yang terlewat, melainkan juga bentuk kesungguhan dalam memenuhi kewajiban ibadah. Dengan mengetahui niat, waktu pelaksanaan, serta batas penyelesaiannya, umat Islam dapat mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan lebih tenang.

Jika masih memiliki tanggungan puasa, catat jumlah hari yang perlu diganti dan susun jadwal pelaksanaannya sesuai kemampuan serta kondisi kesehatan.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Puasa Qadha Niat Puasa Qadha Qadha Ramadhan

Komentar Pengguna